BALI EXPRESS, MANGUPURA - Tarian Sang Hyang Jaran, salah satu tarian sakral yang pementasannya tidak dilakukan sembarang, karena ada misi khusus yang terkait erat, seperti yang dilaksanakan di Pura Dalem Solo, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Badung, Rabu (16/11/2016) lalu. Lantas, apa misi yang diemban dalam tari ini?
Salah satu panglingsir di Pura Dalem Solo I Gusti Ngurah Ketut Sarga, 67, mengungkapkan, bahwa tarian Sang Huang Jaran berhubungan erat dengan upacara nangluk merana atau penolak wabah di masyarakat sekitar Pura Dalem Solo. Wabah yang dimaksud, mencakup penyakit yang menimpa masyarakat dan juga hama yang merusak persawahan.
Di Bali khususnya, pada sasih kalima (kelima), kaenam (keenam), hingga kapitu (ketujuh) dianggap sasih yang riskan karena kondisi alam yang kerap berubah-ubah. Puncaknya adalah sasih kaenam, masyarakat tak jarang terserang wabah penyakit, seperti demam, pilek, demam berdarah, dan sebagainya karena curah hujan yang tinggi. Sebagai masyarakat religius, tak jarang masyarakat Bali mengaitkan sakit yang timbul dengan fenomena gaib. Oleh karena itu, pada sasih ini biasanya dilaksanakan upacara pacaruan.
Berkenaan dengan hal itu, tari Sang Hyang Jaran tersebut hanya dipentaskan saat sasih kelima atau kaenam, pun harus bertepatan dengan hari suci tertentu. “Seperti sekarang, rahina kajeng kliwon, bahkan bersamaan dengan rahina Buddha (hari Rabu). Odalannya di sini kan Buddha Kliwon Pagerwesi atau Buddha Kliwon Sinta. Jadi sekarang dadinaan-nya,” jelasnya, ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) saat pementasan, Rabu (16/11) lalu. Di samping Kajeng Kliwon, ia mengatakan bisa juga saat Purnama atau Tilem.
Lebih lanjut ia mengatakan, tarian Sang Hyang Jaran dimaksudkan agar yang mengacau dan merusak lingkungan masyarakat itu menonton, sehingga ia lupa untuk menyakiti masyarakat dan merusak tumbuh-tumbuhan yang ditanam. Tarian tersebut tidak menutup kemungkinan dilaksanakan lebih dari sekali. “Kalau ada pawisik agar digelar tiga kali atau lebih, itu tidak boleh diganggu gugat,” ungkapnya.
Sebelum tarian pertama digelar setiap tahunnya, lanjutnya, warga macaru di mrajan, di rumah, di lebuh, dan di pura. Warga kemudian ke pura membawa benang tridatu dan nunas tirta di pura. Usai tarian Sang Hyang Jaran, tirta tersebut akan dicipratkan di rumah dan sawah.
Di dalam Tari Sang Hyang Jaran, selain upakara, nyanyian pengiringnya menjadi salah satu kunci untuk membuat warga karauhan atau trance. Nyanyian yang sakral tersebut diulang-ulang dengan ritme yang diatur sedemikian rupa hingga secara tidak langsung akan mengaktifkan energi seseorang hingga jadi trance atau karauhan. Salah satu nyanyian yang kerap digunakan berjudul “Made Cenik”. Meskipun nyanyian ini kerap dinyanyikan oleh anak-anak, namun ternyata memiliki sisi yang sakral.
Wakil Ketua Pelestarian Warisan Cagar Budaya Pura Dalem Solo tersebut menjelaskan, ada beberapa nyanyian yang dilantukan untuk mengiringi tari Sang Hyang Jaran. Nyanyian pertama berisi bait-bait untuk mengundang Sang Hyang Jaran supaya ada salah satu yang dimasuki rohnya. “Setelah itu dia akan mandi api, tapi sedikitpun tidak terbakar,” ungkapnya. Lagu tersebut menurutnya ada banyak, tapi yang diambil biasanya tiga saja. “Penari Sang Hyang Jaran kemudian bergerak sesuai nyanyian tersebut. Meski matanya terpejam, namun gerakannya sangat lincah, seolah-olah matanya terbuka," bebernya.
Pernah suatu ketika dikatakan I Gusti Ngurah Ketut Sarga, saat itu ada warga yang tidak ikut sembahyang di pura dan sedang berada jauh dari lokasi. Namun, karena mendengar suara nyanyian tersebut sayup-sayup, yang bersangkutan tiba-tiba karauhan dan berlari ke pura. “Langsung berlari dan sampai di pura karauhan,” ujarnya.
Tidak seperti sekarang yang hanya dibatasi di jaba pura, penari Sang Hyang Jaran pada zaman dahulu dikatakannya dilepaskan begitu saja di desa. Penari yang karauhan tersebut akan berkeliling di desa dan masuk ke pekarangan maupun areal sawah. “Nah, kalau sudah seperti itu, warga akan mengikuti sambil melantunkan nyanyian. Makin kencang nyanyiannya, makin kuat tenaga si penari. Oleh karena itu nyanyiannya tidak boleh lemah,” paparnya. Bahkan, menurutnya, si penari akan langsung menyasar orang-orang yang sedang mempraktikkan ilmu hitam.
Tarian ini digelar secara rutin setiap tahunnya oleh pangempon Pura Dalem Solo. Sarga mengatakan pada saat pecahnya peristiwa G30S/PKI, selama beberapa tahun tarian Sang Hyang Jaran sempat vakum karena suasana mencekam. “Akhirnya wabah pun menyerang. Banyak warga yang sakit dan panen pun gagal,” jelasnya. Akhirnya ketika situasi mulai pulih, tarian tersebut kembali digelar hingga kini.
Editor : I Putu Suyatra