BALI EXPRESS, KUBUTAMBAHAN - Upacara nampah batu ini erat kaitannya dengan menek desa bagi krama anyar. Saat upacara berlangsung, krama anyar wajib mengambil batu yang merupakan babi duwe milik Ratu Ayu Manik Galih. Namun terlebih dahulu ada transaksi jual beli antara krama anyar dengan ulun desa. Krama anyar sebagai pembeli batu (babi duwe, Red) sedangkan Ulun Desa sebagai penjual.
Saat upacara nampah batu dilaksanakan pada Purnama Sasih Karo, tepatnya 7 Agustus lalu, tercatat 150 pasang krama anyar mengikuti upacara di Pura Puseh Desa Depeha, Kubutambahan, Buleleng. Prosesinya pun dilakukan secara bertahap. Semua krama anyar diwajibkan mengikuti setiap tahapan tanpa terkecuali secara utuh.
Menurut tokoh desa setempat, Jro Ketut Juena, pada hari Purwani, yakni sehari sebelum upacara ini dilaksanakan, krama anyar melaksanakan maturpiuning (pemberitahuan) di Pura Bale Agung (Pura Desa). Secara administratif untuk dicatat dalam daftar Tulud Apuh oleh Jero Penyarikan (sekretaris desa Pekraman, Red) sehingga resmi masuk menjadi anggota warga desa Pakraman Depeha.
Selanjutnya, tepat pada Puranama Sasih Karo, krama anyar melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Puseh. Kemudian bergeser menuju Pura Yeh Kedis yang berada di seberang jalan, tepat di belakang Pura Puseh.
“Di sinilah pasangan pengantin dari krama anyar berjanji di hadapan Dewi Ida Ratu Ayu Manik Galih. Intinya secara bersungguh-sungguh mengikuti rangkaian upacara nampah batu. Selain itu siap mengabdikan diri secara lahir dan batin menjadi warga Desa Depeha, yang disaksikan oleh para ulun desa”, ujar Jro Ketut Juena.
Seusai melakukan persembahyangan, krama anyar khususnya kaum laki laki, bersama-sama mencari batu seukuran babi untuk dijadikan sarana upacara nampah batu. Mereka mencari batu di areal Pura Yeh Kedis. Tak berselang lama, ratusan warga sudah berhasil menemukan sebuah batu besar seukuran babi.
“Sebelum batu atau babi duwe dibawa ke areal jaba tengah Pura Puseh, krama anyar wajib melakukan transaksi tawar-menawar. Setelah harga dirasa cocok, krama anyar harus membayar sesuai kesepakatan dengan sejumlah uang kepada ulun desa. Misalnya batu itu dihargai oleh ulun desa sebesar Rp 200 ribu. Langsung dibayar, uangnya diserahkan kepada ulun desa. Barulah babi duwe bisa digotong bersama-sama ke Pura Puseh,” katanya.
Uniknya selama batu tersebut digotong, krama anyar tak henti-hentinya bersuara menyerupai seekor babi yang meronta-ronta minta dilepaskan. “Suara itu secara spontan keluar dari krama anyar bersuara layaknya seekor babi, guwek.. guwek... guwek sampai di areal jaba pura Pura Puseh. Benar-benar menyerupai babi. Mereka pun secara tidak sadar jika dirinya menirukan suara babi,” kata Jro Juena sembari menirukan suara babi.
Sesampainya di Pura Puseh batu tersebut diberikan tirta banyuawangan. Dilanjutkan dengan pemberian tanda tapak dara pada leher babi duwe menggunakan kapur sirih. Dalam acara motong babi (nampah batu) krama anyar diberikan tugasmemegang kakinya. Ada juga yang memegang kepalanya, sama seperti memotong babi biasa.
“Ada mantram yang diucapkan saat mau memotong: kalingania wwang muah sahanannia tan sida kaprajaya, watu ika sidha paprajaya, artinya jangankan manusia dan yang sejenisnya tidak bisa dibunuh, batu sekalipun bisa dibunuh,” ucap Jro Juena.
Sedangkan kaum perempuan krama anyar ikut mempersiapkan sarana upacara, berupa lelampadan yang terdiri dari sayur-sayuran seperti kacang panjang, bayam, kangkung, tauge dan pakis.
“Sayuran lelampadan inilah yang disimbolkan sebagai daging babi. Nah apabila semua sarana sudah lengkap, barulah dilaksanakan persembahyangan bersama di Pura Puseh. Sayur lelampadan seusai dipersembahkan kemudian dimakan secara megibung oleh krama anyar. Ini maknanya untuk mempererat rasa menyama braya bagi krama anyar,” beber Jro Juena.
Pertanyaannya, batu yang pernah dijadikan sarana nampah batu dibawa kemana? Jro Juena menuturkan batu yang disimbolkan sebagai seekor babi tersebut selanjutnya disimpan di areal jaba tengah Pura Puseh. Uniknya, batu tersebut selalu hilang secara misterus setelah 3 hari pasca upacara nampah batu digelar.
“Berdasarkan pengalaman sebelumnya batu-batu yang pernah dijadikan sebagai sarana ritual itu selalu hilang secara misterius. Hilangnya tiga hari setelah upacara dilaksanakan. Kami pun tak ada yang berani coba-coba memindahkan. Itu hilang dengan sendirinya,” terang mantan Kelian Desa Pakraman Depeha ini.
Pria yang masih aktif menyusun kalender Bali ini tak menepis jika batu-batu yang berserakan di areal Pura Yeh Kedis sangatlah dikeramatkan. Beberapa kali terjadi peristiwa mistis yang tak masuk di akal sehat.
“Batu-batu di sana itu adalah babi, kalau sedang melintas di depan Pura Yeh Kedis, wajib membunyikan klakson. Sebab jika tidak, babi secara niskala bisa saja tertabrak, tentu akibatnya sangat fatal. Bisa saja pengendara motor terjatuh atau motor tiba-tiba mogok. Soalnya sudah banyak yang mengalami,” kenangnya.
Dirinya pun berpesan agar jangan sekali-sekali mengambil batu yang ada di areal Pura Yeh Kedis tersebut. Dengan dalih apa pun itu. Sebab keskralannya sudah teruji. Bahkan, berdasarkan pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa batu besar tersebut diselimuti saput poleng (kain hitam putih, Red).
“Dulu pernah ada kendaraan tidak bisa naik di tanjakan yang ada di depan Pura Yeh Kedis. Kemudian, salah seorang penumpang mengambil batu di sekitar pura itu untuk mengganjal kendaraannya. Setelah berhasil, mereka melanjutkan perjalanannya dengan membawa pulang batu yang digunakan untuk mengganjal kendaraannya. Berselang beberapa waktu, orang tersebut jatuh sakit dalam waktu yang cukup lama. Dia tidak kunjung sembuh, padahal ia sudah berobat secara medis (dokter). Akhirnya, atas petunjuk orang pintar (dukun), dia tahu bahwa sakit yang dideritanya disebabkan dia mengambil batu di sekitar kawasan Yeh Kedis Desa Depeha. Setelah mengetahuinya, ia mengembalikan batu ke tempat asalnya dengan disertai upacara guru piduka,“ ujarnya.
Di sisi lain, Jro Ketut Juena juga menyebut, jika upacara nampah batu erat kaitannya untuk memohon kesuburan ke hadapan Dewa Wisnu yang berstana di Pura Puseh dengan Dewi Sri dalam perwujudannya sebagai Ratu Ayu Manik Galih, yang berstana di Pura Yeh Kedis.
“Dewi Sri sebagai lambang kemakmuran, memohon anugrah, dan kesejahteraan serta menghalau segala rintangan untuk seluruh masyarakat Desa Pakraman Depeha. Dengan menghaturkan segala hasil bumi yang dihasilkan selama satu tahun, ini mencerminkan ungkapan rasa terima kasih atas hasil bumi yang berlimpah,” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra