BALI EXPRESS, BANJAR - Ratusan Krama Desa Adat Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng berduyun-duyun menuju Pura Bale Agung pada Selasa (5/9). Tak hanya sekadar ke pura, di bahunya mereka tengah membawa tegen-tegenan.
Tegen-tegenan merupakan sebatang kayu yang kedua ujungnya digantungkan hasil bumi dan pertanian khas sidatapa secara seimbang. Hasil bumi yang digantungkan mulai dari pala bungkah seperti berbagai jeni umbi-umbian, keladi, singkong, ubi dan lainnya. Ada pala gantung berupa durian, manggis, ceroring, nanas. Ada isinya berupa biji-bijian seperti biji jail, jawo, godem dan padi-padian.
Berdasarkan peraturan adat, Krama Desa Sidatapa wajib membawa tegen-tegenan. Tegen-tegenan ini sebagai wujud rasa syukur atas hasil pertanian yang berlimpah bagi masyarakat Desa Sidatapa.
Tarian Gandrung dan Tari Sanghyang langsung dipentaskan saat tegen-tegenan yang dibawa warga sudah terkumpul di areal Pura Bale Agung. Bahkan kedua tarian sakral ini dipentaskan secara nonstop selama 42 hari di Pura Bale Agung.
Begitu kedua tarian sakral selesai dipentaskan, barulah warga desa adat menggelar persembahyangan dibawah tegen-tegenan tadi yang sudah menggunung. Persembahyangan dan ritualnya dipimpin langsung oleh balian gede dan balian penyanding.
Penyarikan Desa Adat Sidatapa, Nyoman Parma mengungkapkan jika tradisi tegen-tegenan ini merupakan rangkaian akhir, tepatnya hari ke-42 dari upacara nyomia bhuta yang digelar oleh krama Sidatapa. Tradisi tegen-tegenan ini dijadikan sebagai momentum untuk menyomia bhuta kala agar tidak menggangu kehidupan masyarakat, tetapi bisa bersinergi di segala sendi kehidupan.
“Tradisi Tegen-tegenan sebagai rangkaian dari 42 hari krama Sidatapa menyomia bhuta kala. Tegen-tegenan ini dipersemebahkan kepada para Dewa dan Dewi yang bersthana di Gunung Raung. Warga meyakini, Dewa yang bersthana di Gunung Raung adalah I Dewa Agung Gunung Raung. Pantangannya, bagi mereka yang cuntaka (kotor niskala, Red) dilarang mengeluarkan tegen-tegenan ini,” ujar Parma.
Wayan Ariawan selaku tokoh masyarakat Desa Sidatapa mengungkapkan tradisi di bidang agraris ini sudah dilakoni masyarakat secara turun-temurun. Meski tidak ada catatan sejarah secara tertulis, namun tradisi ini diyakini untuk memohon kesuburan kepada leluhur agar diberikan panen yang berlimpah.
“Sebagian besar krama Sidatapa bekerja sebagai petani. Ada juga mengolah hasil pertanian dan kerajinan bambu. Tradisi ini sudah kami terima secara turun temurun. Ini sebagai wujud syukur kami atas hasil bumi dan pertanian yang berlimpah. Sehingga masyarakat makmur. Tentu tradisi ini juga menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Sidatapa yang juga sebagai Desa Bali Aga,” ujar Ariawan yang juga penggiat pariwisata.
Menurutnya tradisi ngaturang tegen-tegenan ini sebagai representasi dari kehidupan petani yang sederhana. Kemudian cara mensykuri pun dilakukan secara sederhana melalui tegen-tegenan. “Kehidupan seorang petani cukup sederhana. Mengolah tanah, merawat tanaman kemudian panen lalu dipersembahkan. Ini sebagai wujud hormat kepada leluhur atas limpahan rahmatnya,” imbuh Ariawan.
Pihaknya pun berharap agar tradisi ini senantiasa dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan dilandasi atas sradha bakti, sehingga di musim depan krama Sidatapa kembali bisa memanen tanamannya dengan hasil yang berlimpah.
Editor : I Putu Suyatra