BALI EXPRESS, DENPASAR - Pura Taman Sari Swagina yang berada di sebelah selatan Gedung Gelanggang Olahraga (GOR) Ngurah Rai, Denpasar, tidak diketahui pasti kapan dibangun. Namun, yang pasti bahwa pura ini bermuasal dari Pura Pangulun Sawah, yang menjadi pemujaan semua petani yang ada di kawasan, Kreneng, Denpasar.
Seiring perkembangan zaman, keberadaan petani mulai tergerus dan terpinggirkan. Hal ini mengakibatkan pangempon (yang memuja, mengurus, dan bertanggung jawab) Pura Pangulun Sawah semakin berkurang.
Pemangku Pura Taman Sari Swagina, Drs. Ida Bagus Gede Arsandi kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (27/12/2016) lalu, mengatakan, Pura Pangulun Sawah ini diubah namanya mejadi Pura Taman Sari Swagina. Hal ini disebabkan oleh minimnya jumlah petani yang menjadi pangempon pura yang mulanya dinamai Pura Pangulun Sawah. Sehingga, palinggih Ida Bhatari Sri yang merupakan Dewa Kesuburan yang berstana di Pura Pangulun Sawah dituntun (dikembalikan). “Palingih Bhatari Sri dituntun dan distanakan di Pura Pangulun Sawah yang berada di kawasan Jalan Nangka, Denpasar,” beber Mangku Arsandi. Oleh karena Bhatari Sri sudah dituntun ke pura yang berada di Jalan Nangka, lanjutnya, maka pura kini dinamakan Pura Taman Sari Swagina. Taman Sari memiliki arti telaga yang mengelilingi kawasan pura. Namun, pada kenyataanya, pura ini tidak dikelilingi oleh telaga dan dibuatkan telaga kecil di jroan pura sebagai simbol Taman Sari. Sedangkan nama Swagina memiliki makna bahwa siapa saja boleh melakukan pemujaan atau persembahyangan di pura ini. “Baik yang berprofesi sebagai petani, pegawai kantoran, guru maupun siswa tak jarang tangkil ke pura ini,” ujar pria yang juga mantan guru SMAN 1 Denpasar ini.
Mangku Arsandi menuturkan, pura ini memiliki beberapa pelinggih di dalamnya. Yang pertama adalah Palinggih Padmasari, merupakan tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Selanjutnya di sebelah barat Palinggih Padmasari ada Palinggih Ida Bhatara Rambut Sedana. Palinggih ini merupakan sarana pemujaan untuk Bhatara Rambut Sedana atau Dewa Uang. Kemudian di sebelah baratnya lagi, terdapat Palinggih Paruman, tempat singgah dari para Dewa yang kebetulan melewati pura ini.
Selanjutnya, ada Palinggih Ida Bhatara Dalem Ped, sarana pemujaan Ida Bhatara Dalem Ped yang berada di Nusa Penida. Sedangkan di sisi paling barat terdapat sebuah pohon Beringin besar, konon batang dan daun beringin tersebut merupakan ular. “Hal ini hanya bisa dilihat oleh seseorang yang berkemampuan khusus,” jelasnya. Di bawah pohon Beringin besar ini terdapat sebuah goa. Menurut Mangku Arsandi, goa tersebut memiliki ujung yang berada di lapangan sepakbola yang berada di dalam Gor Ngurah Rai. Di dalam goa tersebut diyakini ada tiga ular Naga yang berstana. Ketiga ular Naga tersebut adalah Naga Anantaboga yang merupakan penguasa Bumi. Naga Basuki yang menguasai tumbuhan, dan Naga Taksaka yang bertindak sebagai udara. Pujawali pura ini dilaksanakan setiap Purnama Sasih Jiyesta. Pada saat pujawali, banyak warga yang berdatangan untuk bersembahyang di pura ini, terutama para guru, murid, dan pegawai pemerintahan. Hal ini berkaitan dengan banyaknya kantor dan sekolah yang berada di ligkungan Pura Taman Sari Swagina ini.
Selain itu, secara khusus, banyak siswa ataupun atlet yang datang untuk memohon restu di pura ini. Sebagai pura yang berada di kawasan GOR Ngurah Rai ini, diyakini dapat memberikan restu kemenangan pada saat berlaga. “Tak jarang atlet yang akan berlaga pada Pekan Olahraga Pelajar (Porjar) maupun Pekan Olahraga Seni Pelajar (Porsenijar) banyak yang melakukan persembahyangan di Pura Taman Sari Swagina ini.” papar Mangku Arsandi.
Hingga kini, Pura Taman Sari Swagina diempon oleh tujuh banjar, di antaranya adalah Banjar Kreneng Kelod, Banjar Mertanadi, dan Banjar Merta Rauh Kaja. “Yang unik adalah pihak asrama Brimob juga ikut mangempon pura ini,” ujar Mangku Arsandi.