BALI EXPRESS, DENPASAR - Purnama dan Tilem menjadi acuan tersendiri bagi setiap individu dalam melakukan persembahan. Datangnya setiap 30 hari sekali dan dari Purnama menuju Tilem berselang 14-15 hari, membuatnya mudah diingat.
Purnama dan Tilem dikenal masyarakat sebaga hari yang sangat baik untuk melakukan pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widi Wasa. Dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Candra saat Purnama dan Sang Hyang Rudra saat Tilem. Di mana keduanya memiliki fungsi masing-masing.
"Namun, pada intinya untuk memberikan kesejahteraan kepada alam semesta beserta isinya," ujar Mangku I Wayan Satra kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Dikatakan Mangku Satra, sekalipun merupakan dewasa ayu, tak selamanya Purnama atau Tilem merupakan hari baik. Hal itu tergantung pada petemon dina di dalam wariga. "Hal ini biasanya tergantung dari pertemuan Tri wara, Panca wara dan sapta wara. Yang sering kita jumpai adalah Hari Berek Tawukan," urainya.
Menurut Lontar Purwana Tattwa Wariga, hari Berek Tawukan merupakan pertemuan antara Kajeng, Kliwon, Sabtu (Saniscara) dan Purnama. Kala itu, umat Hindu tidak diperkenankan melakukan pemujaan. Selain itu, tidak diperkenankan juga melaksanakan upacara Yadnya. Dan, Sang Wiku juga tidak boleh melaksanakan pujanya pada hari itu.
Selain itu, hari Kala Paksa yang bertemu dengan Purnama juga sangat tidak disarankan melaksanakan upacara atau pemujaan, dan ini juga berlaku bagi Sang Wiku. "Dimana, ketika Kala Paksa bertemu dengan Purnama Beliau tidak boleh melakukan pemujaan," papar Satra.
Pada saat Kala Paksa yang menguasai hari itu adalah bhuta kala, sehingga dinamakan kala paksa. Maka dari itu, lanjutnya, ketika dilaksanakan pemujaan, maka yang dipuja adalah bhuta kala, jadi pemujaan akan mubazir. "Bagi umat yang melaksanakan bakti sat itu, maka yang bersangkutan dinilai telah melanggar, maka tak jarang yang bersangkutan akan menemui kesialan, bisa juga kurang harmonis atau identik dengan sifat bhuta kala," pungkas Satra.