Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Negara Gambur Anglayang, Cermin Toleransi di Bali

I Putu Suyatra • Minggu, 1 Oktober 2017 | 17:37 WIB
Pura Negara Gambur Anglayang, Cermin Toleransi di Bali
Pura Negara Gambur Anglayang, Cermin Toleransi di Bali

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Sikap inteloran belakangan benar-benar mengkhawatirkan bangsa ini. Padahal, para leluhur bangsa ini sudah mengajarkan hidup rukun dan damai meski berbeda, suku, agama, ras dan etnis. Seperti yang diajarkan para pendiri Pura Negara Gambur Anglayang.


Pura Negara Gambur Anglayang berlokasi di daerah Pantai Kota Banding, Desa Kubutambahan, Buleleng. Saat memasuki pura ini, tidak tampak keunikan yang ada pada pura ini. Tapi, setelah menggali informasi lebih dalam, banyak keunikan yang tidak ditemukan di pura lainnya. Sebab ada beberapa palinggih di Pura ini mencerminkan keberagaman, dalam sebuah pura tanpa sekat.


Bali Express (Jawa Pos Group) berusaha menggali informasi lebih detail lagi tentang keunikan Pura Negara Gambur Anglayang dari beberapa orang pengempon pura, khususnya Nyarikan Pura, Nyoman Laken, 67. Pria ini sudah hampir 30 tahun lebih ngayah di Pura Negara Gambur Anglayang, yang konon merupakan pura pertama di Kubutambahan.


Nyoman Laken, ketika ditemui di wantilan Pura Negara Gambur Anglayang usai sembahyang Pagerwesi, Rabu pagi (25/1), mengatakan bahwa Pura ini didirikan pada tahun 1260 (abad ke-13). Dahulu tempat ini merupakan pelabuhan dagang yang dinamakan Tabaning atau Kuta Baneng, yang dikelilingi benteng untuk pengamanan karena merupakan pusat perdagangan seluruh Nusantara.


Sebagai pusat perdagangan, daerah ini didatangi pedagang dari berbagai suku, agama dan ras yang berbeda-beda. Ketika kondisi perekonomian dan hubungan dagang sangat lancar maka
pada suatu ketika ada sebuah perahu dengan beberapa penumpang dengan bermacam etnis bersandar di Pantai Tabaning.
Tujuan perahu dagang tersebut adalah mencari barang dagangan. Mereka terdiri dari berbagai suku bangsa. Di antaranya, suku Tionghoa, Melayu, dan Sunda. Sebagian dari rombongan tersebut beragama Islam.


Setelah mendapatkan kebutuhan yang dicari, maka mereka bersiap melanjutkan perjalanan
ke tempat tujuannya. “Namun terjadi musibah secara tiba-tiba. Perahu yag mereka tumpangi mengalami kebocoran sehingga tidak bisa berangkat,” kata Laken.


Dengan upaya maksimal para awak kapal dibantu oleh penduduk pantai memperbaiki perauh tersebut. Namun usahanya sia-sia. Akhirnya salah satu awak kapal mengajak teman-temanya bersembahyang pada palinggih di pesisir Kuta Baning sembari memohon kekuatan. Tak lupa mereka mengucapkan kaul. “Bila perjalanannya selamat dan usahanya sukses mereka berjanji untuk mengakui, percaya dan yakin serta ikut mengagunggkan dengan membangun tempat suci untuk memuja kebesaran Sang Hyang Widhi dengan Prabhawa sebagai Ciwa,” ujar Nyoman Laken yang didampingi Kelian Krama Gede Sumuh,78.


Hasilnya, cukup menakjubkan. Perahu yang ditumpangi para pendatang itu berhasil diperbaiki. Mereka pun akhirnya bisa melanjutkan perjalanannya.


Menurut Laken, dulu tempat ini sangat strategis hingga didatangi banyak pedagang dari berbagai wilayah. Karena dipercaya bisa memberi mereka kehidupan, maka dibagunlah pura, meskipun berlainan keyakinan dan kepercayaan. Dan tidak sedikit orang menyebutkan jika pura ini adalah Pura Pancasila. 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pura unik #hindu #pura #sejarah pura #buleleng