BALI EXPRESS, DENPASAR - Selain sebagai situs perjalanan Suci Danghyang Nirartha, Teluk Benoa dalam Keputusan Pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia disebutkan Sugi. B. Lanus juga disebutkan sebagai titik temu campuhan Agung yang dikelilingi tempat suci kasat dan tidak kasat mata.
Teluk Benoa sebagai campuhan agung atau pertemuan sungai-sungai dengan laut yang disucikan, sehingga menjadi tempat pertemuan energi niskala dan diyakini sebagai tempat berkumpulnya roh suci dan para Hyang/Bhatara/Dewata. “Ini dapat dibuktikan dengan banyaknya muntig (puncak) yang diyakini sebagai tempat perputaran air di bawah laut dna tempat ini sering digunakan oleh masyarakat Kelan untuk pelaksanaan ritual di tengah laut tepatnya pada sasih keenem,” paparnya.
Di bagian timur Muntig ada pura di bawah laut yang disebut dengan Pura Karang Tengah atau Pura Karang Suwung sebagai tempat untuk mamulang pekelem (menghanyutkan upakara korban suci). Sehingga tempat ini akan dihindari sebagai tempat aktivitas karena dianggap angker oleh masyarakat, nelayan ataupun nahkoda kapal.
Dengan demikian, secara keseluruhan, pesisir dan sekitar Teluk Benoa berhubungan erat secara niskala dan terikat dengan kehidupan keagamaan dan keyakninan masyarakat sekitarnya. Sebagai campuhan Agung masyarakat menyucikan kawasan Teluk Benoa dengan fungsinya yang sangat luar biasa. Disamping untuk pelaksanaan upacara agama, tempat ini juga sebagai tempat memohon berkah, keselamatan, juga sebagai tempat mata pencaharian/penghidupan turun –temurun sejak ribuan tahun lalu.
“Seperti salah satunya adalah kelompok Nelayan Tanjung Sari, kelompok nelayan ini sudah ada sejak masa perjalanan Danghyang Nirartha,” paparnya.
Editor : I Putu Suyatra