BALI EXPRESS, TAMPAKSIRING - Pura Tirta Empul di Gianyar, merupakan salah satu pura penting di Bali. Pura ini kerapkali digunakan untuk prosesi upacara oleh umat Hindu, seperti mlasti dan malukat. Di samping ada pula tirta khusus untuk upacara pitra yadnya.
Pura Tirta Empul yang terletak di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar ini, sangat mudah mencarinya. Butuh waktu sekitar satu setengah jam, jika berangkat dari Kota Denpasar menuju pura tersebut. Terletak di timur Istana Presiden, jika dari Kantor Camat Tampaksiring lurus ke utara sekitar 100 meter, dengan mengikuti petunjuk yang ada di pinggir jalan. Sampai perempatan yang ada patung di tengah jalan, kemudian ke kanan sekitar 100 meter. Maka sampailah di depan Pura Tirta Empul yang berada di kiri jalan dari jalur Denpasar-Kintamani.
Menurut pemangku Pura Tirta Empul, Dewa Gede Wenten ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Pura Tirta Empul, keberadaan Tirta Empul berawal dari seorang raja Mayadenawa yang terkenal dengan kekuasaan dan kesaktiaannya. Penduduk yang menyelenggarakan upacara persembahyangan harus menyembahnya. Mendengar perilaku tersebut, maka Dewa Indra turun dari Indraloka bersama prajuritnya untuk melawan Mayadenawa. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan kehidupan rakyat agar dapat kembali melakukan upacara keagamaan secara normal.Dengan kesaktian dan tipu dayanya, Mayadenawa menciptakan tirta beracun alias tirta cetik. Tentu saja hal itu tak diketahui prajurit Dewa Indra yang meminumnya lantaran kehausan. Akibatnya, banyak prajurit Dewa Indra meninggal dikarenakan minum tirta cetik tersebut.
"Sampai kini lokasinya masih ada di lingkungan Taman Tirta Empul, terletak di sebelah barat tempat panglukatan," papar Jero Mangku
Wenten.
Menghadapi masalah tersebut,kemudian Dewa Indra menugaskan para pendeta untuk menciptakan air (tirta) penawar racun, yaitu untuk mohon tirta kamandalu di Sorga Loka. Namun sayang, tirtanya jatuh dan tempatnya pecah di sebuah hutan yang mengakibatkan tempat tersebut menjadi harum. Tempat jatuhnya tirta tersebut kemudian dinamai dengan Alas Harum. Sedangkan Tempat jatuhnya tali sebagai pengikat tempat tirta, Hyang Ambu, kini dinamai Banjar Basangambu, yang terletak di timur Pura Tirta Empul.
Tirta Empul dijadikan sumber mata air oleh masyarakat setempat, dan diyakini sebagai air yang dapat memberikan kehidupan dan kemakmuran. Mata air suci ini terletak di bagian timur jaba tengah pura, di mana
sebagian dialirkan ke sawah ( irigasi) untuk mengairi sawah yang cukup luas di Desa Pejeng. Selain itu, juga dialirkan ke sebuah kolam pemandian yang ada di sebelah selatan Tirta Empul, dan sebagian lagi dialirkan ke Tukad Pakerisan yang jaraknya hanya beberapa meter saja.
"Dikarenakan membuat masyarakat makmur , maka dilengkapilah pada saat itu dengan bangunan suci yang dinamai Pura Tirta Empul," paparnya.
Bila ingin malukat, pamedek diharapkan membawa dua pajati dan canang secukupnya. Satu pajati dihaturkan pada tempat malukat, guna memohon kelancaran malukat. Selanjutnya, pamedek turun langsung ke kolam yang ada pancuran tirta. Berawal dari sebelah kiri, dilanjutkan ke pancuran berikutnya sampai paling kanan.
Namun, Jero Mangku Wenten menjelaskan dua tirta yang tidak boleh digunakan untuk malukat, yakni Tirta Pengentas dan Tirta Pabersihan karena kedua tirta tersebut hanya digunakan untuk upacara Pitra Yadnya. “ Bila benar benar karena ketidaktahuan, dua tirta tersebut ternyata digunakan malukat, tidak masalah. Namun, kalau sudah tahu sebaiknya jangan. Sebab, itu khusus untuk Panca Maha Bhuta yang akan dikembalikan ke asalnya,” jelas Jero Mangku Wenten.
Ditambahkannya, jika lupa dan melakukan panglukatan di dua pancuran tirta yang dilarang itu secara tidak sengaja, maka harus malukat dari awal lagi, dengan mengawali kembali dari pancuran yang paling kiri. Dikarenakan tirta tersebut untuk membersihkan atma dalam prosesi pengabenan. “Kita kan masih hidup, masa mau dilebur juga atmanya,” imbuh pria asli Tampaksiring tersebut.
Selesai malukat di tempat taman tirta yang pertama, maka dilanjutkan malukat di taman tirta yang berada di halaman tengah taman tirta yang terisi nama Tirta Empul. Bila sudah, maka dikatakan prosesi malukat selesai, dan pamedek mengganti pakian menggunakan yang kering. Dengan berpakian adat atau adat madya, sebab akan ke jeroan pura untuk melakukan persembahyangan. Nah, di jeroan pura inilah satu pejati dihaturkan, sebagai ucapan terimakasih kepada Ida Sasuhunan yang bersthana di Pura Tirta Empul. Juga sebagai permohonana maaf, jika selama panglukatan ada salah ucap atau tindakan yang tidak sengaja dilakukan.
Salah satu pamedek yang selesai malukat , Agus Bawa mengaku sudah lima kali malukat di Pura Tirta Empul. Ia juga tidak malukat di Tirta Pangentas dan Tirta Pabersihan tersebut, karena diberitahu oleh ayahnya. Bahwa jangan melukat di kedua tirta tersebut karena khusus untuk upacara Pitra Yadnya saja.
Gus Bawa juga mengaku merasa lebih segar ketika selesai malukat. Secara geografis, Pura Tirta Empul memang dekat dengan pegunungan, sehingga udaranya menjadi sedikit dingin. “Rasanya menjadi lebih tenang sehabis malukat, memang semua tempat malukat bagus. Tapi di sini saya merasa menjadi lebih segar,” ujar pria dari Negara tersebut.