BALI EXPRESS, BADUNG - Jika dilihat dari ritual dan sarana pemujaan yang dilakukan di Pura Kancing Gumi yang berada di Banjar Batu Lantang, Desa Sulangai Kecamatan Petang, Badung, ini tidak jauh berbeda dengan pura-pura lainnya di Bali. Pura Kancing Gumi ini dilakukan pujawali atau Piodalan yang jatuh pada Buda Manis Prangbakat yang diperingati setiap 210 hari sekali dengan upakara yang disesuaikan dengan Desa Kala Patra yang berlaku di Banjar Batu Lantang Desa Sulangai, Petang, Kabupaten Badung.
Namun yang menjadi keunikan dari Pura ini adalah adanya ritual sujud yang dilakukan di pelataran Pura setelah umat melakukan Panca Sembah. Menurut Jro Mangku Putu Cinta, pemangku Pura Kancing Gumi, makna dari ritual sujud tersebut tidak lain adalah sebagai ritual penghormatan terhadap Ibu Pertiwi. “Selain itu ritual sujud ini juga untuk memuja dasar Lingga yang ada di dalam tanah yang menurut mitologi, Lingga ini adalah penekek dari Gumi Bali, sehingga patut untuk dipuja,” jelasnya.
Ritual sujud ini dikatakan Mangku Cinta memang berlaku kepada setiap masyarakat yang datang dan bersembahyang ke Pura Kancing Gumi tersebut. Namun diakui Mangku Cinta jika tidak semua masyarakat yang datang harus melakukan sujud setelah melakukan ritual panca Sembah.
Namun demikian, Pemangku senantiasa mengarahkan dan menjelaskan kepada masyarakat untuk melakukan ritual sujud tersebut. “Memang tidak semua umat yang datang melakukan sujud setelah Panca Sembah, hal ini tergantung dari keinginan pemedek tersebut,” ungkapnya.
Selain keunikan yang terletak pada ritual sujud yang dilakukan setelah melakukan ritual Panca Sembah, keunikan lain dari Pura Kancing Gumi adalah pura ini juga memiliki keunikan lain. Sebab jika dilihat dari strukturnya, pura ini terletak dalam satu areal dengan Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Penataran Agung.
Pura ini terdiri dari beberapa bangunan palinggih, yakni palinggih utama berupa patahan Lingga berupa patahan batu berjumlah sembilan. Selain itu ada juga gedong sari, catu meres, catu mujung, bale pengaruman serta padmasana. “Untuk padmasana ini baru didirikan ketika karya Ngenteg Linggih pada tahun 2009 lalu,” ungkap Mangku Cinta.
Editor : I Putu Suyatra