BALI EXPRESS, BANGLI - Tempat malukat biasanya digunakan sebagai untuk membersihkan diri. Baik secara sekala maupun niskala. Terlebih jika orang yang berkeiniginan mohon keselamatan dan kesembuhan diri. Namun sedikit berbeda dengan tempat malukat yang satu ini, yaitu dipergunakan untuk membersihkan orang yang baru lahir sampai orang yang sudah meninggal. Selain itu, melukat di sini juga dipercayai untuk awet muda.
Banjar Kuning memang tempatnya paling timur Desa Tamanbali. Namun ketika penasaran dengan keberadan pasiraman tersebut, tidak terlalu sulit. Bahkan bisa sekalian untuk menikmati keindahan wisata Air Terjun Kuning yang ada di bawah pasiraman tersebut dengan melewati 90 anak tangga. Di samping hal tersebut, bisa juga menikmati indahnya tebing Tukad Malangit Bangli. Tidak jarang juga merupakan jalur kera liar mencari makan di sana.
Jika dari Denpasar, memerlukan waktu sekitar satu jam menuju tempat tersebut. Melewati Jalan Baypass Ida Bagus Mantra, menuju Desa Tulikup Gianyar. Ketika telah sampai di lapangan Desa Tulikup, ada jalan ke utara tembus Tamanbali, Bangli. Setelah mengikuti jalan itu, akan sampai pada sebuah beringin besar yang berada di pinggir lapangan. Itulah lapangan Tamanbali. Kemudian belok kanan masuk menuju Banjar Kuning. Di pinggir jalan, sudah ada petunjuk arah yang dapat dilihat dengan jelas, sehingga jangan takut kalau tersesat di sana.
Pemangku Pura Pasiraman Manik Tirta, Ngakan Ketut Mangku Gede ketika diwawancarai di rumahnya, Banjar Kuning, Tamanbali, Bangli, Minggu (15/10) menjelaskan, sejarah pasiraman tersebut berawal dari Raja Tamanbali yang diketahui namanya adalah Jero Nengah. Saat itu, di lokasi pesiraman sekarang terjadinya perebutan wilayah antara Raja Tamanbali dengan raja yang di Desa Jelekungkung, Bangli. Agar terhindar dari serangan, maka Jero Nengah mempunyai senjata berupa tongkat. Sehingga diseretlah tongkatnya tersebut di permukaan tanah, dari Jelekungkang sampai Banjar Kuning. Yang dapat membelah tanah dan menjadi sebuah jurang. Tujuannya agar prajurit dari Raja Jelekungkung susah mencapai Banjar Kuning, yang dialiri Tukad Malangit.
Ngakan Ketut Mangku juga mengatakan, bahwa ujung dari bekas seretan tongkatnya menjadikan sebuah sumber mata air (klebutan). Dimana saat ini disebut dengan klebutan Pura Pasiraman Manik Tirtha.
Dalam areal tersebut terdapat 11 pancuran, dimana dulunya sebagai tempat permandian prajurit Raja Tamanbali. Bahkan ada pula pancuran yang paling tinggi, diyakini sebagai pancuran awet muda disebut dengan tirtha daha.
Lanjutnya, pancuran tersebut terdiri atas lima buah pancuran, yaitu sebagai pasiraman biasa. Terletak di jaba Pura dan berada di bawah Pancuran Tirtha Daha tersebut. Di jeroan pura, ada sebuah tirta yang disebut tirta selikan, yang berarti pilihan. Yang biasa digunakan oleh warga setempat untuk melasti Ida Sasuhunan Pura Khayangan Tiga. Bahkan sebagai tirta wangsuhpada di setiap piodalan pura dan merajan warga berlangsung.
Ngakan Ketut Mangku juga mengakui, kalau tirta selikan itu digunakan untuk memandikan bayi yang berumur 42 hari. Dan biasa juga digunakan sebagai membersihkan layon (memandikan jenazah) ketika diupacarai. Karena dipercayai secara niskala untuk mohon keselamatan kedepannya untuk si bayi. Sedangkan bagi layon, supaya mendapat kelancaran untuk pembersihan sang atma.
"Biasanya ada saja yang nangkil ke sana, untuk nunas tirta ketika 42 hari setelah melahirkan dan digunakan memandikan layon menjelang upacara ngaben. Bahkan ada pula yang baru pertama hamil muda nunas tirta selikan tersebut. Ia percaya untuk keselamatan anak yang ada di dalam kandungannya itu," jelas pria berusia 77 tahun tersebut.
Ditanya untuk sarana yang harus di bawa saat nangkil, ia mengaku hanya cukup membawa canang kalau di hari biasa. Dan membawa satu pejati ketika rerainan, seperti kajeng kliwon, purnama, tilem dan rerahinan lainnya. Sarana tersebut dihaturkan di palinggih yang ada di pura tersebut. Jika berupa canang, hanya dihaturkan pada asagan palinggih. Sedangkan pejati dihaturkan pada dalam palinggih tersebut. Dengan pemuputnya mangku dalem Banjar Kuning, yaitu Ngakan Ketut Mangku sendiri.
Sementara Kelihan Banjar Kuning, Ngakan Made Setiawan mengatakan bahwa sehari menjelang Hari Raya Galungan adalah momen paling ramai yang melukat di pancoran daha. Sebab pada hari tersebut diyakini pengaruh dari tirta daha sangat kuat.
"Kalau sehari sebelum Galungan pasti ngantre di pancoran daha itu. Kadang juga ada yang rebutan. Bahkan dari jam dua siang mereka sudah ke sini," jelas pria tiga kali berturut turut menjadi kelihan itu. (bersambung)
Editor : I Putu Suyatra