Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Beji Taman Suranadi, Tempat Melukat Berusia Ratusan Tahun

I Putu Suyatra • Minggu, 22 Oktober 2017 | 21:07 WIB
Pura Beji Taman Suranadi, Tempat Melukat Berusia Ratusan Tahun
Pura Beji Taman Suranadi, Tempat Melukat Berusia Ratusan Tahun

BALI EXPRESS, MENGWI - Pura Beji yang identik dengan tempat melukat (membersihkan diri secara niskala), biasanya tersebar di berbagai daerah di Bali dan pura Beji ini juga memiliki keunikannya tersendiri. Seperti halnya Pura Beji Suranadi di Banjar Auman Desa Adat kekeran Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung.


 


Namanya Pura Taman Beji Suranadi, sama dengan nama pura di Lombok. Untuk mencapai Pura ini cukup membingungkan karena Pura ini tidak dilengkapi dengan plang nama, namun untuk mempermudah, jika diakses dari jalan Raya Denpasar - Gilimanuk, ketika sampai di pertigaan Desa Jumpayah, sebelah timur SMK Pariwisata Mengwi, tinggal belok kiri dan terus ikuti jalan tersebut, hingga memasuki Desa Adat Kekeran, terus lurus lagi, hingga tiba di batas desa. Dar sana terdapat gang kecil paving ke sebelah barat. Nah gang inilah menjadi akses langsung ke Pura Taman Beji Suranadi dan rumah pemangkunya tepat berada di atas Pura Taman Beji Suranadi.


Seperti yang dituturkan Pemagku Pura Beji Taman Suranadi, Mangku Muliati, Pura Taman Suranadi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. “Pura taman ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, sudah ada sejak leluhur beberapa generasi terdahulu, jelasnya.


Sebelum terdapat palinggih permanen seperti saat ini, Pura Beji Taman Suranadi yang terletak di areal tegalan miliki Keluarga Mangku Muliati ini hanya berupa gegumuk palingih. Hingga akhirnya pada akhir tahun 1990 an, Pura Beji Taman Suranadi ini diemong oleh krama Banjar Auman Kekeran sehingga Pura Beji ini menjadi pura permanen seperti saat ini.


Hingga saat ini, Pura Beji Taman Suranadi ini diemong oleh Krama Banjar Auman Desa Adat Kekeran Kecamatan Mengwi. Piodalan di pura ini jatuh pada Hari Rabu Pahing Wuku Warigadean. Sehingga untuk upakara piodalan menjadi tanggung jawab krama banjar, dan tugas pemangku diakui Mangku Muliati hanya sebagai pengantar upacara.


Adapun yang dipuja di Pura Beji Taman Suranadi ini adalah Ida Bhatara Wisnu sebagai Manifestasi Ida Sang Hyang widhi sebagai dewa pemelihara kehidupan di Dunia. “Selain itu, dalam kepercayaan Agama Hindu, Dewa wisnu adalah dewa penguasa air, yang bertugas untuk menyucikan segala jenis mala (kotoran) duniawi,” paparnya.


Karena itulah, Mangku Muliati  menyebutkan pura Beji ini lebih dikenal masyarakat sebagai tempat untuk melakukan pangelukatan atau melukat (penyucian diri). Selain itu Pura Beji Taman Suranadi juga digunakan sebagai lokasi penyucian Ida Bhatara yang berstana di Pura kahyangan Tiga desa Adat kekeran.


Pura ini memiliki dua taman yakni Taman Suranadi dan Taman Alit, adapun fungsi dari kedua taman ini dikatakan Mangku Muliati adalah sebagai lokasi pesucian Ida Bhatara. Sebelum piodalan, Ida Bhatara di Pura Kahyangan Tiga Desa adat Kekeran ini dikatakan Mangku Muliati akan melakukan prosesi penyucian sebanyak dua kali.


Penyucian pertama dilakukan di areal Taman Suranadi yang terletak di sebelah selatan. Setelah itu barulah melakukan penyucian di taman Alit yang terletak di utama Mandala Pura Beji Taman Suranadi. “Proses penyucian sebanyak dua kali ini, dilakukan karena pura ini memiliki dua tetamanan,” ungkapnya.


Sedangkan untuk pengelukatan, Mangku Muliati menyebutkan prosesi pengelukatan dilakukan di pancuran yang terletak sebelah barat pura. Prosesi pengelukatan dilakukan sebanyak dua kali, pertama, masyarakat yang ingin melukat melakukan pembersihan diri secara fisik dengan cara mandi di pancoran tempat permandian yang tersedia.


Setelah itu barulah prosesi melukat dilakukan di Pura Beji Taman Suranadi dengan menggunakan upakara berupa pejati dan Bungkak Nyuh Gading (Kelapa Gading muda) yang airnya disimpan di payuk Jempere (kenci tanah liat).


Adapun makna penggunaan jempere ini dikatakan Mangku Muliati adalah sebagai simbul dari Sembilan arah Mata angina tau symbol dewata nawa Sanga. “Dengan menggunakan Payuk Jempere ini, kami berharap Tuhan bisa memberikan berkahnya untuk membersihkan diri dari segala bentuk kotoran baik yang bersifat niskala dan sekala dari sembilan arah mata angin,” urainya.


Pura Beji Taman Suranadi ini memiliki dua taman, yakni taman alit dan taman Suranadi yang terletak di sebelah selatan Pura. Meskipun menjadi satu lingkungan, namun kedua taman ini memiliki sumber mata air yang berbeda, untuk taman Suranadi sumber airnya berasal dari telebutan (mata air). Sedangkan untuk taman alit, sumber airnya berasal dari air tanah yang muncul dari celah tebing.


Air yang ditaman alit inilah yang biasanya digunakan untuk prosesi pengelukatan oleh masyarakat. Karena air dari taman alit inilah yang dialirkan ke keempat pancaran yang ada di sebelah barat pura yang digunakan untuk ritual pengelukatan dan sebagai tempat permandian umum. 

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat #mengwi #hindu #pura #sejarah pura #badung