Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Babi Tidak Dipotong di Bale Panjang, Dagingnya Langsung Rusak

I Putu Suyatra • Senin, 6 November 2017 | 15:00 WIB
Babi Tidak Dipotong di Bale Panjang, Dagingnya Langsung Rusak
Babi Tidak Dipotong di Bale Panjang, Dagingnya Langsung Rusak

BALI EXPRESS, TABANAN - Jika pada umumnya saat Pujawali di sebuah Pura, krama melakukan pemotongan babi untuk upakara di Puwaregan. Tapi hal berbeda dengan tradisi yang sudah berlangsung di Pura Desa Desa Pakraman Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan. Pasalnya penyembelihan dan pengolahan daging babi untuk Piodalan yang jatuh setiap Redita Wage Kuningan dilakukan di Bale Agung atau Bale Panjang yang ada di Pura Desa setempat.


 


Piodalan di Pura Desa, Desa Pakraman Kukuh, Minggu kemarin (5/11), dilaksanakan oleh Banjar Pakraman Menalun. Mendapat giliran melaksanakan piodalan, sejak pagi mereka sudah mempersiapkan sarana dan prasarana untuk memotong babi dan mengolahnya menjadi ulam banten dalam piodalan. Namun babi dipotong langsung di Bale Panjang yang ada di areal Pura Desa.


Bendesa Adat Desa Pakraman Kukuh, I Gede Subawa menjelaskan bahwa tradisi memotong babi di Bale Panjang memang sudah dilakukan sejak lama meskipun tidak ada yang tahu pasti tahun berapa tradisi itu mulai dilakukan. Tradisi ini terbilang sangat unik, karena di tempat lain Bale Panjang umumnya tempat untuk meletakkan Ida Sesuunan atau Pratima.


Ia pun menjelaskan bahwa oleh panglingsir terdahulu, bangunan Bale Panjang tersebut sebenarnya terdiri dari tiga unsur, yakni unsur pertama adalah luhur atau bagian paling utara yang berarti hulu tempat Ida Sang Hyang Widhi berstana. “Dan dalam ini di luhur adalah genah Ida Begawan Penyarikan,” ungkapnya.


Unsur kedua adalah Pesamuan yang terletak di tengah-tengah atau madya dan merupakan tempat Upakara dan Upacara atau Bebantenan. Kemudian yang terakhir adalah unsur puwaregan atau yang lokasinya paling selatan atau nista.


“Nah sebagaimana fungsi puwaregan yakni tempat untuk membuat Aci Upakara dan Ngerateng, begitu juga Bale Panjang sebelah selatan atau yang paling Teben, di sini lah dilakukan pemotongan dan pengolahan babi itu. Meskipun ada tiga unsur berbeda, tetapi tetap dalam satu atap,” paparnya.


Namun yang bisa naik ke Bale Panjang berukuran panjang 16 meter dengan lebar 3,5 meter dan memiliki 16 saka, itu tidak sembarang orang. Yakni hanya 19 orang yang disebut Pengayah Desa atau perwakilan dari masing-masing Banjar. Dan orang yang bisa menyembelih babi juga hanya Jero Kubayan.


“Setelah babi disembelih oleh Jero Kubayan maka ke-19 orang Pengayah Desa inilah yang mengolah daging babi menjadi Ulam Banten dan lainnya,” imbuh Subawa.


Dan sebelum babi disembelih, terlebih dahulu krama nunas pakuluh kepada Ida Sesuunan serta menghaturkan segehan putih-kuning. Selanjutnya setelah babi disembelih, dagingnya akan diolah menjadi Ulam Banten atau Pekebat Bangun Urip untuk sarana Piodalan. Setelah tuntas untuk bahan upakara, daging babi kembali diserahkan kepada krama pengayah untuk diolah menjadi sate maupun lawar. Dimana sate dan lawar itu dibagikan untuk dibawa pulang sebagai Paica.


Saat ditanya apakah pernah tradisi ini tidak dijalankan? Subawa menjawab pernah. Yakni pada tahun 1971 dimana ketika itu merupakan giliran Banjar Menalun yang melakukan piodalan. Karena ingin mengefisienkan waktu, maka babi dipotong di Puwaregan, bukan di Bale Panjang. Ajaibnya saat babi di-purak (dibersihkan bagian perutnya,Red), daging babi tiba-tiba dipenuhi bintik-bintik alias rusak dan tidak baik untuk diolah. “Padahal saat disembelih babinya masih sehat-sehat saja, tidak ada yang aneh dan sudah matur piuning juga. Akhirnya kami mencari babi lagi dan kami potong di Bale Panjang, dagingnya bagus dan upacara pun berjalan lancar. Sejak saat itu kami tidak mau melanggar dresta yang ada,”pungkasnya.


Pura Desa Desa Pekraman Kukuh sendiri diempon oleh 12 Banjar Adat dengan 1.1126 KK. 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #tradisi #tradisi unik #tabanan