BALI EXPRESS, MANGUPURA - Ada yang spesial saat perayaan Hari Raya Kuningan bagi umat Hindu di Bali. Yakni pemasangan tamiang pada setiap pelinggih dan rumah.
Untuk diketahui, Hari Raya Kuningan adalah hari raya Umat Hindu di Bali yang dirayakan setiap enam bulan sekali atau setiap sepuluh hari setelah Galungan. Pada hari raya ini umat Hindu di Bali selalu membuat tamiang.
Hari raya Kuningan, sekaligus penutup rangkaian Hari Raya Galungan umat Hindu di Bali. Lalu, apa makna tamiang itu sendiri? Berikut penjelasannya.
Baca Juga: Soma Pemacekan Agung Dikeramatkan Umat Hindu, Jro Panca Ini Alasannya!
Pembuatan sarana Upakara atau Uperengga memilki aturan tersendiri. Hal ini tentu harus diperhatikan setiap umat dalam pembuatannya. Jangan sampai mengejar seni namun menghiangkan makna filosofis.
Perayaan Hari Suci Kuningan memberikan suasana berbeda dengan perayaan hari besar lain.
Seperti halnya Galungan yang membuat penjor, Kuningan juga identik membuat tamiang dan sarana lainnya.
Namun, jaman now, uperengga sering dimanfaatkan sebagai sesuatu yangbersifat dekoratif. Hal ini disebabkan karena beberapa jenis uperengga ini sering digunakan ketika ada upacara non adat yang tidak sakral.
“Dan benar saja digunakan sebagai dekorasi saja,” jelas Ketua PHDI Provinsi Bali, Prof. I Gusti Ngurah Sudiana, yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) Kamis (13/4).
Baca Juga: Hari Suci Hindu; Galungan dan Kuningan Sebagai Pondasi Pendidikan Karakter
Pihaknya menjelaskan, kebiasaan tersebutlah yang membuat masyarakat sulit membedakan yang mana dekoratif dan yang mana sakral.
Khusus untuk pembuatan Tamiang, mengacu kepada makna filosofis hari mengarak ke sembilan penjuru mata angin yang merupakan simbol Dewata Nawa Sanga.
Jejahitan pokok wajib ada empat, dan empat lagi adalah sibeh. Khusus untuk reringgitan atau tetuasan silahkan dibuat sebaik mungkin agar lebih seni dan indah. Namun jangan sampai meninggalkan konsep asli.
“Karena tamiang yang bersifat dekorasi cenderung hanya memperhatikan keindahan dan kebutuhan saja, filosofi dan tattwanya memudar,” tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra