Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pancoran Batan Nyuh; Pasraman Alit Ida Sang Hyang Budha

I Putu Suyatra • Jumat, 17 November 2017 | 19:41 WIB
Pancoran Batan Nyuh; Pasraman Alit Ida Sang Hyang Budha
Pancoran Batan Nyuh; Pasraman Alit Ida Sang Hyang Budha

BALI EXPRESS, BADUNG - Pancoran sebagai sumber air alami, dewasa ini menjadi daya tarik tersendiri. Malukat atau penyucian diri ke sumber air alami atau pancoran menjadi tren baru yang sangat diminati saat ini. Ada yang tahu Pancorn Batan Nyuh? Berikut ulasanya.


Pancoran Batan Nyuh terletak di wilayah Banjar Langon, Desa Adat Kapal, Kabupaten Badung. Pancoran yang berdiri di atas pekarangan miliki Jro Mangku Nyoman Suwena ini, telah ada sejak zaman dahulu, dan tidak diketahui secara pasti kapan pancoran ini pertama kali ada. "Letaknya berada di tepian Sungai Yeh Penet dan memiliki suasana yang asri, sehingga sangat cocok digunakan untuk panglukatan dan penyucin diri," ujar Pemangku Pancoran Batan Nyuh, Jro Mangku I Nyoman Suwena yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (6/2).


lebih lanjut  dijelaskan Mangku Suwena, kata ‘Batan Nyuh’ berarti di bawah kelapa. Konon, dahulu, pancoran ini terletak di bawah pohon kelapa yang besar. Namun, kini pohon kelapa tersebut sudah tumbang, sehingga ciri khas dari Pancoran Batan Nyuh sudah tidak ada. Setelah berjalan beberapa lama, pada saat Jro Mangku Suwena hendak melakukan pembibitan kelapa untuk ditanam di ladang, ada bibit yang bertunas dua. Jadi, satu buah kelapa menghasilkan dua tunas kelapa alias kembar. "Karena memiliki keanehan dan tergolong unik, pohon kelapa kembar ini akan ditanam di sekitar Pancoran Batan Nyuh, sehingga ciri khas pancoran yang dulu kembali ada," imbuh Suwena.


Pancoran Batan Nyuh konon merupakan Pasraman Alit, tempat beristirahat dan menuangkan ajaran agama Ida Sang Hyang Budha. Kepercayaan Siwa Budha sangat kental dirasakan di lingkungan Desa Adat Kapal, khusunya yang berada di sekitar Pura Puru Sada. Konon, di depan Pura Puru Sada yang kini merupakan tempat parkir dulunya adalah griya penganut Siwa, sedangkan untuk aliran Budha memiliki Pasraman Alit yakni di Pancoran Batan Nyuh.


Kedua aliran ini menghasilkan dua perpaduan dalam arsitektur pembangunan Pura Puru Sada. JIka diperhatikan, candi pura tersebut memiliki stupa di bagian atas, dan menggunakan pakem Bali di bagian bawah.


Pura ini dulunya merupakan stana Ida Sang Hyang Budha. Dan, kini pura yang ada hanya pangayatnya saja.


Kejadian aneh pernah dialami Mangku Suwena, pada suatu hari sedang menonton televisi, ketika itu tiba-tiba warna televisi menjadi putih semua, dan Mangku Suwena merasa dirinya berada di Pancoran Batan Nyuh. Saat itu pula, mendapat petunjuk bahwa yang berstana di sana dahulu adalah Ida Sang Hyang Budha.  “Namun, sekarang beliau Ida Sang Hyang Budha telah berstana di Pura Sakenan yang berada di Desa Munggu. Hal ini karena perubahan bentuk palinggih yang berada di Pancoran Batan Nyuh,” bebernya.


Pancoran ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk melaksanakan panglukatan dan nunas tirtha ketika ada karya. Selain itu, tak jarang masyarakat dari luar Desa Kapal datang atas petunjuk orang pintar agar mendapatkan kesembuhan atas penyakit yang diderita.


Piodalan di Pancoran ini dilaksanakan setiap 210 hari sekali atau enam bulan Bali. yaitu pada Buda Wage Wuku Kelawu. Di Pancoran ini terdapat lima pancoran, namun hanya tiga yang mengeluarkan air, sisanya  sudah tidak mengeluarkan air. Dari tiga pancoran yang aktif, hanya dua yang dapat digunakan untuk panglukatan atau pemandian, satu pancoran lainnya khusus untuk nunas tirtha. Pancoran untuk tirtha ini bersifat khusus dan hanya dibuka ketika ada yang memohon tirtha. Selain itu, di pancoran ini juga terdapat sebuah Padmasana, sebuah batu yang disucikan dan Bale Piasan.


“Siapa saja boleh masuk ke pancoran ini, tidak ad larangan dan pantangan. Budha kan seperti itu, sangan fleksibel dan tidak suka milih-milih,” ujarnya. Uniknya, semua jenis pelaksanaan upacara di Pancoran Batan Nyuh menggunakan tradisi umat Hindu. Dan, hampir tidak ada umat Budha yang datang ke pancoran ini. Hal ini kemungkinan disebabkan karena dahulu pancoran ini tidak ada yang merawat, sehingga akses menjadi sulit. "Kalau sekarang kan sudah bagus, akses juga mudah,  biarkan saja seperti ini, seperti awalnya," tutup Suwena. 

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat