BALI EXPRESS, KINTAMANI - Pada wilayah Pura Bukit Mentik di Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, juga ada beberapa pura yang diyakini mempunyai kaitan satu sama lain. Salah satunya adalah Pura Pandan Harum. Lokasinya terletak di sebelah utara Pura Bukit Mentik.
Pura Pandan Harum berjarak kurang lebih satu kilometer kea rah utara Pura Bukit Mentik. Dari jaba pura, akan terlihat tanaman pandan harum merupakan ciri khas nama pura tersebut. Kemudian di sebelah di timur pura, ada sebuah goa yang dijadikan beji.
“Sebab di sana terdapat batu yang meneteskan air,” kata Prajuru Pura Bukit Mentik, I Wayan Laba ketika ditemui di Jaba Pura Bukit Mentik, Kintamani, Bangli Rabu (22/11).
Dalam kesempatan itu, dirinya mengaku baru tiga tahun menjadi pengayah di pura tersebut. Sebelumnya ia hanya sebagai krama biasa saja. “Kalau penjelasan lengkap saya tidak tahu. Sedangkan terkait Pura Bukit Mentik dan pura di sekitar pura ini, sebaiknya ke Jero Penyarikan saja. Karena ia juga sebagai panglingsir pura di sini,” terang pria asli Batur tersebut sambil mengarahkan kembali lagi naik ke desa.
Ia juga menerangkan bahwa dalam pujawali di pura di sekitar Pura Bukit Mentik, diselenggarakan pada hari yang berbeda. Karena dalam setahun dirinya menjelaskan ada lima kali pujawali yang diselenggarakan. Dan dirinya menunjukkan sebuah pura yang ada goanya, yaitu Pura Pandan Harum.
Sedangkan goanya tersebut ia katakan, digunakan sebagai beji. Yaitu tempat patoyan Ida Ssasuhunan yang ada di sana untuk melasti. Sedangkan masyarakat yang berasal dari luar desa, ia ketahui digunakan sebagai tirta wangsuhpada.
Sementara Penyarikan Pura Bukit Mentik, Jero Ardiyasa ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan, bahwa Pura Pandan Harum , masih ada kaitan dengan pura yang ada di sekitar sana. Terlebih yang berada di aliran Tukad Miung, dan berada di wilayah Pura Bukit Mentik.
“Yang ke sana, banyak ada jero dasaran atau tapakan (orang yang baru jadi balian, Red) datang untuk nangkil. Katanya mencium bau harum seperti pandan, maka sampai di sini kadang ada yang bertanya, dimana pura yang ada pandannya. Karena dibilang sangat berbau harum dari tempat mereka menjadi tapakan. Sehingga sinoman yang ada di pura, juga mengatakan sering ada pemedek yang bertanya terkait Pura Pandan Harum yang ada goa itu,” terang Jero Ardiyasa yang mengaku sebagai keturunan ketiga sebagai Jero Penyarikan di sana.
Dirinya pula menyebutkan, bahwa semua itu tergantung dari kepercayaan setiap orang. Bahkan ada yang sengaja ke sana, untuk nunas air yang keluar dari batu tersebut. Air itu digunakan untuk sebuah tirta wangsuhpada atau malukat. Karena goa tersebut diketahui terkadang mengeluarkan air dan juga menjadi kering.
“Kalau airnya itu, terkadang muncul dan sering sekali menjadi kering. Bahkan tidak ada sama sekali yang menetes. Karena kepercayaan masyarakat di sini, ketika akan pelaksanaan pujawali pasti menetes dengan sendirinya. Bahkan setelah itu hilang lagi, dan penyebabnya itu jujur saya tidak tahu. Karena semuanya merupakan kehendak dari Tuhan dan yang malinggih di sana,” imbuhnya. (bersambung)
Editor : I Putu Suyatra