BALI EXPRESS, TABANAN - Tabanan merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak tempat untuk ber-tirta yatra. Salah satu Pura yang patut dimasukkan dalam daftar tujuan adalah Pura Luhu Pucak Bukit Sari Pacung di Banjar/Desa Pekraman Pacung, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Pura yang merupakan Pura Kahyangan Jagat tersebut berada di ketinggian sehingga menambah kesan spiritual membuat siapa pun yang tangkil langsung merasakan ketentraman jiwa.
Tak sulit untuk menemukan lokasi Pura Luhur Pucak Bukit Sari karena terbilang cukup strategis. Yakni berada di tepi jalan sebelah timur jalur utama Denpasar - Singaraja. Umat yang hendak bersembahyang akan dibantu adanya papan nama Pura yang ada di pinggir jalan.
Kelian Pura Pucak Bukit Sari, I Made Sunada, 55, menyampaikan bahwa sejarah berdirinya Pura tersebut dijelaskan berdasarkan purana atau babad saja. Karena belum pernah ditemukan prasasti yang memuat tentang keberadaan pura tersebut. Dimana sesuai dengan purana atau babad yang ada, Pura Pucak Bukit Sari dipercaya sebagai Pura untuk memohon berkah atau memasupati tapakan agar memilik taksu atau jiwa, kesucian dan kesakralan yang maha tinggi. “Pura ini dipercaya sebagai tempat untuk memasupati tapakan,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Sekretaris Pura Pucak Bukit Sari, I Wayan Dana. Menurutnya ada beberapa tapakan yang secara berkala tangkil ke Pura tersebut karena melakukan pasupati di Pura tersebut. Di antaranya tapakan di Desa Senganan, Mayungan, Selingsing Cepaka, Petiga Marga, Bangah (Tabanan) hingga beberapa desa yang berlokasi di Badung seperti Blahkiuh, Tangeb, Nungnung, Dukuh Moncos, Sobangan, Kapal, Tegalnarungan, dan beberapa tapakan di daerah lainnya.
Namun khusus Tapakan Ida Bhatara dari Bangah, Wayan Dana mengatakan, rutin setiap enam bulan sekali. Ini dikarenakan adanya keterikatan sejarah dan payogan Tapakan Ida Bhatara dari Desa Bangah tersebut berasal dari Pura Pucak Bukit Sari. “Kalau untuk Tapakan Ida Bhatara dari Bangah memang rutin setiap enam bulan sekali,” ujarnya.
Di Pura Pucak Bukit Sari terdapat sejumlah bangunan palinggih, mulai dari Utama Mandala seperti palinggih Padma Karo (Stana Tri Murti), Padma Kurung (Stana Rsi), dan Padma Pesaji (Pasupati). Kemudian di Madya Mandala terdapat palinggih Bale Sumanggen, palinggih Bagus Muteran Jagat, Panglingsir Batu Karu, palinggih Bagus Mataram, Pucak Kembar (Bagus Rengreng), Pengaran (Ayu Mas Maketel Maleted), Bangbang Kula-kula, pangayengan Saka-saka, bale saka sanga dan Bangbang kula-kuli. Dimana beberapa palinggihnya sengaja dibiarkan tetap sesuai aslinya.
Ditambahkannya, Pura ini diyakini memiliki keterkaitan dengan Pura Pucak Sangkur, Pura Jati Batur, Pura Purusada Kapal, Pura Alas Sari Sangeh, Pura Uluwatu yang ada di pesisir selatan Badung dan Pura Pucak Kembar yang posisinya di utara pura ini. Sementara pujawalinya sendiri datang setiap enam bulan sekali yang jatuh pada Tumpek Landep. “Setiap satu setengah tahun sekali di sini berlangsung pujawali ageng yang dipastikan seluruh tapakan yang pernah nunas kasidian di Pura Pucak Bukit Sari ini akan hadir dan mejanjangan selama dua hari,” sambungnya.
Uniknya, setiap pujawali tiba para pangempon pura katurang ayah-ayah dengan pembagian tugas mempersiapkan upakara bagi masing-masing KK. Hal ini dilakukan, mengingat umat sibuk di ladangnya masing-masing sebagai petani ataupun kesibukan lain warga pangempon. Kemudian menjelang pujawali berlangsung, maka warga pangempon akan membawa upakara yang telah dibuatnya untuk dirangkai pemangku sebagai perlengkapan pujawali. Sementara ulam banten yang hanya menggunakan daging ayam dan bebek serta sama sekali tidak menggunakan daging babi tetap dibuat di pura. “Begitulah di sini ulam banten tidak menggunakan daging babi,” lanjutnya.
Keunikan lainnya terdapat pada pujawali tidak pernah dipuput atau dipimpin oleh sulinggih namun hanya dipuput oleh pemangku setempat. “Dan hal-hal tersebut memang sudah berlangsung sejak dulu,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra