BALI EXPRESS, SERIRIT - Jejeran patung Kamasutra yang berada di areal utama mandala Pura Dalem Purwa di Dusun Purwa, Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, Buleleng, cukup memantik rasa penasaran. Apalagi patung-patung tersebut berada di areal suci. Uniknya lagi, patung tersebut sama sekali tidak pernah mengalami perbaikan sejak dibuat, karena tak pernah rusak. Hanya saja patung itu dicat secara rutin agar tetap menarik dipandang.
Tokoh masyarakat desa Pengastulan, Gusti Nyoman Suartha, 65 mengatakan jejeran patung yang cukup vulgar, itu sudah ada seiring dibangunnya Pura Dalem Purwa Pengastulan. Hanya saja, seingatnya bentuk dan ukuran patung sama sekali belum pernah dirubah, apalagi diperbaiki. Namun untuk pemeliharaan, patung-patung tersebut cukup dicat secara rutin agar terelihat lebih menarik.
“Sejak dibuat patungnya itu sama sekali belum pernah diperbaiki, bentuknya memang seperti itu dari dulu. Hebatnya lagi, meskipun telah berusia ratusan tahun, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan, misalnya berlubang atau retak. Hanya untuk perawatan cukup melakukan pengecatan saja, biar tambah menarik,” ungkap Gusti Nyoman Suartha.
Saat ditanya makna dan filososfi yang terdapat dalam patung-patung “bersetubuh” itu, Nyoman Suartha langsung menjelaskan Personifikasi Dewa Siwa dalam fungsinya sebagai Pemralina yang bersthana di Pura Dalem dengan Saktinya Dewi Durga.
Menurutnya jika jejeran patung tersebut tidak bisa dimaknai secara mentah sebagai patung porno. Tetapi memiliki makna filosofis sebagai simbol penyatuan antara Purusha (unsur laki-laki) yang diwakili oleh Dewa Siwa dan Pradana (unsur perempuan) yang disimbolkan oleh Dewi Durga atau Parwati.
“Patung-patung ini bukanlah patung porno. Tetapi sebagai simbol menyatunya kekuatan Dewa Siwa dengan Dewi Parwati (Durga). Bisa juga dimaknai sebagai simbol menyatunya Kama Bang dengan Kama Petak (Purusha dengan Pradhana, Red),” kata Gusti Suartha. Dimana, kata dia, ada penyatuan Siwa dilambangkan Lingga dengan Parwati disimbolkan Yoni di sanalah timbulnya kebahagiaan, munculnya kemakmuran, juga kesejahteraan. Begitupun manusia. Ketika kama bang (sel telur) dengan kama petak (sperma) bertemu mengakibatkan terjadinya pembuahan itulah menyebabkan kebahagiaan serta melahirkan kehidupan yang harmoni. Makna Filosofi itulah yang dituangkan ke dalam patung-patung dengan beradegan berhubungan seks sebagai simbol penyatuan.
Kenapa patung vulgar ditempatkan di Pura Dalem Purwa? Menurutnya jika Lingga adalah simbolisasi atma atau roh, sedangkan Yoni adalah simbolisasi shakti, kekuatan dan kesadaran atma. Maksud wujud lingga yang melakukan penetrasi ke liang yoni (berhubungan seks) adalah kembalinya kesadaran, kembalinya kekuatan atma yang selama ini terselimuti dan tidur nyenyak oleh pengaruh maya, prakrti, alam materi. Atma yang kehilangan shakti, kehilangan kesadaran, menjadi awidya, alias bodoh.
“Oleh karena itu ketika nangkil ke Pura Dalem Purwa yang merupakan sthana Dewa Siwa bersama Saktinya Dewi Durga diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran umat manusia sehingga terbebas dari belenggu kebodohan terlalu mencintai materialisme,” terang Gusti Suartha.
Menurut Suartha shakti atau kesadaran atma disebut juga kundalini, yang dilambangkan sebagai yoni atau vagina. “Karena lembut penuh kasih, begitu kundalini bangkit, segala kekotoran yang menyumbat kesadaran terkikis habis, tanpa sisa,” katanya.
Bila kundalini berhasil naik melalui cakra per cakra dan di puncak bertemu atma, pertemuan itu disimbolisasikan dalam wujud liang yoni yang dimasuki lingga. Bila atma dan shakti-nya bertemu, sensasinya benar-benar nikmat. Mirip sensasi persetubuhan. Namun jauh lebih nikmat dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. “Di sanalah terbuka ranah spiritualitas seks sesungguhnya,” ungkap Gusti Suartha, pensiunan PNS yang juga penekun spiritual ini.
Dikatakan Suartha selama ini seksualitas seringkali dipahami sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan apalagi jika itu dikaitkan dengan agama. Sudah barang tentu banyak yang menolak kalau pembicaraan porno dilakukan dalam konteks beragama. Akan tetapi Hindu memberikan pandangan yang berbeda tentang seksualitas. Menurutnya kemampuan para leluhurnya dalam menciptakan simbol-simbol dalam wujud patung adalah sebagai tanda jika para leluhur terdahulu sudah memiliki kesadaran akan pendalaman spiritual yang sangat tinggi.
“Dalam Hindu seksualitas dipandang sebagai hal yang sakral dalam kehidupan manusia sebab secara implisit termuat dalam ajaran catur purusārtha, yaitu dharma, artha, kama, dan moksa. Salah satu tujuan hidup manusia adalah terpenuhinya nafsu atau keinginan (kama) yang mendorong orang berbuat sesuatu, yang membuat orang bergairah dalam hidup ini. Salah satu wujud kama adalah pemenuhan terhadap kebutuhan seks. Penyatuan Lingga dan Yoni melahirkan sesuatu yang baru, yaitu penciptaan. Perpaduan lingga dan yoni tersebut melambangkan penciptaan dunia dan kesuburan. Tanpa penyatuan tak ada generasi yang berkelanjutan. Itulah digambarkan oleh para leluhur kita terdahulu yang dituangkan dalam patung tersebut,” jelasnya.
Maka lanjut Suartha, jika tafsir seks yang disimbolkan dengan “hanya” penyatuan lingga-yoni dengan mengejar kenikmatan sesaat, bisa dipastikan tumbuh dari lingkungan yang menganggap seks itu kotor dan rendah, sudah dipastikan tak mampu menikmati seks dengan kondisi kejiwaan yang bebas, karena dikejar-kejar rasa bersalah. Kondisi jiwa bebas dan bersih adalah ketika melakukan seks tanpa rasa bersalah dan menyakiti orang lain. Maka menikah (vivaha) mutlak untuk pencapaian spiritualitas seks dengan pengertian lebih dalam. “Nah pada patung adegan Kamasutra di Pura Dalem Purwa itu kan terlihat mereka berhubungan seks hingga memiliki keturunan, berarti mereka melakukan dalam kondisi sudah menikah, bukan seks bebas, tiap adegan itu bisa dijelaskan,” kata Gusti Suartha.
Penjelasan yang berbeda diperoleh dari Ketua PHDI Desa Pengastulan, Komang Suarjana, 50. Menurutnya justru patung-patung di Pura Dalem Purwa adalah simbol kehidupan manusia yang “ruwet” karena harus terbelenggu nafsu serta tak kuasa melawan kodrat alam yakni lahir, hidup dan mati.
“Berdasarkan penuturan dari leluhur saya terdahulu jika patung di Pura Dalem Purwa ini sebagai simbol kehidupan manusia yang mengalami metamorfosis dan cenderung ruwet. Mulai hidup menyendiri dengan menahan nafsu birahi, sampai menikah dan memilih hidup bersama pasangan, kemudian berhubungan suami istri dan melahirkan anak serta hidup dengan segala masalahnya hingga tak kuasa menahan kehendak alam yakni harus dipralina (meninggal) oleh Dewa Siwa, begitu perputaran hidup seterusnya secara berulang-ulang dari lahir, hidup dan mati,” kata Suarjana.
Sementara itu, Pemangku Pura Dalem Purwa yaitu Mangku Made Pariyasa, 30 mengatakan pujawali di Pura Dalem Purwa Desa Pengastulan ini bertepatan jatuh pada rahina Buda Manis Aggarkasih Tambir, yang dirayakan setiap enam bulan sekali atau 210 hari sekali. Penyungsungnya adalah Krama Desa Pengastulan dengan jumlah sekitar 4.447 jiwa.
“Kalau pujawalinya jatuh pada rahinaBuda Manis Aggarkasih Tambir, dengan jumlah penyungsung sekitar 4.447 jiwa. Sedangkan kalau pujawali di pura Dalem Purwa, patung-patung ini tidak dibuatkan banten khusus, namun sesajennya dibuatkan satu rangkaian dengan palinggih lainnya,” pungkasnya. (habis)
Editor : I Putu Suyatra