BALI EXPRESS, SUKASADA - Unik. Itulah kata yang tepat menggambarkan keberadaan Pura Desa, Pura Mangening (Puseh) dan Pura Dalem, Desa Pakraman Sangket, Kelurahan/Kecamatan Sukasada. Ketiganya memiliki ciri khas masing-masing. Bahkan mungkin saja tak bisa ditemukan di Pura Kahyangan Tiga desa lainnya di Bali. Seperti apa cirinya?
Penciriannya adalah keberadaan pelinggih mobil di tiap pura kahyangan tiga tersebut. Misalnya di Pura Desa, bisa ditemukan pelinggih mobil sedan. Begitu juga di Pura Mangening (Puseh, Red) terdapat pelinggih mobil Truk TNI AD. Sedangkan di Pura Dalem, pelinggih mobil menyerupai Kijang Pick Up. Sungguh unik.
Khusus pelinggih mobil sedan di Pura Desa dicat warna putih. Posisinya berada di atas tugu. Bila dilihat seksama, mobil sedan ini memiliki dimensi lebar sekitar 30 cm, tinggi 20 cm dan panjang 50 cm.
Pelinggih mobil ini lengkap dengan asesorisnya. Ada ban yang dicat warna hitam lengkap dengan velg kuning emas. Bahkan tak ketinggalan asesoris lain seperti pintu, lampu, spion, hingga nomor polisi yang bertuliskan DK 9 DP. Pokoknya persis seperti mobil sedan. Hanya saja ukurannya lebih kecil.
Sedangkan, Pelinggih mobil juga bisa ditemukan di Pura Mangening yang difungsikan masyarakat sebagai Pura Puseh. Di sini, jenisnya mirip truk pengangkut pasukan TNI AD. Catnya pun berwarna hijau tua khas tentara.
Urusan asesoris yang melekat pada pelinggih Ttruk TNI tak usah ditanya lagi. Sangat detail. Mulai dari ban, lampu, spion dan sirine turut melengkapi truk pengangkut pasukan TNI AD tersebut. Bahkan penutup truk juga berwarna loreng.
Pun demikian dengan pelinggih mobil patroli TNI AD di Pura Dalem. Penggambarannya pun cukup detail. Pelinggih mobil ini bentuknya menyerupai Kijang Pick up jadul yang biasa dipakai patroli. Lengkap dengan tempat duduk yang saling membelakangi.
Anehnya, dari pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (4/2) siang, ketiga pelinggih mobil tersebut posisinya bukan di madya mandala atau utama mandala. Melainkan berada di areal jaba pura, tepatnya dekat pintu masuk pura kahyangan tiga.
Keunikan tak berhenti di sana. Setiap pelinggih mobil selalu ada bendera merah putih di sisi sampingnya. Meski demikian, wastra poleng dan putih kuning tetap masih bisa dijumpai membalut pelinggih mobil tersebut. Sehingga, kesan sakral tetap melekat.
Tentu saja keberadaan pelinggih mobil di kahyangan tiga milik Desa Pakraman Sangket memancing rasa penasaran.
Koran inipun berusaha mencari penjelasan dari tokoh masyarakat Desa Pakraman Sangket. Akhirnya, masyarakat setempat merekomendasikan agar koran ini meminta penjelasan dari Kelian Desa Pakraman Sangket, Nyoman Wijana, 55.
Ditemui di rumahnya, Nyoman Wijana tak membantah bila pelinggih mobil di Pura Kahyangan Tiga tergolong unik. Rupanya, di balik keunikan tersebut, Wijana menuturkan ada kisah historis dan mistis yang melatarbelakangi pembuatan pelinggih mobil tersebut.
Dari sisi historis, wilayah Desa Sangket sebut Wijana merupakan markas para pejuang saat merebut kemerdekaan tahun 1945. Sehingga, banyak pejuang berkumpul di wilayah Sangket untuk mengatur strategi perang melawan penjajah.
Pembangunan pelinggih mobil di tiap Pura Kahyangan Tiga dilakukan sekitar 7 tahun silam. Kala itu yang menjabat Kelian Desa Pakraman Sangket adalah Gede Tinggen. Sedangkan dirinya duduk sebagai Sekertaris Desa Pakraman Sangket. Hal itu dilakukan lantaran seringnya sutri yang kerauhan saat pujawali di Pura Desa meminta agar dibangun pelinggih mobil di pura kahyangan tiga.
“Setiap pujawali di Pura Desa, ada sutri yang kerauhan. Mereka meminta agar segera dibangun pelinggih mobil di Pura Desa, Pura Mangening dan Pura Dalem. Bahkan kerauhannya berkali-kali meminta segera diwujudkan. Nah setelah Kelian Desa Pakraman dijabat Gede Tinggen, baru bisa diwujudkan pelinggih mobil itu,” ujar Nyoman Sujana, Minggu (4/2) siang.
Bahkan, sebelum dilakukan pembangunan, Wijana menceritakan beberapa warga sempat mendengar ada suara truk tentara saat malam hari. Begitu juga suara seolah-olah ada ratusan pasukan tentara yang berjalan di malam hari. rupanya, fenomena gaib di luar logika semakin menguatkan tekad masyarakat untuk mewujudkan pelinggih mobil di Pura Kahyangan Tiga.
“Dulu saat pak Gede Tinggen menjabat kelian, Beliau pernah melihat ada truk tentara lewat disertai dengan ratusan tentara baris berbaris pada malam hari di depan pura desa. Kejadiannya seusai pecaruan Sasih Kesanga, sehari sebelum Nyepi. Setelah kejadian itu masyarakat akhirnya sepakat membangun pelinggih mobil tersebut,” ucapnya.
Dikatakan Wijana, pembangunan pelinggih mobil di Kahyangan Tiga dilakukan secara swadaya. Krama Desa Pakraman Sangket membangun dengan penuh keyakinan. Bahkan, masing-masing karakter pelinggih mobil, memiliki makna filosofis sesuai konsep utpatti (lahir, Red), stiti (hidup, Red) dan pralina (mati, Red).
Sebut saja pelinggih mobil sedan di Pura Desa. Menurutnya warna putih pada mobil sedan dianalogikan dikendarai oleh jenderal sebagai pusat komando yang mencerminkan utpeti (penciptaan, Red). Sedangkan pasukannya berstana di Pura Mangening (Puseh, Red) yang berwujud kendaraan Truk pengangkut pasukan TNI yang dipersonifikasikan sebagai pelindung (pemelihara) atau disebut stiti.
Begitu juga dengan pelinggih mobil patroli di Pura Dalem. Nyoman Wijana menyebut pelinggih mobil patroli ini dianalogikan bertugas untuk melakukan pengawasan atau pralina terhadap masyarakat Desa Sangket. “Jadi ketiga pelinggih mobil di Pura Kahyangan Tiga itu sebagai penggambaran dari konsep utpati stiti dan praline,” ujarnya.
Keunikan tak berhenti di sana. Saat pujawali di Pura Desa yang bertepatan jatuh pada Hari Raya Galungan, para sutri yang kerauhan (kesurupan, Red) sering berdandan ala pasukan TNI. Lengkap dengan baju lorengnya. “Selain di Pura Desa, di Pura Mangening dan Pura Dalem juga sama. Sutrinya dihias seperti pasukan TNI saat mereka kesurupan. Makanya di Pura Desa tersimpan secara khusus pakaian TNI AD,” tuturnya.
Lalu bagaimana dengan banten saat pujawali? Ditambahkan Wijana, tak ada persembahan khusus untuk pelinggih mobil saat pujawali di Pura Kahyangan Tiga. Oleh masyarakat ketiga pelinggih mobil dibuatkan sesajen seperti biasa, menyesuaikan dengan pujawali di tiap pura.
“Tidak ada banten khusus. Pujawalinya sama dengan pura Kahyangan Tiga. Bila di Pura Desa pujawali saat Hari Raya Galungan. Di Pura Dalem pujawali saat Hari Raya Kuningan. Sedangkan di Pura Mangening pujawalinya bertepatan dengan Purnama Sasih Kedasa. Apapun yang hendak dihaturkan warga boleh saja,” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra