Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rejang Renteng Adalah Tari Wali, Tak Patut untuk Kegiatan Formal

I Putu Suyatra • Rabu, 7 Februari 2018 | 20:35 WIB
Rejang Renteng Adalah Tari Wali, Tak Patut untuk Kegiatan Formal
Rejang Renteng Adalah Tari Wali, Tak Patut untuk Kegiatan Formal

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tari Rejang Renteng kini bangkit. Bahkan, setiap piodalan di tempat suci di Bali, tarian ini pasti kompak dipersembahkan sebagai wujud bhakti kepada yang Mahasempurna.


Tari Rejang Renteng performa penarinya sangat sederhana, pakaiannya cukup menggunakan  kebaya putih-kuning. Tentu fungsinya untuk persembahan yang luhur kepada para dewa-dewi.


Salah satu seniman tari, sekaligus penari Rejang Renteng, Ni Ketut Maskardenawangi mengatakan,  setiap tarian memiliki sejarah dan pesan yang disampaikan. “Kalau Rejang Renteng ini kelihatan sangat sederhana sekali gerakannya. Di samping itu, kebanyakan ibu-ibu sebagai penarinya, sehingga terlihat sangat ayu sekali," jelas Maskar ketika dikonfirmasi akhir pekan kemarin.



Selain ibu-ibu, lanjutnya, para pemudi dan anak-anak sesungguhnya bisa menarikan tarian ini,  khususnya para wanita.


Kini, tarian ini kompak ditarikan kaum ibu di pelosok Bali. Kecenderungan ini dinilainya sangat baik, karena disamping ngayah dan bhakti, juga bisa terlibat langsung turut melestarikannya. "Semenjak menarikan  Rejang Renteng, ibu-ibu PKK terlihat semakin kompak," akunya.



Maskar yang juga istri Kelihan Dinas, Banjar Mas, Ubud ini, mengaku  menggerakkan PKK setempat untuk belajar menari Rejang Renteng, sehingga kian terjalin  hubungan yang harmonis di banjarnya.



Maskar menjelaskan, Rejang Renteng memang sebagai tari wali yang dipentaskan saat upacara berlangsung di suatu pura. Bahkan ia mengungkapkan,  sangat keliru jika Rejang Renteng ditarikan dalam sebuah penyambutan di suatu kegiatan  formal dan tidak ada kaitannya dengan upacara.



Sebagai tari yang dipersembahkan kepada Dewa, lanjutnya, Rejang adalah tarian disakralkan, apalagi dalam pelaksanaannya harus memerlukan sebuah upakara khusus sebelum pementasan.



Di sisi lain,  guru Seni Tari ini mengelak pementasan tarian Rejang Renteng sebagai ajang fashion karena pakiannya sangat sederhana, yaitu putih-kuning,  sehingga tidak ada yang perlu dipamerkan dalam tarian tersebut. "Tujuan menari di pura dasarnya adalah untuk ngayah dan atas ketulusan," bebernya.



Model seperti ini, lanjutnya, juga sebagai salah satu cara membenahi persepsi masyarakat pada umumnya, karena kalau ibu-ibu kumpul kan sering dibilang ngegosip. "Jadi, kita tunjukkan kalau kita berkumpul untuk ngayah dan kegiatan yang postif,” papar ibu dua anak tersebut.



Pada bagian gerak Tari Rejang Renteng, lanjutnya, selalu memberikan makna sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Mahapencipta.
Gerak utama pada tarian ini disebut Nyalud dan Ngelung. Nyalud adalah gerak tangan yang mengarah kedalam dengan kedua lengan menutup dan membuka di depan dada dan posisi kaki secara bergantian kanan dan kiri berada di depan. Sedangkan Ngelung adalah gerakan merebahkan diri ke kanan dan ke kiri disertai satu tangan lurus ke samping dan satu menekuk ke arah dada. Pada bagian akhir pada tarian ini dinamakan memande, yakni gerakan dalam bentuk melingkar (renteng),  di mana para penari memegang selendang penari lainnnya yang ada di depannya membentuk lingkaran yang tak putus.


Pada tempat  berbeda, Dosen IHDN Denpasar, Anak Agung Pertu mengharapkan,  Tarian Rejang Renteng tidak menjadi pasang surut . “Saya berharap Tarian Rejang Renteng ini memang murni untuk pelestarian budaya, khusunya seni tari. Sehingga tidak hanya mengikuti zaman. Sekarang zamannya Rejang Renteng, semua ikut menarikan sampai ke pelosok desa. Kalau sudah beda zamannya, lagi beda yang ditarikan, dan Rejang Renteng kembali tak dipergunakan. Jadi, ini juga untuk eling, yaitu tahu akan keberadaan diri kita di Bali yang memiliki banyak tarian,” ungkap pria asli Batubulan, Gianyar ini.


Rejang Renteng kini hampir di masing-masing desa membangkitkannya.  Selain sebagai tari wali yang berfungsi untuk pangider bhuana, juga tergolong tarian sakral.



Ia mengungkapkan, selain untuk dihaturkan saat upacara keagamaan berlangsung, Rejang Renteng juga dikaitkan dengan Tarian Gabor. Dikarenakan gerakannya sederhana, namun penuh dengan makna, apalagi ditarikan kaum ibu yang punya kelembutan.



Pria yang juga tamantan ISI Denpasar  ini, menambahkan, Rejang Renteng sekarang mulai dikenal oleh masyarakat karena ada pengkajian secara khusus. Sehingga ia sendiri menganggap, selain ajang ngaturang ngayah, juga dapat menampilkan ibu-ibu PKK. Sebab, selain ke pura untuk menghaturkan  banten, mereka juga dapat ngayah menari. Cara ini diakuinya sangat positif karena dalam proses tarian tersebut, memerlukan waktu untuk latihan di banjar, sehingga interaksi sosial ibu-ibu yang pada umunnya diam di rumah menjadi ada interaksi dengan yang lain.



Kaprodi Pemandu Wisata Hindu, IHDN Denpasar ini mengatakan,  Rejang Renteng adalah satu jenis tarian yang dilakukan secara berkelompok dengan jumlah yang cukup banyak,  pakainnya sangat sederhana, menggunakan sebuah selendang yang lebih panjang di pinggang. Para penari diikat dalam suatu rangkaian yang disebut dengan renteng, menggunakan benang berwarna putih. Sedangkan ciri khusus tarian ini, lanjutnya,  sebagai pangider bhuana di pura yang dihaturkan sebuah upkara, yakni berupa sebuah jempana sebagai lingggih Ida Bhatara yang dituntun oleh mereka.



Tari Rejang Renteng memberikan makna kepada semua orang yang ada di bumi ini untuk melepas ego pribadi. Setiap orang harus mencapai bagian terbaik dan harus menyamakan ritme dengan orang lain di lingkungannya,  tanpa ada rasa iri dan dengki, tanpa saling mendahului (tanpa persaingan), sehingga  menjadi pribadi penuh kasih dan siap saling membantu menuju jalan yang diberkati Tuhan. Tari Rejang Renteng berasal dari Nusa Pendiam, Banjar Saren, Klungkung. Renteng berasal dari kata rente yang berarti tua. Rejang Renteng ditarikan oleh orang yang sudah kawin (tua).




Tua mempunyai arti luas, yaitu dilihat dari gerakannya yang halus, keharmonisan antara musik dan gerakannya, kostum yang sederhana serta tidak memakai gelungan, hanya memakai bunga jepun, sanggul Bali, baju kebaya putih
polos kutu baru tangan panjang, kain kuning, dan selendang kuning. Aslinya mamakai tapih putih, musiknya sederhana tidak banyak kotekan (polos), halus, ritmis, dan dinamis. 

Editor : I Putu Suyatra
#tari bali #hindu