Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngaben Unik di Kedungu; Punya Setra, tapi Pantang Ngaben di Setra

I Putu Suyatra • Minggu, 18 Maret 2018 | 16:57 WIB
Ngaben Unik di Kedungu; Punya Setra, tapi Pantang Ngaben di Setra
Ngaben Unik di Kedungu; Punya Setra, tapi Pantang Ngaben di Setra

BALI EXPRESS, TABANAN - Upacara Pitra Yadnya seperti halnya ngaben pada umumnya dilakukan oleh umat Hindu di setra atau kuburan setempat. Namun berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh krama Desa Pakraman Kedungu, Desa Belalang, Kecamatan Kediri, Tabanan. Pasalnya krama di Desa Pakraman Kedungu melakukan upacara Ngaben di pantai (Segara) dan pantang melakukan upacara pengabenan di setra.


 


Pada umumnya proses pengabenan yang dilakukan umat Hindu di Bali adalah di setra. Namun di Bali sendiri ada sejumlah Desa Pekraman yang pantang melakukan Upacara Ngaben di setra salah satunya adalah Desa Pekraman Kedungu, Desa Belalang, Kecamatan Kediri, Tabanan.


Bendesa Adat Desa Pekraman Kedungu, I Made Sirna mengungkapkan bahwa hal tersebut sudah berlangsung secara turun temurun meskipun hingga saat ini belum ada yang tertulis secara resmi.


“Prosesi Upacara Ngaben di tepi pantai ini sudah kami lakukan secara turun temurun, meskipun belum ada tertulis dalam prasasti,” tegasnya.


Lebih lanjut dijelaskan, pantangan melakukan Upacara Ngaben di setra setempat dikarenakan posisi Setra Desa Pekraman Kedungu berada di areal Pura Kahyangan Tiga. Sehingga masuk dalam radius kawasan suci Pura. Atas pertimbangan radius kesucian Pura itulah maka krama melakukan Upacara Ngaben di pantai, dimana di wilayah Desa Pekraman Kedungu terdapat Pantai Kedungu.


“Jarak antara setra dengan Pura Kahyangan Tiga bisa terbilang sangat dekat. Sehingga apabila dilakukan pembakaran layon abu bisa saja beterbangan  sehingga merusak kesucian Pura,” jelas Sirna.


Dirinya menambahkan Setra Desa Pekraman Kedungu tersebut dikelilingi oleh Pura Kahyangan Tiga di antaranya Pura Dalem yang terletak di sebelah barat setra dengan jarak 7 meter, kemudian di sebelah barat Pura Dalem terdapat Pura Puseh dan Pura Bale Agung dengan jarak dari Setra sekitar 50 meter lebih. 


Di samping itu, krama Desa Pekraman Kedungu juga pantang melaksanakan prosesi Ngangkid atau membongkar kuburan yang biasa dilakukan sebelum prosesi Upacara Ngaben. Pasalnya menurut cerita turun temurun, apabila krama melakukan proses Ngangkid tersebut maka akan menimbulkan penyakit di Desa Pekraman Kedungu jika ada jenazah yang masih berbau.


“Maka oleh itu ketika Upacara Ngaben, maka jenazah akan disimbolkan dengan Daksina. Jadi prosesi Pengabenan di sini sama seperti pada umumnya, hanya saja jenazah orang yang akan diaben disimbolkan dengan Daksina karena di sini pantang melakukan prosesi Ngangkid,” lanjutnya.


Prosesi tersebut berlaku bagi krama yang jenazahnya langsung dikubur saat meninggal, sehingga pada saat melakukan Upacara Ngaben maka jenazah tidak akan digali lagi melainkan menggunakan Daksina. Namun apabila krama tersebut meninggal dan langsung diaben maka jenazahnya akan langsung diaben dan dibakar di pantai.


“Kalau untuk Ngaben masal biasa kami lakukan lima tahun sekali. Dan prosesi Ngaben ini dilakukan di tiga Banjar Adat yang masuk di Desa Pekraman Kedungu, yakni Banjar Adat Kedungu, Banjar Adat Dauh Rurung, dan Banjar Adat Jelinjing,” imbuhnya.


Rentetan proses Upacara Ngaben di Desa Pekraman Kedungu sejatinya tak jauh berbeda dari Upacara Ngaben pada umumnya. Dimana hari pertama biasa diawali dengan prosesi Ngungkab Lawang, yang dilanjutkan ritual Ngulapin. Kemudian barulah dilakukan prosesi Ngangkid atau Ngedetin jenazah di Setra yang disimbolkan dengan Daksina.


Lalu akan dilanjutkan dengan prosesi Ngunggahang Lawang di Bale Bangsal yang sudah disiapkan oleh karma berupa bangunan non permanen yang terbuat dari bambu sebelum keesokan harinya akan berlangsung Upacara Ngaben.


“Karena tradisi ini memang kami warisi sejak dulu jadi kami berharap bisa tetap dilestarikan dan diwarisi oleh generasi muda di Desa Pekraman Kedungu sendiri,” tutupnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#ngaben #tradisi unik #ritual hindu