Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kemanunggalan Bhuana Agung dan Alit Jadi Landasan Membangun Rumah

I Putu Suyatra • Selasa, 27 Maret 2018 | 17:45 WIB
Kemanunggalan Bhuana Agung dan Alit Jadi Landasan Membangun Rumah
Kemanunggalan Bhuana Agung dan Alit Jadi Landasan Membangun Rumah

BALI EXPRESS, DENPASAR - Dalam kepercayaan orang Tionghoa, membangun rumah sesuai arah dan tata cara yang tepat dapat membawa keberuntungan dan rezeki bagi penghuninya. Di Bali juga memiliki kepercayaan serupa. Jika warga Tionghoa menyebut tata caranya dengan feng shui, di Bali disebut Kosala  Kosali. Lantas, apa sebenarnya Kosala Kosali, dan bagaimana seharusnya membangun rumah di Bali, agar selalu diberi peruntungan dan limpahan rezeki? 


Kosala kosali merupakan aturan atau tatacara menata lahan dan membangun tempat tinggal dan tempat suci yang telah lama diterapkan di Bali. Tata cara arsitektur ini, tercatat dalam lontar Asta Bhumi dan Asta Kosala Kosali. Dua lontar tersebut berangka abad  ke 11 sebelum masehi. Jika ditilik dari segi filosofi, Asta Kosala Kosali  tak lepas dari hubungan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Bhuana Alit digambarkan sebagai tubuh manusia yang unsur – unsurnya berasal dari unsur panca maha bhuta yang dapat hidup berkat atman. Sedangkan Bhuana Agung berupa lingkungan serta alam yang dapat hidup berkat Tuhan sebagai atmannya. Lantas, apa hubungannya Bhuana Agung dan Bhuana Alit dengan Asta Kosala Kosali? Kemanunggalan Bhuana Agung dan Bhuana Alit menjadi landasan dari pembangunan rumah umat Hindu dengan tujuan keharmonisan, keberuntungan serta rezeki yang melimpah bagi si pemilik rumah. 



Menurut Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda, dalam Asta Kosala Kosali terdapat landasan dasar dalam membuat bentuk bangunan, dan unsur pembentuk tersebut harus memiliki dasar Tri Hita Karana serta pangider – ider Dewata Nawa Sanga. Dasar Tri Hita Karana, lanjutnya, dimaksudkan rumah tersebut harus memiliki dasar palemahan, pawongan, dan parahyangan.  "Parahyangan biasanya diwujudkan dengan adanya bangunan merajan di dalam rumah, pawongan disimbolkan manusia yang menempati rumah tersebut. Sedangkan palemahan disimbolkan sebagai tanah tempat rumah tersebut berdiri," papar sulinggih yang juga dosen di Institute Hindu Dharma Negeri Denpasar (IHDN),  Senin (26/3) kemarin. 



Ditegaskannya,  sangat penting memperhitungkan Asta Kosala  Kosali dalam membangun rumah di Bali. “Dalam Asta Kosala  Kosali sangat penting memperhatikan pangider – ider (Dewata Nawa Sanga), sebab kita di Bali percaya setiap arah penjuru mata angin memiliki penguasanya. Artinya, jika kita mengikuti aturan yang telah ada pasti akan membawa pengaruh baik untuk keluarga yang tinggal di rumah itu,” ujar Mpu Acharya Nanda. 



Dalam Asta Kosala Kosali, setiap bangunan rumah memiliki arah letaknya sendiri sesuai Dewata Nawa Sanga. Contohnya dapur, sebaiknya ditempatkan di arah selatan. Hal ini terkait Bhatara Brahma dengan simbolisnya sebagai agni (api) yang berada di arah selatan. Lalu perhatikan juga letak Merajan pada rumah. Dalam lontar Asta Kosala Kosali tertulis merajan harus ada di arah timur, tepat di arah matahari terbit. Hal ini terkait Bhatara Surya yang posisinya ada di arah timur. “Jika Anda ingin membangun sumur, selain ketersediaan sumber mata air, perhatikan juga arahnya. Sumber erat kaitannya dengan Shang Hyang Wisnu, beliau pemberi kehidupan, makanya letakkan sumur di arah utara,” paparnya.



Ditambahkannya, ada yang unik dari sistem Asta Kosala  Kosali. Metode pengukuran yang digunakan bukanlah berdasarkan ukuran centimeter atau meteran seperti bangunan pada umumnya. Metode yang digunakan adalah mengukur dengan ruas tangan, ukuran siku dan anatomi tubuh sang pemilik rumah. “ Ukuran yang digunakan adalah ukuran tubuh si pemilik rumah. Metode pengukurannya disebut Musti, Hasta, dan Depa. Musti mengukur dengan menggunakan ukuran kepalan tangan si pemilik," urainya.


Caranya? Si pemilik akan diminta untuk mengepalkan tangan dengan ibu jari posisi ibu jari tengah terbuka.



Selain Musti, Mpu Acarya Nanda juga memaparkan mengenai metode Hasta dan Depa. Hasta adalah sebuah metode pengukuran yang menggunakan ukuran jengkal tangan si pemilik. Yaitu dengan merentangkan pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka. Depa adalah teknik mengukur dengan menggunakan bentangan tangan si pemilik rumah. Caranya, dengan membentangkan tangan dua kali dari kiri ke kanan. Mengapa harus menggunakan tubuh si pemilik sebagai teknik mengukur bangunan? Dijelaskannya, dalam lontar dikatakan bahwa rumah yang ideal adalah rumah yang sesuai dengan ukuran tubuh si pemilik rumah. Tidak besar maupun kecil. Tidak kurang maupun lebih. Begitupun rezeki dan keberuntungan yang datang akan lebih ideal kepada si pemilik rumah.



Bangunan rumah di Bali memang agak berbeda dari rumah – rumah adat, maupun rumah modern lainnya. Sebab, rumah khas Bali tak hanya terdiri dari sebuah bangunan inti, melainkan terdiri dari beberapa bangunan yang memiliki fungsi yang tak kalah penting dari bangunan inti. Di Bali sebuah rumah dikatakan lengkap,  jika memiliki Pamerajan, Umah Meten, Bale Sakepat, Bale Tiang Sanga, Bale Dangin, Lumbung, Paon (dapur), Aling – aling, dan Angkul - angkul. Lantas, apa fungsi dan di mana letak masing – masing bangunan tersebut? 
Sulinggih asal Gianyar ini, menjelaskan,  merajan merupakan tempat yang digunakan sebagai tempat persembahyangan sekaligus persemayaman para leluhur. Di Bali, Merajan merupakan unsur vital yang harus ada di setiap rumah. Umumnya merajan harus ada di sisi timur laut pada sembilan petak pola ruang. Kemudian, Umah Meten, yaitu sebuah bangunan inti, di mana biasa digunakan untuk beristirahat atau tidur oleh pemilik rumah, khususnya kepala keluarga dan istrinya. Biasanya bangunan ini berada di tengah, namun menjorok kedepan sebagai bangunan inti, dan posisinya lebih tinggi dibanding Bale Sakepat. Bale Sakepat umumnya difungsikan sebagai tempat peristirahatan anak – anak maupun anggota keluarga lainnya. Posisinya bersebelahan atau di belakang Umah Meten sebagai bangunan inti. 



Selain Bale Sakepat, ada juga yang disebut Bale Tiang Sanga. Bale ini biasanya digunakan sebagai bangunan atau ruang untuk menerima tamu yang datang. Letaknya masih berdekatan dengan bangunan inti lainnya. Ada juga yang disebut Bale Dangin. Bangunan ini umumnya difungsikan sebagai ruang keluarga. Di mana bale ini sebagai tempat berkumpulnya anggota keluarga. Letaknya di sebelah dangin dari pusat Ista Dewata. Biasanya, masyarakat yang memiliki tanah terbatas, menjadikan fungsi  Bale Dangin juga sebagai Bale Tiang Sanga, yakni  sebagai ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Selanjutnya ada Lumbung, yang  merupakan bangunan berupa bale kecil dengan tempat penyimpanan beras di atasnya. Lumbung ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan beras atau pun hasil panen. Umumnya, Lumbung diletakkan di sebelah belakang dari rumah inti, namun dekat dengan dapur. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan bagi pemilik rumah ketika mengambil hasil panen untuk dimasak. 



Ada juga yang disebut Aling- aling. Aling – aling tidak berupa bangunan utuh, kadang hanya berupa tembok atau hiasan penyekat. Fungsinya hanya sebagai penyekat agar dari pintu masuk orang tak dapat langsung melihat kondisi rumah di dalam. Letak Aling – aling umumnya di depan dekat pintu masuk.
Terakhir ada Angkul – angkul. Angkul – angkul juga bukan sebuah bangunan utuh seperti rumah. Angkul –angkul lebih tepat dikatakan sebagai pintu gerbang ala Bali. Ada banyak jenis Angkul – angkul sesuai desa kala patranya. Letak Angkul – angkul umumnya di depan sebagai pintu masuk utama.


Ilmu Kosali Kosali bersumber dari dua lontar, yaitu lontar Asta Bhumi dan Asta Kosala Kosali. Dalam dua lontar ini diceritakan pula mengenai Bhagawan Wiswakarma. Siapakah Bhagawan Wiswakarma ini? 


Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda mengungkapkan, Bhagawan Wiswakarma adalah seorang arsitektur yang tersohor dalam kisah Mahabarata. Bhagawan Wiswakarma dahulu diminta membuatkan sebuah bangunan yang akan digunakan sebagai istana oleh Shri Kresna ketika itu. Dan, uniknya, Bhagawan Wiswakarma tak hanya membuat istana tersebut di atas tanah seperti bangunan lainnya. Ia justru membuat istana Shri Kresna di sebuah lautan. Bahkan, istana tersebut dikatakan istana terindah jika dilihat dari tata letaknya. 



“Dari kisah tersebut, maka Bhagawan Wiswakarma juga dikenal sebagai Dewa Arsitektur di Bali. Bhagawan Wiswakarma juga yang memperkenalkan adanya pembagian Nista, Madya, dan Utama dalam Kosala Kosali. Maka, jangan heran tiap melaksanakan upacara pelamlaspasan, Bhagawan Wiswakarma juga dipuja dalam pelaksanaannya. " Diharapkan dengan adanya restu dari Bhagawan Wiswakarma, bangunan tersebut memiliki jiwa dan dapat memberikan vibrasi positif dan mendatangkan keberuntungan bagi penghuninya,” ungkapnya.
Mpu Acharya Nanda mengimbau kepada masyarakat, ketika membangun tak asal ulah aluh, harus mengikuti ketentuan yang tercatat dalam lontar Asta Kosala Kosali. Agar ketika menempati rumah tersebut, keluarga damai, dilimpahi keberuntungan dan rezeki.

Editor : I Putu Suyatra
#asta kosala kosali