BALI EXPRESS, DENPASAR - Pernahkah Anda mendengar Geguritan maupun Pupuh? Geguritan merupakan sebuah nyanyian tradisional Bali yang menggunakan bahasa Bali. Syairnya sangat sedehana, namun syarat petuah kehidupan, seperti halnya Geguritannya Nengah Jimbaran.
Geguritan merupakan salah satu jenis kesusastraan Bali yang masih dinikmati dan dialunkan masyarakat Bali dalam ritual keagamaan maupun acara budaya. Geguritan tergolong dalam genre kesusastraan Purwa yang berbentuk tembang atau nyanyian. Dalam lontar Gita Sancaya dipaparkan, Geguritan hakikatnya adalah sebuah karya sastra yang berbentuk puisi dan diikat oleh kaidah mantra. Contoh Geguritan yang telah banyak dikenal, seperti sekar alit dan pupuh sinom.
Ahli Lontar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Putu Eka Gunayasa,S.S., M.Hum, menjelaskan, Geguritan umumnya memiliki sejumlah suku kata yang terdapat dalam satu baris yang disebut wilangan, dan memiliki pula beberapa jumlah baris dalam satu bait yang disebut guru dengan guru gatra. Selain itu, Geguritan juga memiliki pola ritme yang tetap dan pola nada akhir yang sama dalam tiap baris. Pola nada yang sama ini disebut juga guru ding – dung. Gunayasa menuturkan, Geguritan memiliki banyak jenis, dan beberapa di antaranya cukup unik.
“Saya lihat, Geguritan belakangan ini cukup populer di masyarakat,karena bahasa yang digunakan cukup sederhana. Selain itu, Geguritan dalam syairnya menceritakan tentang kehidupan, entah itu soal petuah, kesetiaan seorang raja, cinta, kehancuran kerajaan," bebernya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (28/3).
Maka jangan heran, lanjutnya, jika Geguritan lebih banyak peminatnya dibanding karya sastra Bali lainnya. Gunayasa menambahkan, Geguritan memiliki beragam macam, di antaranya Geguritan mengenai kehancuran sebuah kerajaan, seperti Geguritan Bali Dwipa, 1930 – 1906 caka. Lalu ada pula Geguritan yang bercerita soal kisah cinta, seperti Nala Dharmayanti, Nengah Jimbaran, dan Salya. “Dari semua jenis Geguritan itu, yang menarik justru Nengah Jimbaran yang berisi tentang kisah cinta yang konon pernah terjadi,” ujarnya.
Gunayasa mengungkapkan, Geguritan Nengah Jimbaran ditulis oleh seorang Raja Badung ketika itu. Geguritan yang menceritakan soal rasa cinta dan kehilangan yang begitu mendalam itu ditulis oleh I Gusti Ngurah Made Agung. Menggunakan syair berbahasa Melayu, nyanyian itu bercerita tentang rasa kehilangan seorang laki – laki bernama Nengah Jimbaran.
Nengah Jimbaran harus rela kehilangan istrinya karena wabah kolera yang ketika itu terjadi. Kidung tersebut ditemukan pada tahun 1903 caka, dan disalin kembali pada 1928 masehi. “Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu, ini cukup langka. Karena pada masa itu, sebagian besar karya sastra umumnya menggunakan bahasa Bali atau Jawi kuna. Gusti Ngurah Made Agung ketika itu justru berani menggunakan bahasa Melayu dalam Geguritan,” ujarnya.
Dalam Geguritan Nengah Jimbaran diceritakan bagaimana mala petaka wabah kolera ketika itu membuat masyarakat cemas. Dalam beberapa baitnya, Gusti Ngurah Made Agung menyisipkan petuah bagi raja – raja Badung ketika itu. Dalam bait berbahasa Melayu tertulis :
“Serta lagi supaya berpikir, siang malem tyada keputusan, memikir negri slamete, daerah Kota Badung, serta sampe jajahan pinggir, rajin-rajin mamreksa, apa sudah betul, apa belum kejalanen, apa suka apa susah orang negri, itu supaya terang. Itu negri yang badan sendiri, tyada boleh jaga dengen lengah, jikalau kasihan dirine, negri juga begitu, tyada boleh dibuat lain, hati sendiri jangan, dibedakan wujud, sama hati orang banyak, kita susah orang lain susah lagi, timbang dengan ikhtiar. Kita minta kepada Hyang Widi, kasih inget orang pegang pangkat, raja – raja sekaliane, yang ada di negri Badung, supaya membikin suci, slamat badan dan rakyat, dengan serta kukuh , bakti kepada Hyang Sukma, umur panjang, bertambah –tambah rejeki, yang turun Arya Damar.”
Dalam tiga bait tersebut, Gusti Ngurah Made Agung memberi petuah, bagaimana seharusnya pemerintah yang berkuasa ketika itu menghadapi wabah yang menelan cukup banyak korban. “Dalam Geguritan, memang umumnya diselipi beberapa petuah. Petuah tersebut bisa jadi terkait dengan situasi genting ketika itu,” ujarnya.
Gunayasa memaparkan, dalam Geguritan tersebut, Gusti Ngurah Made Agung ingin menceritakan betapa kelamnya kondisi negeri Badung ketika itu. Wabah kolera yang terjadi di mana – mana. Lewat penggambaran tokoh Nengah Jimbaran, Gusti Ngurah Made menggambarkan penderitaan keluarga, serta para penderita kolera. Nengah Jimbaran, dikatakan seorang yang berkecukupan, kondisi negeri terbilang cukup makmur sebelum wabah terjadi.
Namun, ketika wabah kolera mulai menjangkit, banyak penderitaan yang terjadi. Rakyat merasa sangat sengsara, termasuk Nengah Jimabaran. Ia mendapati istri yang dicintainya menderita penyakit yang mengerikan. Sekujur tubuh istrinya tampak tak indah lagi. Tubuhnya kian lama kian kurus. Kini baginya istri yang dahulu cantik dan begitu ia cintai, tak berdaya oleh sebuah penyakit yang tak diketahui pada masa itu. Dalam Geguritan diceritakan pula, bagiamana perjuangan Nengah Jimbaran ketika itu mencari obat untuk kesembuhan sang istri. Segala macam ilmu telah dipelajarinya, segala macam obat telah dicobanya. Semua balian dan ahli usada telah dikunjunginya. Namun sayang, istri yang ia cintai akhirnya tak pernah tertolong.
Paska sang istri yang tiada, Nengah Jimbaran dikatakan sangat menderita. Penderitaan dan rasa kehilangannya bahkan begitu mendalam. Ia putus asa, hingga akhirnya ia melakukan tapa brata. Rasa rindu yang kuat, kesedihan mendalam akhirnya membuat tapa brata yang ia jalani diterima sang pencipta. Diakhir syair diceritakan bahwa Nengah Jimbaran akhirnya dapat bertemu kembali dengan sang istri berkat tapa yang dilakukannya.
“Dalam penggambaran kisah Nengah Jimbaran, Gusti Ngurah Made Agung memang banyak menggunakan kiasan. Maklum saja, karena Geguritan ini kan notabene sebuah syair puisi yang memiliki nada. Jadi, tak seperti prosa yang lugas menggambarkan secara detail. Geguritan justru lebih terikat dan menggunakan kata – kata kiasan,” ujarnya.
Geguritan umumnya digunakan dalam ritual keagamaan, seperti manusia yadnya ataupun pitra yadnya. Gunayasa mengungkapkan, Geguritan jika dikaji dari aspek penggunaanya dapat diartikan sebagai kidung atau nyanyian yang dinyanyikan pada saat pelaksanaan yadnya. Dalam pelaksanaan yadnya, lanjutnya, biasanya menggunakan jenis Geguritan yang berbeda. Contohnya saja dalam upacara pitra yadnya, biasanya menggunakan Geguritan seperti Mas Kumambang, Grisa, Sronca (Geguritan nyiramin layon), lalu ada juga Geguritan wawu seda.
Dalam upacara dewa yadnya, juga menggunakan beberapa Geguritan, di antaranya Kawitan Wargasari, Kidung Wargasari, Merdu Komala dan Nunas Tirta. “Masing – masing Geguritan tersebut dinyanyikan dalam kondisi yang berbeda. Kawitan Wargasari biasanya dinyanyikan ketika awal persembahyangan, sedangkan Kidung Wargasari dinyanyikan saat menghaturkan sesajen,” ujar Gunayasa.
Lain lagi dengan penggunaan Geguritan pada upacara manusia yadnya. Biasanya Geguritan pada upacara ini, menceritakan tentang perjalanan seorang manusia ketika mencapai tahapan tertentu. Seperti ketika masih dalam kandungan, nelu bulanin, menek kelih, hingga mapandes. Dalam Geguritan manusia yadnya umumnya berisi doa doa, yang dinyanyikan dalam upacara upacara manusia yadnya, di antaranya Trantri dan Demung Sawit.