BALI EXPRESS, AMLAPURA - Desa Tenganan Pegringsingan, destinasi wisata yang sangat diminati wisatawan. Salah satu desa tua di Bali yang berada di Manggis, Karangasem ini, hingga kini u itetap mempertahankan adat dan tradisinya yang unik.
Putu Suwirya, pramuwisata lokal Desa Tenganan yang biasa memandu wisatawan untuk berkeliling areal pemukiman Desa Tenganan, menceritakan, wisatawan yang datang ke Desa Tenganan tidak akan disuguhi dengan fasilitas wisata modern, tetapi akan diajak untuk melihat secara langsung pola perkampungan tradisional yang ada di Desa Tenganan. “Kami di Desa Tenganan, sampai saat ini masih menjalankan pola hidup seperti yang kami warisi dari generasi sebelumnya,” jelasnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin di Tenganan.
Salah satu bentuk tradisi yang masih dijalankan dalam pola kehidupan masyarakat Tenganan, lanjut Wirya, adalah pola pemukiman yang ada di Desa Tenganan. Dalam sistem perumahan di Desa adat Tenganan ini, masyarakat Desa Tenganan masih mempertahankan pola pemukiman seperti benteng.
Pola ini diterapkan karena dalam sistem kepercayaan masyarakat Tenganan, masyarakatnya memuja Dewa Indra sebagai dewa tertinggi. Dewa Indra dalam mitologi agama Hindu merupakan manifestasi Tuhan sebagai Dewa Perang. Setelah melihat perumahan masyarakat, wisatawan selanjutnya akan diajak melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan kain tenun Gringsing yang menjadi aktivitas rutin masyarakat Tenganan, khususnya kaum perempuan.
Kain Gringsing merupakan satu-satunya kain tenun tradisional di Indonesia yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat. “Umumnya masyarakat Tenganan menggunakan kain ini dalam setiap aktivitas upacara keagamaan,” ungkapnya.
Dijelaskan Wirya, kata Gringsing mengadung arti sebagai penolak bala, karena kata Gringsing berasal dari dua suku kata, yakni Gring yang berarti sakit, dan Sing berarti tidak, sehingga bila digabungkan menjadi tidak sakit. Maksud yang terkandung di dalam kata tersebut adalah seperti penolak bala.
Beli Oleh-oleh Kalender Lontar
Setelah puas berkeliling di Desa Tenganan, selain membawa pulang oleh-oleh berupa foto dengan latar belakang rumah-rumah tradisional Tenganan, wisatawan juga bisa membawa pulang oleh-oleh berupa kalender lontar, telur hias, kerajinan ata, dan kain Gringsing.
Oleh-oleh khas Tenganan ini dijual mulai dari pintu masuk hingga rumah-rumah penduduk yang setiap rumahnya memang memiliki spot khusus untuk memajang beragam jenis kerajinan. “Untuk yang di rumah-rumah ini, produk kerajinannya biasanya diproduksi sendiri oleh masyarakat Tenganan,” jelasnya.
Selain di rumah penduduk, wisatawan juga bisa membeli oleh-oleh di toko-toko yang ada di areal parkir kendaraan yang ada di luar teritori Desa Tenganan. Kalender yang terbuat dari daun lontar ini, berisi urutan waktu yang sesuai dengan sistem penanggalan kalender Bali pada umumnya. Selain dibuat kalender, gulungan lontar ini juga ada yang ditulisi cerita pawayangan, seperti Ramayana dan Mahabharata.
Kalender Bali ini dibanderol dengan harga Rp 100 ribu sampai dengan Rp 500 ribu, tergantung kualitas kerumitan gambarnya. “Selain kalender, di sini juga dijual beragam oleh-oleh lain, seperti pembatas buku, gantungan kunci, dan beragam jenis pernak-pernik yang terbuat dari daun lontar atau anyaman ata,” papar Wirya.
Editor : I Putu Suyatra