Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Wali Wayang Wong Desa Tejakula; Tak Ngayah Bisa Diganggu

I Putu Suyatra • Minggu, 8 April 2018 | 22:36 WIB
Tari Wali Wayang Wong Desa Tejakula; Tak Ngayah Bisa Diganggu
Tari Wali Wayang Wong Desa Tejakula; Tak Ngayah Bisa Diganggu

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Wayang Wong merupakan salah satu tarian sakral yang menggabungkan kesenian Parwa dengan kesenian Gambuh. Penarinya pun orang khusus karena ada pakem yang mengaturnya.


Tari Wayang Wong yang berasal dari Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula ini sudah memiliki agenda pasti untuk dipentaskan, khususnya di Pura Pemaksan, Pura Kahyangan Tiga, dan Pura Dangka Desa Tejakula. Bahkan, puluhan topeng Wayang Wong disimpan di Pura Pemaksan yang diyakini telah ada sejak abad ke- 16. Seperti diungkapkan salah satu pragina Wayang Wong Gede Komang, yang sekaligus sebagai Ketua Yayasan Teja Kukus yang khusus bergerak di bidang pelestarian Tari Wali Wayang Wong. Bahwa pragina (penari) yang menarikan Wayang Wong itu harus berdasarkan garis keturunan. Artinya,  jika para leluhurnya pragina tersebut dulunya adalah penari Wayang Wong, maka keturunannya mulai dari anak cucu dan seterusnya wajib mempelajari dan menarikan Tari Wali Wayang Wong. Ini dilakukan berdasarkan Bhisama (keputusan paruman) yang sudah disepakati oleh para leluhurnya terdahulu.


“Tarian ini hanya boleh ditarikan oleh seseorang berdasarkan garis keturunan, artinya jika leluhurnya terdahulu adalah penari, maka generasi penerusnya wajib ngayah, yakni mempelajari dan menarikan tarian ini," bebernya. 


Jika tidak, lanjutnya, maka akan mengalami gangguan, seperti disakiti secara niskala. Sehingga, tidak ada yang berani menolak untuk menarikan tarian ini, jika memang  sudah berada di garis keturunan itu. "Tentu saja tarian ini tidak mungkin bisa punah karena sudah pasti ada generasi penerusnya,” ujar Gede Komang kepada Bali Express (Jawa Pos Group). 


Bukan itu saja yang membuat tarian ini memiliki nilai magis yang tinggi. Tarian Wayang Wong juga diyakini telah ada sejak abad ke 16. Dan, ratusan topeng tersebut disimpan di Pura Pemaksan, dan hanya dikeluarkan saat akan ditarikan di sejumlah Pura Kahyangan Tiga dan Pura Dangka di Desa Tejakula, ketika digelar piodalan.



Namun, jika ingin menampilkan di luar areal pura pada saat festival ataupun pementasan lainnya, maka yang ditampilkan adalah topeng duplikatnya saja. Sedangkan sebelum pementasan di pura, para pragina wajib melakukan persembahyangan rutin dengan berbagai ritual khusus untuk memohon keselamatan dan meningkatkan taksu dari topeng yang dipakai.


“Konon, beberapa seniman cukup punya peran penting dalam kemunculan Wayang Wong ini. Ada I Gusti Ngurah Jelantik, seorang seniman yang datang ke Tejakula pada abad ke-16, serta I Dewa Batan, seniman yang datang ke Tejakula pada abad ke-15," terangnya.



Dikatakan Gede Komang, mereka diperkirakan membuat topeng-topeng berbahan kayu Pule dengan mengambil karakter-karakter dari epik Ramayana. Sehingga, lakon yang diambil hanya mengisahkan tentang cerita Ramayana saja.



Tari Wali Wayang Wong sendiri telah mendapat pengakuan dunia dari UNESCO dan telah ditetapkan sejak tahun 2015 lalu. Wayang Wong masuk dalam tiga genre tari tradisi di Bali (Three Genre of Traditional Dance in Bali) yang terdiri dari sembilan tari tradisional Bali, resmi dimasukkan ke dalam UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, atau Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.



Seperti dijelaskan Gede Komang, pengakuan itu bermula saat ada pameran topeng tingkat dunia di Korea. “Astungkara jika Wayang Wong telah mendapat penghargaan dari UNESCO," terangnya.  Kala itu, Bali mengutus Topeng Wayang Wong dari Tejakula.


"Saat ditampilkan di Korea ternyata menarik. Sehingga saat dipentaskan dan dinilai dari UNESCO ternyata mendapat perhatian yang luar biasa dari Perserikatan Bangsa Bangsa ( PBB), dan diberikanlah penghargaan tersebut saat Bulfest, Agustus 2016 lalu,” ujarnya.



Lebih lanjut Gede Komang mengungkapkan, jika kesulitan yang dirasakan saat menarikan Tari Wayang Wong ini adalah saat berkomunikasi. Sebab, wajib hukumnya bagi para pragina untuk menggunakan bahasa Jawi kuna atau bahkan Bahasa Sansekerta saat masolah. “Jika tidak bisa dan tidak
paham bahasa Kawi dan Sansekerta tentu akan sulit berkomunikasi saat
masolah. Selain kemampuan berbahasa Kawi dan Sansekerta, para pragina juga harus lihai dalam menari dan makakawin. Jadi itulah kunci saat pementasan, sehingga benar-benar mataksu,” terangnya.


Pakaian yang dipergunakan saat pementasan Wayang Wong pun telah diatur sesuai dengan pakem. Seperti halnya topeng yang merupakan karakter dari Wayang Wong dengan menampilkan tokoh dalam epik Mahabarata. Semisal Sugriwa, Rama, Laksamana, Wibisana, Punakawan, Rahwana, Kumbakarna, Jembawan Hanoman, dan beberapa tokoh kera lainnya yang membantu Sri Rama dalam menumpas keangkaramurkaan Rahwana hingga kelompok raksasa serta topeng-topeng karakter lainnya. Selain topeng, ada pula pakaian seperti badong, ampok-ampok, yang dipergunakan saat pementasan.
Sejumlah fakta telah membuktikan krama yang tidak mau melanjutkan ngayah menjadi penari Wayang Wong akan mengalami  sesuatu yang tidak diinginkan.


"Tarian ini diatur dalam sebuah bhisama. Apabila keturunan yang bersangkutan itu tidak melakoni Wayang Wong, maka ia akan sakit. "Satu contoh kebetulan di keluarga saya ada yang sakit sudah tiga tahun karena dia tidak pernah ngayah menarikan Wayang Wong ini. Nah, akhirnya setelah ia memohon maaf di Pura Pemaksan akhirnya hingga kini ia sembuh," ujar Gede Komang.


Fakta lainnya Jero Bendesa Tejakula pernah menganggap remeh salah satu pemeran Wayang Wong. Akhirnya tiap malam yang bersangkutan dicari oleh  sosok Wayang Wong tersebut. Setelah mohon maaf dan melakoninya, akhirnya kini Jero Bendesa ikut sebagai penari Wayang Wong.


Sementara terkait regenerasi, Gede Komang mengaku telah melihat potensi anak-anak yang mulai tertarik akan seni tradisional Wayang Wong Tejakula. Anak-anak yang sering ikut pentas secara tidak langsung tertarik dan mulai mempraktekannya di rumah masing-masing. "Kami memang mengajak anak-anak, baik pria maupun wanita yang masih SD dan SMP pada setiap kesempatan pentas. Hingga kini sejumlah anak sudah mulai tertarik dan mulai menggemari seni Wayang Wong, baik pada seni tabuh maupun sebagai penari," ungkapnya.



Meski sebagai tarian sakral (wali), namun pementasan tarian Wayang Wong secara profan (komersil) untuk kegiatan hiburan tetap boleh dilakukan. Hanya saja, topeng-topeng yang ditarikan untuk hiburan tersebut merupakan duplikat dari topeng yang disakralkan.



“Kami sering diundang untuk tampil di ajang PKB, di acara-acara pentas seni ataupun di hotel-hotel. Tetap menggunakan topeng, hanya saja yang dipakai saat pementasan itu  duplikatnya saja,” pungkas Gede Komang. 

Editor : I Putu Suyatra
#tari bali #tradisi unik