Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Alasan Banten Tradisi Ngaro di Sanur Tak Pakai Daging Babi

I Putu Suyatra • Senin, 30 April 2018 | 23:49 WIB
Ini Alasan Banten Tradisi Ngaro di Sanur Tak Pakai Daging Babi
Ini Alasan Banten Tradisi Ngaro di Sanur Tak Pakai Daging Babi

BALI EXPRESS, DENPASAR - Seluruh banten untuk prosesi Ngaro harus dibuat ketika matahari sudah terbenam. Di samping itu,  banten juga pantang menggunakan daging babi.


Nyoman Sunarta, Pangempon Pura Dalem Segara mengatakan,  banten Ngaro  tidak menggunakan daging babi karena yang berstana di Pura Dalem Segara adalah Hyang Yogi Swara yang merupakan seorang brahmana.


“Menurut kepercayaan, babi melambangkan sifat malas, sehingga babi ini tidak layak dikonsumsi oleh kaum brahmana,” ungkapnya.


Selain tidak menghaturkan daging babi dalam ritual Ngaro,  keturunan Sang Hyang Yogi Swara,  yakni warga Madura di Desa Sanur juga tidak mengonsumsi daging babi.


“Apabila mengonsumsi daging babi, maka dampak buruk akan segera dirasakan. Seperti saya, ketika mencoba untuk makan daging babi efeknya langsung terasa, kepala saya langsung sakit dan rasanya tidak nyaman, untuk menetralisasinya, saya biasanya melakukan pangelukatan, sehingga kondisi saya kembali normal,” tambahnya.


 


Karena tidak menggunakan daging babi, untuk sesajen utama yang dihaturkan di Pura Dalem Segara menggunakan daging bebek sebagai persembahan. “Tujuan dari penggunaan daging bebek ini, karena ritual Ngaro  identik dengan kesucian, dan bebek sebagai lambang dari kesucian,” terangnya.


Selain tidak menggunakan daging babi, seluruh proses dari pembuatan banten Ngaro ini tidak boleh dikerjakan oleh orang yang sedang cuntaka alias “kotor” secara lahir, termasuk oleh ibu menyusui.


 


“Karena bisa mengurangi nilai spiritual dari bebantenan tesebut,” tambahnya.



 

Editor : I Putu Suyatra