BALI EXPRESS, GIANYAR - Penampilan Penjor di beberapa rumah pengantin baru di Desa Medahan, Gianyar, lebih indah bila dibandingkan dengan Penjor Galungan. Pemasangannya pun ada aturan khusus.
Tak seperti penjor lainnya, penampakan Penjor Anten jauh lebih indah dari Penjor pada umumnya. Dengan tinggi bambu hingga belasan meter, sampian penjor yang menjuntai, serta dihiasi berbagai macam ornamen meriah, membuat Penjor Anten terlihat berbeda.
"Satu lagi ciri khasnya, ada Penjor pendamping, yakni Penjor Luh di sisi kiri Penjor Anten," papar Pemangku Pura Masceti yang juga salah satu tokoh di Desa Medahan, Jero Mangku Made Puspa, pekan.kemarin di Gianyar.
“ Kalau Penjor biasa, sanggah cucuk itu kan ada di bagian bawah Penjor. Nah, berbeda dengan Penjor Anten, di mana sanggah cucuknya memiliki tiang penyangga sendiri, dan disebut sebagai Penjor Luh, sedangkan Penjor tanpa sanggah cucuk itu disebut Penjor Muani," bebernya.
Dikatakannya, pemasangannya harus tepat di depan rumah (gerbang) depan rumah para pengantin. "Kalau masuk gang rumahnya, ya harus pas di depan rumah, bukan di depan jalan besar,” paparnya.
Dijelaskannya, seperti namanya, Penjor Anten ini mewakili purusa dan pradana (laki-laki dan perempuan). Hampir sama maknanya dengan Penjor umumnya, yakni sebagai simbol kemakmuran. "Penjor Anten pun disimbolkan sebagai lingga dan yoni. Sebagai sumber kehidupan, sumber kebahagian dan simbol penerus keturunan,” ungkapnya.
Editor : I Putu Suyatra