BALI EXPRESS, DENPASAR - Terkadang manusia bertumpu pada takdir dan nasib. Seolah-olah pasrah dan tak ada niat untuk memperbaiki diri. Padahal Sri Krishna dalam Bhagawadgita senantiasa menganjurkan manusia untuk bekerja. Dengan kerja, maka kehidupan bisa berputar. Tentunya kerja yang baik dan benar untuk masa depan yang lebih gemilang.
Menurut Ketut Gede Suatma Yasa, SH., M. Ag., CHt. MNNLP alias Guru mangku Hipno, dalam keilmuan metafisika, yang disebut dengan takdir adalah hasil suratan-suratan yang telah manusia guratkan dengan tinta emas di zaman kelahiran terdahulu. Hal ini merupakan pahala dari karma. Sedangkan nasib adalah sesuatu yang seseorang tulis pada kelahiran ini, yang menjadikan dirinya di hari esok. “Jadi pahala dari karma sudah ditentukan sebelumnya, sedangkan nasib kita tentukan setelahnya. Maka dalam metafisika disebutkan, anda adalah penulis terbaik terhadap nasib anda. Jadi apa anda di akhir cerita nanti,” ungkapnya.
Bagaimana membuat nasib yang baik? Dikatakan Ketua Ikatan Cendikiawan Metafisika Bali (ICMB) itu, orang yang memiliki nasib baik adalah orang yang memiliki cahaya, taksu, atau intresa dalam dirinya. Untuk mendapat intresa yang baik, kata dia harus merawat tiga hal dalam dirinya, yakni dengan mempertahankan kebenaran dan kebaikan dalam dirinya. Hal ini disebut satyam. Kemudian ia harus menjaga kesucian atau siwam dalam dirinya. Terakhir, ia harus menjaga keindahan atau sundaram dalam dirinya. “Orang yang menjaga filsafat estetika akan memperoleh nasib baik. Orang berperilaku jelek berarti orang yang tidak mengindahkan filsafat estetika dengan baik. Maka akhirnya hidupnya berantakan. Jadi ada tiga hal yang harus dijaga untuk bernasib baik, yakni mempertahankan kebenaran, menjaga kesucian, dan memelihara keindahan atau estetika,” terangnya.
Bagi mereka yang menjaga satyam, siwam, dan sundaram, maka bisa menempuh catur purusha artha dengan baik, yakni dengan dharma bisa mencapai artha (kekayaan rohani dan jasmani), kama (keinginan atau harapan), dan moksa (kebebasan sejati). “Pasti dia akan bahagia,” ujar Guru Besar Brahmakunta Center itu.
Seseorang yang mempertahankan satyam, siwam, dan sundaram, dikatakan Guru Mangku Hipno, akan terlihat kualitas pemikiran, perkataan, dan sikapnya. Hal ini sesuai ajaran catur paramitha, yakni maitri (senang berkawan), karuna (menebar kasih sayang), mudita (periang), dan upeksa (berjiwa besar).
Dari catur paramitha, lanjut pria yang tengah menempuh Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar itu, akan ada lima bonus dari Tuhan, yang disebut dengan istilah 5 W. “Pertama adalah Wareg, yakni dicukupkan pangannya. Kedua Wastra, yakni dicukupkan sandangnya. W ketiga adalah Wisma, yakni dicukupkan papan atau tempat tinggalnya. W keempat, yakni dicukupkan Wisata atau kesenangannya. W kelima adalah Wasita, yakni nama baik yang akan dibawa sampai mati,” terangnya.
Dengan demikian, kata pakar hipnotis itu, jangan kesampingkan satyam, siwam, dan sundaram dalam hidup. “Sekali lagi, kita adalah penulis terbaik untuk nasib kita. Jadilah orang benar, maka dimana-mana kehadiran kita senantiasa disambut, dihargai, dan diharapkan. Sebaliknya, jadi orang buruk, dimana-mana kita tidak disukai, dihindari, dicampakan. Menjadi orang suci, dimana-mana yang keluar dari mulut kita adalah pujian, pujaan, penghiburan, dan pensupportan. Sebaliknya, jika kita memiliki kesucian, dimana-maka kita memfitnah, menjatuhkan, menghina, atau mencaci. Jadilah pula orang yang indah, orang yang senantiasa menghadirkan kesenangan dan kenyamanan bagi lingkungan sekitar. Maka nasib baik akan senantiasa datang,” tandasnya. (habis)
Editor : I Putu Suyatra