BALI EXPRESS, DENPASAR - Salah satu pura tertua di wilayah Banjar Merta Bhuana, Padangsambian, Denpasar, yakni Pura Dalem Pengalasan. Pura yang memiliki kisah ngambil rabi melalui upacara merap kambe.
Ketua pengempon Pura Dalem Pengalasan, Jero Mangku Made Subrata, mengatakan, soal upacara merap kambe atau ngambil rabi (mempersunting) rupanya juga terjadi secara niskala di pura itu. Namun belum bisa dipastikan kapan pertama kali tradisi itu dimulai. Pengempon pura hanya berbekal cerita lisan yang berkembang di masyarakat sekitar.
Diceritakan, jika cerita Ida Ratu Agung Dalem Pengalasan yang berstana di Pura Dalem Pengalasan, mempersunting rabi secara niskala dengan para dewi yang berstana di beberapa pura penjuru Bali. Hingga saat ini, Ida Ratu Agung Dalem Pengalasan memiliki 18 rabi (istri). Terakhir dipersunting dari Pura Segara Rupek di Buleleng.
Subrata mengklaim, hanya Pura Dalem Pengalasan yang punya tradisi ngambil rabi paling banyak. Memang bisa percaya atau tidak, upacara-upacara yang berhubungan dengan prosesi ngambil rabi sudah beberapa kali diadakan.
“Awal mulanya pernah ada kejadian aneh di pura ini. Dari cerita turun-temurun, para pemangku di pura ini selalu sungkan (sakit) tanpa ada keterangan medis. Akhirnya nunas baos (minta petunjuk niskala), ida sane malinggih (dewa yang berstana) menginginkan dibuatkan upacaranya,” ungkap Jero Mangku Subrata.
Cerita yang diurainya akhirnya dia alami beberapa tahun lalu. Ketika salah satu pemangku kembali sakit tanpa sebab. Anehnya, pemangku tersebut mengalami kelumpuhan dan seperti terasa patah tulang. Ketika dibawa ke rumah sakit, hasil pemeriksaan tak menunjukkan gejala apapun.
“Bahkan saat di-rongent tidak kelihatan patah,” imbuhnya mempertegas.
Upacara ini dilakukan saat rahina purnama atau hari yang dipercaya baik, diawali dengan nunas baos. Selanjutnya para pemangku bersama tokoh adat lainnya melakukan rapat menentukan kapan prosesi selanjutnya dilaksanakan.
“Kami akan melakukannya bertahap. Tidak satu hari sekaligus. Mulai dari (istilah) melamarnya dilakukan dengan mapakeling, lalu upacara puncaknya, itu bertahap,” kata Subrata.
Upacaranya digambarkan layaknya pasangan pria dan wanita akan menikah. Pihak dari Pura Dalem Pengalasan akan nangkil ke pura yang dituju. Saat prosesi dilakukan, mangku yang menjadi media akan berinteraksi. Dengan kata lain, para pemangku ini menjadi simbol pertemuan dua belah pihak.
Mangku Subrata mengatakan, masyarakat telah percaya, upacara ngambil rabi kian memperkuat taksu pura. Bahkan pura yang dianggap sebagai benteng penolak bala itu akan memberi kesempurnaan, keseimbangan, dan kesejahteraan masyarakatnya.
“Makanya tak ada yang berani macam-macam. Apalagi sampai lupa apabila di antara masyarakat pernah memohon sesuatu disini,” kata pemangku berperawakan tambun ini.
Pura Dalem Pengalasan juga dipercaya sebagai tempat memohon rejeki, kesembuhan, dan pekerjaan. Di pura ini terdapat 5 sumber mata air yang punya fungsi dan khasiat yang bermacam-macam. Yang paling kentara yakni sumber mata air yang berada tepat di jaba pura. Sumur tersebut mengeluarkan aroma wangi. Bahkan kejadian aneh kerap terjadi ketika air dipakai untuk menanak nasi. Karena seketika nasi yang dimasak menggunakan air di sumur tersebut akan berubah warna menjadi kuning disertai aroma wangi.
Tak sembarang orang boleh mengambilnya. Hanya orang yang masih suci (bajang) yang boleh menimba air tersebut. Bahkan, pengambilan air dilakukan saat upacara besar dan pujawali. Di luar hari itu, sumur akan surut. Namun apabila ada orang yang hendak berobat, sumur seketika akan mengeluarkan air, walau perlahan.
“Di dalam pura juga terdapat sumber air. Di dalamnya ada sejenis kepiting berwarna merah, seperti kepiting masak. Itu tak terus muncul. Kalau ada yang datang, kepiting itu muncul, berarti orang itu beruntung. Air tempat kepiting itu diminum menjadi obat, kalau tidak ada kepitingnya, airnya tidak berkhasiat,” terang Mangku Subrata.
Editor : I Putu Suyatra