BALI EXPRESS, GIANYAR - Keris merupakan salah satu hasil olah ketajaman pikiran atau adnyana yang memiliki fungsi beragam. Tidak hanya sebagai alat, tetapi juga sebagai simbol jiwa dan Siwa.
BAGI Pande Wayan Suteja Neka, keris merupakan lambang identitas diri, kultural, sosial, dan spiritual yang merupakan produk budaya Nusantara. Keris pada zamannya digunakan sebagai salah satu alat untuk berperang dan melindungi diri dari ancaman musuh. Lebih dari itu, benda ini juga sebagai identitas personal untuk membedakan status sosial. Identitas seorang raja, pemimpin dan orang kaya bisa dilihat dari keris yang dibawanya, tentunya berbeda dengan keris yang dibawa rakyat biasa. Selain itu, keris juga menjadi ciri dari kultur budaya sebuah kelompok (negara) pada zamannya.
Tradisi keris hanya ada di Nusantara. Sedangkan negeri lain memiliki senjata yang berbeda sebagai identitas bangsanya, seperti Jepang dengan samurainya. Fungsi lainnya adalah sebagai wujud sebuah keyakinan atau lambang spiritual.
Menurut lelaki kelahiran Desa Peliatan, Ubud ini, keris merupakan simbol jiwa. Dalam diri setiap manusia yang disebut mikrokosmos terdapat jiwa yang membuatnya hidup. Jiwa merupakan percikan atau personifikasi Tuhan atau Siwa yang mengatur alam makrokosmos. Jadi, tandas pemilik Neka Art Museum ini, Siwa dalam diri manusia adalah jiwa.
Siwa dilambangkan dengan lingga, sebuah benda berbentuk lancip seperti palus sebagai simbol laki-laki atau purusa. Keris yang berbentuk runcing juga diidentikkan dengan lingga sebagai simbol purusa atau laki-laki, sedangkan warangkanya merupakan manifestasi simbol yoni atau perempuan. Penyatuan keris dan warangkanya sebenarnya sebuah ungkapan aksi dan reaksi yang selalu bergolak dalam kehidupan untuk mencapai keharmonisan, sehingga
muncul energi kehidupan.
"Jadi, keris adalah simbol kehidupan,” katanya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) baru baru ini di Gianyar.
Dalam kehidupan di dunia ini, tentu tak lepas dari peran laki-laki dan perempuan.
"Keharmonisan di dunia ini terjadi karena sinergi antara laki-laki (purusa) dengan perempuan (predana). Rumah tangga menjadi harmonis ketika dua kehidupan itu berdampingan. Karena itu, keris sebagai simbol jiwa (Siwa/Tuhan) harus ada di setiap rumah tangga," urainya.
Ditambahkannya, nenek moyang kita sangat bijak menyikapi filosofi kehidupan ini. Pada zamannya, keris harus dimiliki oleh setiap lelaki yang berumah tangga. Pergeseran nilai budaya, membuat filosofi itu pudar dan ditinggalkan generasinya. 'One Family One Keris atau Satu Rumah Satu Keris' yang dicanangkan Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra merupakan salah satu upaya mengembalikan makna filosofi keris. Tujuannya tidak hanya untuk menyelamatkan keris, terutama di Bali, dari kepunahan, tetapi juga untuk tujuan menggalakkan sektor ekonomi, yaitu menghidupkan kembali geliat para perajin keris dan yang terkait di dalamnya, seperti perajin kayu, perak, dan emas di kota
Denpasar.
Ditegaskannya, keris memiliki nilai filosofis tinggi, terutama tentang kesatuan individu dengan Tuhan. Keris berbentuk runcing yang diistilahkan dengan landep atau lancip, merupakan simbol Tuhan (Siwa). Lancip atau runcing merupakan lambang ketajaman pikiran yang dijiwai Tuhan yang disebut Hyang Pasupati. Karena itu, lanjutnya, perayaan untuk keris atau benda-benda yang berbentuk
runcing dan lancip yang diidentikkan dengan landep dilaksanakan pada hari Tumpek Landep yang jatuh pada Sabtu Wuku Landep, Sabtu, 25 Mei 2019, untuk memuja Siwa Pasupati. Sebab, pada hari ini diyakini Tuhan dalam wujud sebagai Siwa Pasupati menurunkan anugerah keharmonisan terhadap alam semesta beserta isinya. Keharmonisan tercipta jika antara jiwa di alam mikrokosmos bersinergi dengan Siwa di alam makrokosmos yang dilambangkan dalam
wujud sebilah keris.
"Namun, bukan berarti kepercayaan terhadap keris berisi tentang sesuatu yang pantas disembah dan dipuja, tetapi sebuah wahana yang berisi tentang doa dan harapan, bahkan juga terkemas dalam wujud tuntunan hidup manusia atau filosofi hidup manusia yang termaktub dalam 'Sangkan paraning dumadi (asal muasal ciptaan)," ujarnya.
Keris merupakan karya agung adi luhung oleh para mpu keris. Kekuatan yang dihasilkan adalah daya cipta atas olah batin dan laku tapa yang tekun dan penuh penghayatan. Karena itu, keris mempunyai makna sebagai simbol Tri Murti yang diwujudkan oleh sisi keris yang berjumlah ganda. Sisi kanan keris adalah kekuatan Dewa Brahma yang disebut sidha. Maksudnya, senjata tersebut dibuat untuk menembus jalan kebenaran. Di sebelah kiri adalah simbol Dewa Wisnu yang disebut sidhi yang berarti senjata tersebut memiliki berkah, dan di ujung pusaka bersemayam kekuatan Dewa Siwa yang disebut sadhu, yang artinya kedamaian.
"Secara filosofis, keris dibuat untuk menciptakan keharmonisan seperti halnya sebuah proses yang terjadi di alam semesta yang tidak lepas dari penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan untuk tetap menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta," ungkapnya.
Kata Suteja Neka yang dikukuhkan sebagai Jejeneng Mpu Keris Bali, di atas lancipnya ujung keris terdapat ruang kosong. Ruang tersebut tidak terjangkau luasnya. Kalau ruang tersebut saja tidak terjangkau, maka seharusnya kasih sayang itu juga tidak terbatas.
“Jadi, keris merupakan simbol dari kasih sayang yang tak terbatas karena tujuan paling dasar dari pembuatan keris adalah untuk memberikan kasih sayang pada apapun dan siapapun agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan karmanya,” imbuhnya.
Tajamnya ujung keris merupakan simbol ketajaman pikiran manusia. Tetapi setajam-tajamnya keris, lanjutnya, tidak akan mampu menandingi tajamnya pikiran manusia. "Keris hanya mampu melukai tubuh manusia, tetapi tajamnya pikiran manusia mampu mengubah dunia. Karena itulah, untuk menghormati ketajaman pikiran manusia dilakukan upacara Tumpek Landep yang disimbolkan dengan pelaksanaan upacara terhadap keris, tombak dan berbagai pusaka," bebernya.
Sebilah keris tidak hanya sebagai manifestasi dari keindahan fisik belaka, tetapi juga dijiwai oleh keindahan yang tersembunyi yang hanya dapat dirasakan melalui sensitivitas dan keheningan jiwa.
Dijelaskan Neka, makna sebilah keris sangat terkait dengan dalamnya pengetahuan dan pemahaman seseorang, sehingga timbul berbagai pemahaman atau persepsi yang berbeda. "Keberadaan keris dianggap penuh misteri dan tak mudah untuk dipahami oleh sebagian besar masyarakat akibat mitos yang berlebihan," pungkasnya.