Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lontar Pameda Smara, Rujukan Dewasa Ayu dan Mantra Bersenggama

I Putu Suyatra • Senin, 22 Juli 2019 | 19:05 WIB
Lontar Pameda Smara, Rujukan Dewasa Ayu dan Mantra Bersenggama
Lontar Pameda Smara, Rujukan Dewasa Ayu dan Mantra Bersenggama

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Hubungan seks bagi pasangan suami istri tak hanya membuat manusia tenggelam dalam kesenangan dunia material. Hubungan seks (kama) merupakan salah satu tujuan hidup manusia setelah kekayaan (artha) dalam konsep ajaran Catur Purusha Artha. Akan tetapi, untuk mencapai tujuan itu harus senantiasa berlandaskan dharma (kebenaran, aturan, dan hukum), termasuk melakukan hubungan badan juga memiliki tata caranya sendiri.


 


Urusan berhubungan seks (bersenggama) tak bisa dianggap sebelah mata. Kesakralan seks tersebut telah tersurat dalam Lontar Pameda Smara. Dalam lontar ini diungkap  secara jelas tentang keberadaan Kama Tatwa, di samping teks-teks lain seperti Rsi Sambina, Rahasya Sanggama, Smarakridalaksana, Rukmini Tattwa, Indrani, Smaratantra, Usada Smaratura, Usada Lara Kamatus, dan Prasi Dampatilalangon.



Pemerhati Lontar, Ida Bagus Oka Manobhawa mengatakan, Lontar Pameda Smara merupakan salah satu teks lokal Bali yang menguraikan tentang pemilihan hari baik (dewasa ayu) dalam melakukan persenggamaan. Bahkan, dalam lontar ini juga memuat tentang tata cara pengobatan dari penyakit  yang ditimbulkan oleh Pameda Smara.


Dikatakan Oka Manobhawa, Kama Tatwa dinilai dapat menuntun kama sesuai dengan etika dan dharma. Kama Tatwa akan memandu seseorang agar tidak terjebak ke dalam perilaku seks yang menyimpang. “Nah dalam lontar ini memberikan tuntunan bagi setiap orang dalam melakukan hubungan senggama yang menitikberatkan pada pertimbangan pemilihan hari baik dan buruk untuk melakukan persenggamaan,” ujar Oka Manobhawa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Hubungan senggama bagi seorang yang telah menjalankan kehidupan Grahasta Asrama, lanjutnya, tidaklah sekadar sebagai pelampiasan nafsu. Persenggamaan merupakan sebuah ritual intim yang hanya dikehendaki oleh pasangan suami istri yang dilandaskan atas dasar kebijaksanaan dharma. Dengan kata lain, dalam memenuhi kebutuhan akan Kama haruslah dilandasi dengan Dharma, sehingga tercapainya Moksa dalam hal ini adalah kajagadhitaan.
Pria yang juga Kordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Gianyar inipun mengutip cuplikan teks Pameda Smara memuat beberapa aturan tentang hari baik dan buruk melakukan persenggamaan, seperti dalam kutipan berikut:


“Ini adalah hari yang tidak baik untuk bertemu (bersenggama) dengan istri, pada saat hari kelahiran, Purnama, Tilem, Purwani. Itu amatlah tidak baik, akan terkena malapetaka dari beliau Dewa Surya dan Dewa Candra, karena perbuatan yang menyamai perbuatan dari para dewata. Serta ada juga hari lainnya, Anggara Kliwon, Budha Kliwon, Saniscara Kliwon, semua hari yang disebut sebagai rerahinan, hari tersebut semuanya tidaklah boleh dilanggar untuk melakukan persenggamaan, (Pameda Smara, 2b).”


Dikatakan Oka Manobhawa, dari kutipan tersebut secara jelas dan tegas teks Pameda Smara mengingatkan kepada para pembacanya, bahwa ada hari - hari yang menjadi larangan yang harus menjadi pertimbangan bagi pasangan suami istri untuk melakukan persenggamaan. Karena jika seseorang tidak mengindahkan akan hari buruk tersebut, maka akan terkena malapetaka.


Kalau dalam sastra bahwa melakukan persengamaan pada hari -hari yang dilarang tersebut dikatakan menyamai perbuatan para dewata. "Karena secara spritual  sudah mengetahui bahwa hari Prawani, Purnama , Tilem, dan  hari  hari  yang  disebutkan  merupakan  hari  untuk  melakukan  pemujaan  kepada  leluhur maupun para dewa. Sehingga  diharapkan  pada  hari  suci umat  Hindu  dapat   mengarahkan   pikirannya   pada derajat kesucian, sementara pada saat bersenggama, manuasia terkait dengan kenikmatan dan kepentingan duniawi,” bebernya.


Menurutnya, larangan bersenggama pada hari-hari tersebut, secara logika dapat dijelaskan sebagai upaya agar konsentrasi kita tidak terpecah. Terlebih, pada Purnama, Tilem, dan hari hari suci, umat Hindu akan tersedot perhatian dan tenaganya untuk kegiatan persembahyangan ataupun kegiatan suci lainnya.


“Jika melakukan hubungan badan pada saat kondisi badan capek, tentu tidak membuahkan hasil yang baik. Termasuk melakukan hubungan seksual juga dilarang saat siang hari. Sebab, dampaknya tidak baik dan dianggap layaknya hewan,” imbuhnya.


Jika ada hari yang dilarang melakukan senggama, tentu saja ada hari baik yang menjadi rujukan bagi suami istri melakukan senggama. Dikatakan Oka Manobhawa, jika melakukan persenggamaan dengan istri, hari yang baik untuk melakukan persengamaan, diantaranya, Saniscara Umanis, Budha Pon, Sukra Pahing. Pemilihan hari baik ini sangatlah perlu ditaati, untuk memeroleh putra suputra.


Lalu, apa dampaknya jika melanggar larangan melakukan senggama di hari yang buruk? Dikatakannya, apabila berani melanggar  ajaran dari sastra ini, tidaklah terelakkan akan terjangkit penyakit kelainan seksual.


Dengan adanya penyakit kelaianan seksual yang dialami oleh seorang suami dalam sebuah keluarga, lanjutnya, tentu akan berdampak terhadap keharmonisan keluarga tersebut. Di samping itu, juga akan berdampak pada keturunan yang dilahirkan, seperti yang termuat dalam  Dampati Lalangon.


“Bagi mereka yang hanya mengejar kepuasan seks belaka, walaupun telah terikat dalam sebuah pernikahan, memiliki risiko melahirkan anak penjelmaan dari Sang Kumiligi. Kumiligi adalah roh- roh tingkat rendah yang berada di bawah alam, berada di bawah alam manusia yang berebut naik menjadi manusia untuk menebus papa kelahirannya,” ungkapnya.


Bagi orang yang terkena penyakit dari Pameda Smara tersebut, secara fisik memang nampak seperti orang sehat. Namun, sebenarnya perasaan dan pikirannya dalam keadaan yang sakit. Hanya saja mereka lebih mengalami gangguan pada psikisnya ketimbang fisiknya.


“Misalnya tidak mampu  melakukan persenggamaan dengan istri, kehilangan gairah, air mani menghilang (moktah), alat vital lemas, tidak memiliki hasrat untuk melakukan hubungan intim, karena alat vital lemas, menjadi tidak memiliki semangat. Hal itulah yang menyebabkan menurunnya keinginan (bersenggama),” bebernya.


Menariknya, dalam Lontar Pameda Smara pun juga diulas tentang usadha (pengobatan) terkait sakit yang ditimbulkan oleh penyakit Pameda Smara. Tentunya cara untuk mengatasinya berupa model pengobatan, baik secara sakala maupun niskala.


Pengobatan secara sakala, dikatakan Oka Manobhawa, merupakan pengobatan alternatif medis


yang menggunakan bahan-bahan obat yang lebih mengarah ke herbal. Sedangkan pengobatan niskala  adalah bentuk pengobatan yang dalam praktiknya memadukan antara penggunaan bahan (sarana) obat dan puja atau mantra.


“Obat untuk Kama Tus, tidak memiliki ketertarikan dengan wanita, sarananya, kertas (daluwang) yang bergambarkan manusia, berwujud ratih, letakkan pada sabuk hitam dan sabuk putih juga bisa,” jelasnya.


Sedangkan mantram yang digunakan adalah 'Ong smara dewi ya namaḥ, Ong mana sija ya namaḥ, manobhāwa ya namaḥ, rumakĕtthing ngawak ṣarirane syanu, tĕg tĕr atine syanu, marĕbĕ smarane syanu, ang, ung, mang.'


“Begitu juga sarana untuk obat minumnya seperti beras ketan merah dan ketan gajih, sari gila, gula pasir, bawang merah yang mentah, kesemuanya diminum,” tutupnya.

Editor : I Putu Suyatra
#lontar #hindu