Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Puseh Munduk Taro; Diyakini sebagai Segara Niskala

I Putu Suyatra • Rabu, 24 Juli 2019 | 02:00 WIB
Pura Puseh Munduk Taro; Diyakini sebagai Segara Niskala
Pura Puseh Munduk Taro; Diyakini sebagai Segara Niskala


BALI EXPRESS, GIANYAR - Pura Puseh di masing-masing desa pakraman pada umumnya selalu berdekatan dengan Pura Desa. Namun, berbeda dengan Pura Puseh Desa Pakraman Puakan, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, yang  tidak ada kaitannya sama sekali dengan Pura Puseh Khayangan Tiga. Tetapi, soal urusan niskala, pura ini juga terbilang istimewa.


 


Pemangku Pura Puseh Munduk Taro, Jero Mangku Puseh Desa Puakan, didampingi mantan Penyarikan Desa  I Ketut Dharma menjelaskan,  Pura Puseh Munduk Taro hanya terdiri atas satu mandala yang disebut dengan jeroan. “Kalau di sini peninggalan Rsi Markandya, memang tidak ada pura yang terdiri atas tiga mandala pada umumnya. Hanya terdiri atas jeroan dan jaba saja,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.


Jero mangku yang enggan menyebutkan nama aslinya itu, mengakui Pura Puseh Munduk Taro memang tidak ada kaitannya dengan Pura Kahyangan Tiga.  Ia mengatakan Pura Pusehnya ada di Desa Pakraman Puakan sendiri, Pura Desa di Desa Taro, dan Pura Dalem di Tagtag.
Jero mangku mengaku belum menemukan tujuannya leluhurnya dulu dan makna secara rinci, mengapa lokasinya  menyebar seperti itu. Namun, ia memperkirakan dengan keberadaan pura secara terpisah-pisah dari satu desa dengan yang lainnya, untuk menyatukan krama setempat. Buktinya  ketika piodalan dan perayaan Galungan,  35 desa yang jadi pangempon pura ikut  Ngunya. “Kalau bisa dikatakan ke sini untuk nunas panugrahan, selain itu juga sebagai melasti. Karena di desa ini tidak pernah sama sekali melakukan melasti ke segara. Terlebih di pura puseh ini sudah ada segara secara niskala,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.


Segara nikala (lautan yang tak terlihat dengan mata telanjang) itu, lanjutnya, berada tepat di belakang bangunan palinggih pura. Lokasinya hanya berupa tanah lapang jika dilihat secara kasat mata. Namun, Jero Mangku Puseh mengaku jika orang yang spiritual melihatnya lokasi tersebut sebagai lautan yang sangat luas sekali. Sehingga masyarakat setempat meyakini lokasi tersebut memang segara niskala.


“Makanya areal pura dibiarkan seperti ini adanya, kalau pada umumnya pasti palinggih pura berada di dekat tembok panyengker. Namun ini dibiarkan di  tanah lapang. Tanah lapang yang berisikan rumput  ini, secara niskala adalah segara yang digunakan melasti sasuhunan sajebag jagat Desa Puakan,” tegasnya.


Ditambahkannya, ada Palinggih Sri  berdiri yang juga  sangat berpengaruh satu sama lain. Mengingat, Palinggih Sri sebagai stananya dewa untuk mohon kesuburan petani, sedangkan segara sebagai sumber mata air supaya tanah subur.


Hal itu dapat dibuktikan dengan kondisi pertanian di desa setempat yang lahan pertaniannya  sangat subur. Apapun yang ditanam tumbuh bagus yang kemudian  dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk penghidupan.



Jero Mangku Puseh menyampaikan, Pura Puseh Munduk Taro merupakan pura yang bukan untuk nunas keturunan maupun tamba. Melainkan  sebagai tempat nunas panugerahan yang ditujukan untuk sasuhunan berupa Barong maupun Rangda. Sehingga yang nunas (memohon) tidak boleh warga, melainkan sasuhunannya.



“Kalau panjak tidak boleh meminta  di sini. Yang tepat panjak itu ngaturang upasaksi baru boleh. Nunas keturunan dan nunas tamba ketika sakit, tidak disini tempatnya, memang  tidak diperkenankan di Pura Puseh Munduk ini,” tuturnya.



Pria asli Desa Pakraman Puakan menjelaskan, piodalan dilaksanakan  pada Anggarkasih Julungwagi,  dilangsungkan setiap enam bulan sekali. "Setiap tahun sekali piodalannya disebut piodalan ageng. Dan, saat itu sasuhunan yang ada melakukan pamelastian di segara niskala," pungkasnya.  

Editor : I Putu Suyatra
#gianyar #hindu #pura #sejarah pura