Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Umat Muslim Ikut Melasti, Diempon Hanya 7 KK Umat Hindu

I Putu Suyatra • Kamis, 26 September 2019 | 21:35 WIB
Umat Muslim Ikut Melasti, Diempon Hanya 7 KK Umat Hindu
Umat Muslim Ikut Melasti, Diempon Hanya 7 KK Umat Hindu

Sebuah pura penting yang terletak di Dusun Buku, Desa Mondoluku Kecamatan Waringinanom Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Pura tersebut dikenal dengan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan yang berdiri di atas lahan seluas 2 hektar.


 


PUTU ADE GRANTIKA, Gresik


 


MENURUT Romo Sepuh Satya Bhuana Medang Kemulan, kondisi Pura saat ini hanya diempon oleh 7 KK (Kepala Keluarga). “Saat ini hanya diempon oleh 7 KK saja,” jelasnya saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group)


Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan pada era tahun 1980an sebenarnya ada 75 KK Hindu yang ngempon pura tersebut. Karena adanya berbagai faktor, sehingga jumlah KK Hindu menjadi sedikit.  Sehingga sejak tahun 2010 lalu hanya terisisa 7 KK sampai sekarang. "Alasannya ekonomi, administrasi dan lingkungan. Itu dulu, tapi sekarang toleransi sudah sangat baik, hubungan luar biasa dan harmonis. Dulu pengurus pertama pura justru muslim semua, jadi kita tidak bicara masalah agama, tapi leluhur," tandasnya. 


Romo Sepuh yang nama welakanya I Kadek Sumanila mengatakan luas Pura secara keseluruhan sekitar 2 hektar termasuk Pesanggarahan Romo Sepuh sendiri. Dikatakan dalam pesanggrahan dihuni 3 KK bersama Jro Mangku dan Seksi Konsumsi. Ia menyampaikan pura itu konsepnya sedikit berbeda dengan pura pada umumnya. 


"Ini murni konsepnya leluhur, ada pun Padma, Candi, dominan kultur leluhur. Karena sesuai nama Medang Kemulan," Jelas pria yang masih aktif menjadi Perwira Marinir TNI AL Surabaya tersebut. 


Romo menyampaikan Pura Medang Kemulan mengingatkan umat untuk ingat kepada leluhur. "Makanya pada kesempatan hidup ini yang masih punya orangtua dan mertua jaga dengan baik. Rawat dengan baik karena kita akan menjadi tua nanti.  Begitu juga apa yang kita tanam, itulah yang kita petik nantinya," tandas pria lulusan AKBRI 1995 tersebut.


Toleransi umat beragama di kawasan pura  itu pun sangat terjaga sangat baik. Terbukti setiap kali digelar prosesi melasti jelang Nyepi ratusan umat muslim dengan jilbabnya ikut serta beriringan menuju Jolotundo tempat melasti. "Sampai di Jolotundo, kita turun dari kendaraan lalu jalan kaki atau napak tilas. Mereka juga antusias ikut jalan kaki," pungkasnya. 


Disinggung pujawali, Romo mengatakan jatuh pada rahina Purnama Kaulu, bahkan umat se-Nusantara datang silih berganti. "Kita ada dua acara besar di sini. Pujawali setiap Purnama Kaulu dan Natajagat setiap 30 Juni. Pemerintah Kabupaten Gianyar, sudah dua kali melakukan bhakti pengayar saat Pujawali Purnama Kaulu," imbuh pria asli Busung Biu, Buleleng ini.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura