DENPASAR, BALI EXPRESS - Salah satu praktisi Lontar, Prof. I Wayan Sukayasa mengungkapkan bahwa Lontar di Bali merupakan warisan dari abad ke - 9 hingga 18 an.
“Sejak Indonesia merdeka, setelah budaya tulis kertas dengan aksara latin diketahui, otomatis lontar semakin surut ditulis,” ungkapnya saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Juli 2016.
Namun demikian, menurutnya aksara Bali tetap lestari dengan ditulis di buku-buku. Setelah itu, lama-kelamaan karena masyarakat terbiasa dengan aksara latin dan bahasa Indonesia, aksara Bali semakin surut.
Menurut Dosen Sastra UNHI tersebut, dari dulu hingga sekarang lontar tidak hanya diburu oleh orang lokal, melainkan juga orang asing. “Di Universitas Leiden Belanda dikoleksi besar-besaran. Apa yang tidak ada di sini, di situ ada,” ungkapnya. Oleh karena itu beberapa pihak menurutnya sudah berusaha mencari warisan-warisan budaya tersebut. Meski tidak bisa membawa pulang lontar yang asli, setidaknya diperkenankan menyalin dan selanjutnya bisa di koleksi di Bali.
Ia mengungkapkan bahwa saat ini Bali memiliki koleksi lontar sekitar 8.000 lebih yang disimpan di Pusat Dokumentasi (Pusdok) Provinsi Bali, Gedung Kertya, dan di masyarakat. Lontar-lontar tersebut memiliki berbagai jenis isi, seperti keagamaan yang disarikan dari Weda, usada (pengobatan), perundagian, kuliner, pertanian, kakawin, gaguritan, kidung, sejarah, hingga ilmu-ilmu religius magis.
Dengan kemajuan teknologi saat ini ia mengungkapkan bahwa lontar juga sekarang diarsipkan secara digital dan dapat diakses di situs-situs dunia maya. Di samping itu, dalam usaha pelestarian aksara Bali, telah dibuat aplikasi untuk memudahkan pengetikan, seperti Bali Simbar. “Jadi sekarang isi teksnya sudah didigitalkan, karena menyesuaikan dengan media zaman,” paparnya.
Menurutnya, karakter orang Bali selalu terbuka terhadap perubahan. “Bali kan dikenal begitu, artinya mengakses teknologi sepanjang itu mendukung budaya,” jelasnya. Ia pun mengatakan bahwa dengan adanya sistem digital, memudahkan berbagai pihak untuk belajar aksara Bali. Ia pun menjelaskan bahwa mencari daun lontar saat ini tidak semudah dahulu, sehingga dengan adanya teknologi modern, belajar aksara Bali lebih praktis. “Tapi nilai yang terkandung dalam teks lontar tetap lestari, karena banyak nilai yang universal dan mengandung kearifan lokal,” yakinnya.
Pria kelahiran Tabanan tahun 1959 tersebut mengatakan bahwa media tulis-menulis akasara Bali senantiasa mengalami dinamika. “Sama dulu, aksara Bali awalnya di atas batu atau kulit kayu, kemudian tembaga. Karena berat, beralih ke lontar. Selanjutnya sekarang ke media kertas hingga digital,” urainya. Ia menjelaskan bahwa hanya bentuk medianya saja yang terus berproses sesuai perkembangan zaman, tapi nilai yang terkandung dalam teks tetap adanya. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa keberadaan lontar tetap penting. Ia menjelaskan ada dua hal yang perlu dipertimbangkan terkait keberadaan lontar. Pertama bentuk naskah lontar sebagai warisan budaya harus dilestarikan. Oleh karena itu harus ada yang tetap menyalin dalam bentuk naskah lontar. “Saya yakin akan selalu ada anak Bali yang gemar nyastra dan akan tetap melestarikan keberadaan lontar,” ungkapnya.
Kedua yang tidak kalah penting adalah pelestarian isi teksnya walaupun media tulisnya mengalami dinamika. “Karena roh budaya Bali ada di lontar dan pada budaya agraris,” tegasnya. Kearifan lokal yang terkandung di dalamnya tersebut menjadi sebuah dokumentasi dan pedoman kehidupan masyarakat Bali dari dulu hingga sekarang. Hal tersebut sangat terkait dengan budaya yang memiliki nilai jual dalam hal pariwisata.
Editor : I Putu Suyatra