Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Luhur Dalem Betawi; Harmonisasi Ajaran Siwa dan Buddha

I Putu Suyatra • Senin, 30 September 2019 | 18:25 WIB
Pura Luhur Dalem Betawi; Harmonisasi Ajaran Siwa dan Buddha
Pura Luhur Dalem Betawi; Harmonisasi Ajaran Siwa dan Buddha

MENGWI, BALI EXPRESS - Pura Luhur Dalem Betawi di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Mengwi, Badung jadi bukti harmonisasi ajaran Siwa Buddha di Bali.
Bagaimana kisah sejarah pura yang bahan utamanya hanya menggunakan batu merah ini?


Pura Luhur Dalem Betawi  punya sejarah panjang yang termuat dalam Purana Bangsul. Menurut pemangku Pura Luhur Dalem Betawi, Jro Mangku I Made Karda, 74,  sejarah pura dimulai saat Raja Jayangerat dan permaisurinya, Ratu Manik Galih dari Kerajaan Guan di China berlayar ke samudra lepas menuju ke Selatan. Saat dalam pelayaran, mereka melihat segumpalan tanah berupa lumpur, dan keduanya sangat tertarik. Namun, sebelum sampai di tujuan, Raja Jayangerat moksha, sehingga perjalanan itu diteruskan oleh sang permaisuri.


Ketika sudah ditujuan, Ratu Manik Galih berniat moksha, namun ajudannya tidak mengizinkan. Kabar tersebut akhirnya dikirim ke Guan. Menerima kabar tersebut,  selanjutnya datang 200 orang dari Guan. Setelah kedatangan ratusan abdi raja itu,  baru Sang Ratu diizinkan 'melabuh geni'.


Ratu Manik Galih dan suaminya kemudian disemayamkan di Pura Sada Kapal. “Salah satu ajudannya yang seorang penasihat kemudian melanjutkan perjalanan ke arah barat. Sampai di desa pertanian mampir ke Pura Gunung Sari untuk  meditasi,” ujar Jro Mangku I Made Karda kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin. “Akhirnya dia meditasi di padukuhan di setra rare dari Pura Dalem Brerong,” tambahnya.


Setelah itu, penasihat mengetahui saat itu Pura Taman Dalem Brerong memiliki kawisesan yang membuat warga ketakutan. Penasihat yang belakangan dikenal dengan nama Santun itu,akhirnya bisa mengatasi masalah tersebut sehingga warga bisa beraktivitas cengan rasa tenang dan damai.
“Bahkan karena jasanya itu, Santun dijadikan penasihat oleh Bathari Dalem di Dalem Swarga dan Dalem Tengah," paparnya.


Ketika meditasi di Pura Gunung Sari, Santun meminta izin menetap di padukuhan tempat meditasinya. Dia pun mendirikan priangan (pura). Namun, karena  lahan puranya berupa alas (hutan) yang dikenal dengan bet (rimba), maka ada tiga opsi nama yang  ingin digunakan untuk nama puranya. “Pertama ada Betawi karena dari asal kata bet, yang berarti hutan. Kedua adalah Berawi karena bekas setra (kuburan), dan terakhir Batawi karena bahan utama pembuatan palinggih pura dari Bata,” ujar mangku yang lulusan teknik Arsitek ini.


Selanjutnya disepakati dan diputuskan  nama pura jadi Pura Luhur Dalem Betawi atau bisa juga disebut Pura Dalem Tanah China. Ditambahkannya, setelah Pura Luhur Dalem Betawi berdiri, Pura Dalem Brerong menghadiahkan taksu, sehingga di pura baru itu bisa mengadakan Calon Arang dan tari Kecak. “Beberapa waktu lalu, pemilik Hotel Cendana, Edi Cendana, menghadiahkan dua senjata kepada pura berupa  sambleng (berbentuk tombak pedang khas Guan) dan kuku Bima,” beber Jro Mangku I Made Karda.


Kemudian dari pihak Pura Luhur Dalem Betawi menghadiahkan Ratu Mas dan Ratu Ayu kepada Pura Dalem Brerong. "Sejak itu disepakati Pura Dalem Brerong sebagai perlambang Dewa Siwa dan Dewi Uma, sedangkan Pura Luhur Dalem Betawi dengan Buddha Dewi Kwan Im," terangnya.


Pura Luhur Dalem Betawi memiliki Palinggih Gedong Siwa Durga yang menghadap ke barat, dengan dua patung penjaga berupa Rahwana dan Kumbakarna. Selanjutnya ada Padmasana yang terukir indah dengan ukiran Naga Basuki paling bawah, kemudian ada patung purusa- pradana. “Kesemuanya itu sesuai dengan metra madya adalah Siwa Padma Sada Siwa Sakrastem Parama Siwa Trisulam,” ucapnya.


Sementara Gedong Buddha Dewi Kwan Im dengan stupa di puncak gedong. Di Gedong tersebut ada patung anak kecil yang konon jika orang ingin punya keturunan bisa berdoa di hadapan Dewi Kwan Im. Dua patung penjaga juga ada di gedong Dewi Kwan Im.


Lalu ada Sambyangan Agung sebagai tempat menerima tamu secara niskala. Di Sambyangan ini dibuat konco berupa naga yang melilit di tiang Sambyangan. "Di dalam Sambyangan  terdapat banyak patung dan senjata suci pura disimpan,” beber Jro Mangku I Made Karda yang sebentar lagi menuntaskan pasca sarjananya. Yang menarik, ada berdiri patung Bima di depan Padmasana. Selain itu, secara keseluruhan palinggih di Pura Dalem Betawi ini, sangat khas dengan uang kepeng China. Sampai saat ini  arsitektur kuno pura tetap dipertahankan, sesuai dari leluhur Pura Dalem Betawi yang hanya boleh menggunakan batu bata merah saja.



Piodalan Pura Luhur Dalem Betawi jatuh pada Buda Kliwon Wuku Mata. Piodalan kedua saat Imlek, dan ketiga saat Purnama Kadasa. Sehingga tak jarang juga etnis Tionghoa bersembahyang ke Pura Luhur Dalem Betawi. Dikatakannya, selain sebagai pura perlambang keharmonisan antara Siwa dan Buddha sejak dahulu,  pura ini juga bisa sebagai tempat nunas tamba (mohon diberkati kesembuhan). Kalau mau nunas tamba, maka bawa pajati yang  nantinya akan ditambahkan oleh mangku berupa jatu (daun jepun yang tumbuh di pura), juga kepasilan kelor yang dipercaya berkhasiat untuk pengobatan. Ingin nangkil? Tak sulit menemukan lokasi pura.
Mencari Pura Luhur Dalem Betawi cukup  memasuki wilayah Desa Mengwitani dari Jalan Denpasar- Gilimanuk. Selanjutnya carilah Jalan Astina Pura dan susuri hingga bertemu  Jalan Baradwaja, kemudian carilah Gang Perkutut yang menjadi lokasi pura. (agus sueca)

Editor : I Putu Suyatra
#mengwi #hindu #pura #sejarah pura