SIBANG, BALI EXPRESS - Kreteg (jembatan) kuno yang sudah berusia ratusan tahun di Sibang Gede, hingga kini tetap berdiri kokoh. Konon ada kekuatan niskala (gaib) turut berperan soal jembatan yang
menghubungkan Desa Sibang Gede dengan Dharmasaba di Kecamatan Abiansemal, Badung. Penasaran?
Jembatan di Sibang Gede bisa jadi jarang diketahui keberadaannya oleh orang luar. Pasalnya, letaknya yang tidak di dekat jalan besar, membuat jembatan penghubung Desa Sibang Gede dengan Dharmasaba di Kecamatan Abiansemal, Badung ini, kurang menjadi perhatian orang. Walau sudah berusia ratusan tahun, jembatan yang dikenal sebagai kreteg tua oleh warga sekitar ini, tetap menjadi salah satu akses utama masyarakat.
Tokoh Puri Kamasan Sibang Gede, I Gusti Agung Oka Pabian, 85, ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) awal pekan kemarin, menceritakan keberadaan kreteg bersejarah ini berdiri sejak tahun 1749 Masehi.
Dikatakannya, I Gusti Agung Kamasan Sakti III dibantu I Gusti Agung Mambal Sakti III 270 tahun lalu memutuskan untuk membangun sebuah jembatan untuk memudahkan akses warga dari Sibang Gede maupun dari Dharmasaba dalam beraktivitas.
Keinginan keduanya timbul dari keprihatinan melihat kenyataan para warganya harus turun ke Tukad (sungai) Ayung untuk menyeberang ke seberang sungai, bila beraktivitas di luar desa.
Berbekal keinginan untuk mensejahtrakan warganya, lanjutnya, maka pembangunan jembatan dimulai. “Pertama beliau mencari batu padas di campuhan karena batu padasnya besar-besar,” ujar I Gusti Agung Oka Pabian.
Batu padas yang besar-besar, konon selain dibawa manual, juga menggunakan kekuatan bathin. I Gusti Agung Kamasan Sakti III dan I Gusti Ngurah Mambal Sakti III menggunakan bantuan makhluk halus untuk membawa batu padas ke tempat jembatan akan dibangun.
Sesampai batu besar di lokasi, lanjutnya, baru kemudian menggunakan tenaga manual manusia. “Batu besar dipindahkan kala itubila menggunakan tenaga manusia akanbutuh waktu yang lama. Konon beliau memakai kekuatan bathin juga,” terangnya.
Setelah semua bahan terkumpul, warga baru diminta membantu membuat jembatan. Pembuatan jembatan bagi I Gusti Agung Oka Pabian cukup mencengangkan, mengingat pembangunannya berada di daerah tebing yang curam. Kedalalaman sungai sekitar 8,5 meter, kemudian lebar sungai lebih dari 30 meteran.
Proses pertama pembangunan dimulai dengan batu-batu padas yang besar dipotong dengan ukuran tertentu. Sebagai perekat batu padas, kedua pemrakarsa jembatan kemudian mencari bahan untuk merekatkan batu padas.
“Tanah merah jadi pilihan sebagai perekat batu padas tersebut,” sebutnya. Jika pembangunan jembatan modern menggunakan kerangka dan perhitungan rumit untuk menekan segala risiko yang akan terjadi, proses pembangunan kreteg tua ini pun sama, namun dengan cara yang berbeda.
Dipaparkannya, konsep pembangunannya meniru dari Prambanan atau Borobudur. Batu padas diletakkan, kemudian direkatkan ke sisi tebing di sebelah utara dan selatan.
Perekatan dilaksanakan semakin keatas semakin menjorok ke tengah sungai. Batu padas ditumpuk kemudian dijorokkan sedikit ukurannya ke arah tengah sungai, sehingga akan lebih kuat dan tidak jatuh ke sungai. Sampai di bagian teratas, batu padas antara dari sisi Dharmasaba dengan sisi Sibang Gede mendekat. Bagian ini, lanjutnya, merupakan bagian tersulit karena di bawah sambungan teratas adalah sungai langsung alias tidak ada batu padas di bagian bawah.
Tumpukan batu padas teratas terlihat tertumpuk beberapa lapis. Tumpukan beberapa lapis ini penting, agar ketika beban berat lewat maka jembatan tidak ambruk. I Gusti Agung Oka Pabian mengatakan, sulit membayangkan proses tersulit pembangunan jembatan itu, mengingat teknologi masa itu belum semaju sekarang. “Saya juga tidak bisa memastikan berapa lama proses pembuatan jembatan itu, karena tidak tercantum dalam prasasti ataupun catatan sejarahnya,” ungkap pria pensiunan PNS ini.
I Gusti Agung Kamasan Sakti III dibantu I Gusti Agung Mambal Sakti III, dalam proses pembuatan jembatan meminta warganya untuk membantu. Ketika proses tersebut, konon ada warga yang tidak bisa ikut bekerja karena alasan sakit. Sebagai pemimpin, beliau rupanya tidak mau dibohongi dengan alasan seperti itu. “Untuk mengecek sakit warga tersebut, konon beliau memindahkan penyakit bisul warganya ke dirinya. Bila benar merasa sakit di tubuhnya, berarti warga tersebut tidak berbohong. Izin tidak ikut bekerja baru direstui," terangnya.
Jembatan sepanjang 72 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 20 meter, akhirnya berhasil diselesaikan dengan baik. Keduanya pun membuat prasasti di sisi Sibang Gede. Prasasti berupa aksara Bali terpahat di sebuah gua, dimana ada dua tulisan yang terletak di sisi utara dan selatan gua. Di area tersebut juga terdapat palinggih, dimana para warga sampai sekarang masih sembahyang ke sana. Selain itu, warga juga mempersembahkan ( ngaturan) rarapan ketika hendak melintas di kreteg tua itu. Lalu, bagaimana kondisi jembatan ini setelah 270 tahun beroperasi. Baca tulisan selanjutnya. (bersambung)