Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Fungsi Niskala Kelapa Bercabang; untuk Obat Non Medis hingga Yadnya

I Putu Suyatra • Kamis, 26 Desember 2019 | 21:45 WIB
Fungsi Niskala Kelapa Bercabang; untuk Obat Non Medis hingga Yadnya
Fungsi Niskala Kelapa Bercabang; untuk Obat Non Medis hingga Yadnya

SEMARAPURA, BALI EXPRESS - Fenomena pohon kelapa bercabang yang selama ini dianggap tenget (sakral) oleh masyarakat Bali ternyata memiliki sisi lain. Buahnya yang terlihat biasa saja ternyata memiliki berbagai manfaat. Masyarakat percaya bahwa buah tersebut bisa digunakan untuk obat dan menjadi salah satu pelengkap sarana upacara Yajñya (korban suci berdasar tulus ikhlas).


Menurut I Gusti Ngurah Wirya (saat diwawancarai Juli 2016), pemilik kebun yang berisi pohon kelapa bercabang, banyak orang yang datang untuk nunas buah kelapa “ganjil” tersebut. Kebunnya yang terletak di kawasan Jalan Batu Tabih, Klungkung, itu telah menjadi momok di masyarakat karena keberadaan kelapa yang tenget sekaligus bertuah.


“Ada saja yang datang untuk dipakai berbagai keperluan,” ungkapnya.


Wirya mengatakan bahwa sebenarnya tanah tersebut merupakan warisan leluhurnya. Ketika diwariskan kepadanya, di tanah tersebut telah tumbuh kelapa bercabang. “Tahun ’63 saya masih kecil dan baru bisa ngarit (memotong rumput untuk makanan ternak). Waktu itu sudah ada pohon kelapa itu,” ungkapnya. Namun memang menurutnya kelapa itu awalnya normal seperti halnya pohon kelapa biasa. Namun lama-kelamaan pohon kelapa yang tingginya belasan meter tersebut mulai bercabang.


Pria berusia 60 tahun tersebut mengatakan bahwa awalnya cabang yang tumbuh adalah lima buah. “Nah, dari lima cabang itu tumbuh dua cabang lagi, sehingga totalnya ada tujuh,” jelasnya. Namun belakangan karena faktor usia dan akibat hembusan angin kencang satu per satu cabangnya patah. “Jadi sekarang tinggal satu cabang yang bertahan,” imbuhnya. Meskipun demikian, senantiasa ada orang yang datang untuk meminta buahnya.


Salah satu orang yang paling dia ingat adalah berasal dari daerah Karangasem. Orang tersebut meminta buah kelapa tersebut untuk dijadikan obat demi menyembuhkan sang anak. “Katanya anaknya sakit, (maaf) kurang waras,” ujarnya. Menurut penuturannya sang anak yang masih duduk di bangku SMA tersebut dicurigai terkena bebai atau guna-guna. Karena mendapat petunjuk secara niskala (gaib), akhirnya sang ayah diminta mencarikan buah pohon kelapa bercabang. “Beberapa waktu setelah itu saya dikasi tahu kalau anaknya perlahan sembuh,” jelasnya. Ia pun merasa lega.


Di samping dari Karangasem, ada juga yang meminta buah pohon kelapa tersebut dari berbagai daerah seperti Gianyar dan Sanur. Namun demikian, tidak semuanya nunas untuk dijadikan obat, melainkan kelengkapan sarana upakara yadnya, seperti Ngaroras, Ngusaba, dan sebagainya. Yang jelas, Wirya tidak pernah terlalu bertanya mendalam soal penggunaan buah kelapa tersebut. Bahkan dirinya pun mengaku belum pernah menggunakan buah kelapa itu untuk obat atau upacara. “Tapi kalau mengambil buah kering yang jatuh, itu biasa,” tuturnya. Menurutnya bentuk buah kelapanya pun biasa saja. “Hanya saja memang jumlahnya sedikit dan agak besar,” imbuhnya.


Mengenai tata cara nunas, mantan pegawai Pemda Kelungkung tersebut mengatakan sangat sederhana. Orang yang ingin meminta buah atau bagian kelapa disilahkan memberi tahu dirinya. Orang tersebut cukup membawa pejati. Pejati tersebut dihaturkan di palinggih yang letaknya sekitar 10 meter di sebelah selatan pohon kelapa, di bawah batang, dan di Pura Antab yang terletak di sebelah utara pohon kelapa tersebut.


Di samping itu, bagi yang nunas disarankan membawa tukang petik. Setelah menghaturkan pejati, tukang petik bisa naik dan memetik buah kelapa sesuai kebutuhannya. “Tidak hanya buahnya, terkadang ada yang nunas busung (janur), slepan (daun kelapa tua), paangan (dahan buah), bahkan danyuh (daun kelapa kering)- nya,” jelasnya. Ia tidak begitu mengerti fungsi bagian-bagian tersebut. Ia pun mengaku tidak pernah mematok harga buah kelapa serta bagian-bagiannya tersebut. “Biasanya di pejati kan sudah ada sesari (uang). Itu sudah cukup. Jumlahnya seikhlasnya,” tambahnya.

Editor : I Putu Suyatra
#bali