Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lumut Palinggih Ganesha Taman Beji di Sibang Kaja Bisa Dijadikan Obat

I Putu Suyatra • Kamis, 30 Januari 2020 | 21:29 WIB
Lumut Palinggih Ganesha Taman Beji di Sibang Kaja Bisa Dijadikan Obat
Lumut Palinggih Ganesha Taman Beji di Sibang Kaja Bisa Dijadikan Obat

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Pura Taman Beji identik palinggih utamanya adalah Batara Wisnu ataupun Dewi Gangga. Namun, berbeda dengan Pura Taman Beji di Banjar Tengah, Desa Sibang Kaja, Abiansemal, Badung, yang justru palinggih utamanya berbentuk Ganesha. Bagaimana muasal Ganesha jadi pilihan?


 


Patung Ganesha inilah yang menjadi keunikan Pura Taman Beji Sibang. Patung yang tampak berlumut tersebut  mempunyai cerita khusus dan menjadi cikal bakal pura yang terletak di dekat Sungai Ayung ini. Pemangku Pura Taman Beji Sibang, Jro Mangku I Wayan Wija, menerangkan bahwa Ganesha berkaitan dengan sejarah Pura Taman Beji. Konon menurut cerita tetua, dahulu ditemukan sebuah batu di Sungai Ayung. Batu tersebut ketika dilihat ternyata berbetuk Ganesha. Karena dianggap sebagai batu  sakral, maka batu  berbentuk Ganesha itu pun hendak diangkat oleh warga. Usaha pemindahan batu (arca Ganesha) dari sungai tidak berjalan mulus karena ada saja gangguan sehingga batal melaksanakannya.



Akhirnya ditempuh  jalan niskala, menanyakan ke orang yang punya kekuatan supranatural. Hasilnya, bahwa hanya orang yang direstui oleh Ida Batara saja yang bisa mengangkat arca tersebut. Orang yang terpilih nantinya pun harus jadi pemangku di Pura Taman Beji. “Mulailah orang mencoba, hingga leluhur saya yang  akhirnya  bisa mengangkatnya. Sehingga leluhur saya menjadi pemangku. Begitu cerita yang  saya dengar dari tetua dahulu,” papar pria pensiunan Satpol PP Kota Denpasar tersebut kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) pekan kemarin.


 


Dikatakannya, ketika pemugaran pun arca Ganesha tidak bisa diangkat dengan mudah. Pengangkatan akhirnya menggunakan tali dan ditarik dengan alat khusus, sehingga mudah untuk membuat dasar pondasi palinggih. Padahal, menurut Jro Mangku I Wayan Wija, dengan ukuran arca tersebut, mestinya bisa diangkat oleh tiga sampai lima orang. “Sudah dicoba beberapa kali, ternyata tidak berhasil,” ucapnya.


Dijelaskannya ada kode di bagian bawah palinggih Arca Ganesha. Sampai saat ini pun tidak ada yang tahu tentang makna kode itu. Jro Mangku I Wayan Wija menunjukkan kode itu dengan membuka wastra putih kuning yang melilit pada palinggih. “Coba dilihat, ini ada semacam kode saya rasa, kalau ukiran rasanya tidak seperti ini,” terangnya sambil menunjuk lekukan batu seperti membentuk huruf.


Palinggih Arca Ganesha yang penuh dengan lumut itu pun rupanya sengaja tidak dibersihkan karena berguna sebagai tamba (obat). Banyak yang datang karena hasil meminta petunjuk orang pintar, bahwa lumut di arca Ganesha bisa digunakan sebagai boreh (lulur). “Lumutnya sengaja dibiarkan.  Kalau ada pamedek yang butuh untuk obat boreh bisa diambil dan  digunakan,” ucapnya.


Selain Ganesha, ada Palinggih Ibu Pertiwi yang diyakini sebagai tempat untuk memohon kemakmuran bagi para petani. Makanya, ketika piodalan di pura yang jatuh setiap Sukra Kliwon Pujut, akan terlihat persembahan dari berbagai jenis umbi-umbian.



Pura yang diempon  tujuh banjar adat di Desa Sibang Kaja ini, juga menjadi tempat pasucian Ida Batara dari berbagai pura di Desa Adat Sibang Kaja.



Pasucian (ritual penyucian) dilaksanakan di sumber mata air yang terletak di area utamaning mandala. Terdapat lima pancuran air dengan patung Panca Pandawa di masing-masing pancuran. Tidak hanya sebagai pasucian, sumber mata air ini juga digunakan sebagai tempat malukat ( membersihkan diri ).


Selama ini yang malukat di Pura Taman Beji masih dari  warga sekitar desa. Dikatakan Jro Mangku I Wayan Wija, malukat di Pura Taman Beji ini biasanya untuk mengobati kasisipan (berkitan dengan kawitan atau leluhur) dan sakit sekala dan niskala. Pamedek yang datang berdasarkan petunjuk dari Balian.


Pihak pangempon pura  menyiapkan mesin untuk mengalirkan air dari sumber mata air ke atas. Ini dilakukan karena posisi kelebutan ( sumber mata air ) berada di area bawah utamaning mandala. “Malukat bisa langsung di pancuran jaba pura, sedangkan tirta dimohonkan di utamaning mandala dengan mempersembahkan  banten  pajati,” terang pria yang menjadi pemangku sejak 25 tahun lalu itu. Pura Taman Beji di Banjar Tengah ini memiliki sebuah pohon pule yang dipercayai ada penunggunya. Sebagai bentuk penghormatan, maka dibuat palinggih. Di luar area pura juga terdapat sebuah batu khusus yang kerap diisi persembahan canang. Batu ini terletak di utara tembok utamaning mandala. Posisinya dibawah pepohonan sehingga tidak terlalu terlihat.


Menurut Jro Mangku I Wayan Wija, batu ini sengaja diletakkan di sana agar orang tidak kencing sembarangan. Sebab, area tersebut menjadi tempat tinggal rencang (penjaga gaib) berupa wong samar dan gamang.


Jro Mangku I Wayan Wija mengaku pernah melihat ketika piodalan ada orang yang bukan pamedek melintas, ketika melewati area pura, orang-orang itu menghilang. “ Ada juga orang berbadan hitam besar menampakkan diri, apalagi suasana sebelum dibangun jalan di sini, lebih terasa auranya,” terangny.  Jro Mangku I Wayan Wija berharap dengan melihat batu ini, orang  menjaga sikap ketika melintas dan tidak kencing sembarangan. "Area ini juga adalah pasar gaib, takutnya kalau berbuat aneh-aneh mereka marah,” pungkasnya. 


Selain Palinggih Ganesha, Ibu Pertiwi dan Batara Wisnu,  di pura ini juga terdpat Palinggih Tajuk dan Gedong Panyimpenan.

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat #bali #hindu #pura #badung