DENPASAR, BALI EXPRESS - Penjor salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan sebagai hari kemenangan dharma melawan adharma. Namun, sebagian umat menggunakan bambu untuk penjor berulang kali, dan sebagian lagi tak mau memakainya lagi. Sejatinya, boleh atau tidak bambu yang sudah dipakai, dimanfaatkan lagi?
Di kawasan perkotaan di Bali tak jarang warga sering memakai bambu Penjor yang sudah pernah dipakai. Pasalnya, Penjor di Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah tradisi, juga wajib dibuat dan didirikan di depan rumah setiap umat Hindu. Lantaran itu pula, di samping waktu yang terbatas, sebagian umat memanfaatkan lagi bambu penjor yang sudah pernah dipakai.
Umumnya umat mendirikan Penjor pada hari Selasa Wage Wuku Dunggulan, atau sehari sebelum Hari Raya Galungan. Tetapi era modern ini, beberapa warga utamanya yang merantau di perkotaan mendirikan Penjor lebih awal agar bisa pulang kampung.
Penjor adalah sebuah karya yang dibuat dengan bambu berhias janur, dihias kain putih atau kuning, diisi hasil bumi, seperti palawija dan buah. Penjor di era kini dibuat sesuai seni masing-masing pembuatnya, sehingga jarang bisa menemukan Penjor yang sama satu dengan yang lainnya. Dari yang sederhana hingga yang megah hingga mwnghabiskan dana jutaan rupiah.
Fenomena pembuatan Penjor di masa kini terjadinya pengulangan penggunaan bambu Penjor. Ini bisa ditemui di perkotaan, dimana warga perantau sering menyimpan bambu Penjor yang selesai digunakan untuk dipakai lagi bila dibutuhkan, terutama saat Hari Raya Galungan enam bulan berikutnya. Lantas, boleh atau tidak menggunakan bambu untuk Penjor berulang kali?
Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, 50, mengatakan, penggunaan Penjor berulangkali oleh umat bisa dilakukan, asal dua syarat dipenuhi. Dua syarat tersebut tidak terlalu sulit dilakukan,
cek kondisi bambu dan kebersihannya.
Mengecek kondisi bambu penting agar jangan bambu sudah retak atau keropos digunakan lagi. Sia-sia nantinya bila Penjor akhirnya patah, apalagi nanti menimpa orang karena letaknya di pinggir jalan.
"Selanjutnya bersihkan bambu dari kotoran sebelum digunakan. Seperti ingka yang kita gunakan berulangkali membuat soda.Semuanya dibersihkan sebelum digunakan,” ujar sulinggih asal Griya Natar Agung, Banjar Laplap. Desa Penatih Dangin Puri, Denpasar kepada
Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.
Ditanya mengenai harus menggunakan prayascita sebelum memakai bambu menjadi penjor, pria paruh baya ini tersenyum. Dia menyatakan, perlu prayascita bila bambunya ditaruh di tempat yang leteh (kotor), dan kalau tidak, hanya perlu dilap saja. “Saya misalkan untuk bambu umbul-umbul di pura dan ingka atau bokor yang dipakai banten, apa harus diprayascita kalau digunakan kembali, kan tidak harus,” ungkapnya.
Penggunaan bambu berulang tidak masalah, lanjutnya, namun sebagai umat tentu ingin menghaturkan yang terbaik.
Dikatakannya, penggunaan bambu Penjor yang baru telah memutar perekonomian umat dan juga menjadikan pelestarian alam secara tidak langsung. Hindu yang notabene dalam setiap kegiatan upacara keagamaan menggunakan bahan alam mulai dari janur, kelapa hingga bambu, membuat orang mau menanam pohon, menggunakan tanahnya untuk pertanian karena bisa menghasilkan.
“Pada intinya tetap tidak masalah menggunakan bambu berulang, tetapi jangan sampai ya pala bungkah, pala gantung dan palawijanya diganti dengan bahan plastik biar bisa dipakai berulang. Kalau yang itu tidak baik,” terangnya.
Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga mengatakan, pembuatan Penjor diatur sedemikian rupa, bahan-bahan yang digunakan memiliki arti dan filosofinya masing-masing. Bambu misalnya, sebagai simbol kerendahan hati dan angka tiga pada aksara Om Kara (Ongkara). Kue sebagai vibrasi kekuatan Dewa Brahma. Kelapa sebagai simbol vibrasi Dewa Rudra. Kain Kuning dan Janur sebagai simbol vibrasi Dewa Mahadewa, Daun-Daunan (Plawa) sebagai simbol vibrasi Dewa Sangkara.
Pala Bungkah dan Pala Gantung sebagai simbol vibrasi Dewa Wisnu. Tebu sebagai simbol vibrasi Dewa Sambu. Padi sebagai simbol vibrasi Dewi Sri. Uang Kepeng sebagi simbol Dewi Laksmi. Kain putih sebagai simbol vibrasi Dewa Iswara.
Sanggah sebagai simbol vibrasi Dewa Siwa. Upakara sebagai simbol vibrasi Dewa Sadha Siwa dan Parama Siwa.
Pada ujung penjor digantungkan Sampiyan Penjor lengkap dengan Porosan yang terbuat dari Srih, Kapur, Pinang dan bunga sebagai simbul panunggalan atau sari (Penyatuan) Tri Loka atau Tri Aksara menjadi Om Kara (Ong Kara), yakni aksara suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Khusus pada Penjor Galungan, pada Hari Raya Kuningan sesajennya dilengkapi dengan endongan, tamiang dan kolem yang difilosofikan agar segala yang telah ditampilkan ditami atau diwariskan (anugerahkan) oleh Hyang Widhi.
Editor : I Putu Suyatra