Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jangan Sembarang Beri Nama Anak, Sesuaikan Hari Lahir

I Putu Suyatra • Rabu, 4 Maret 2020 | 23:05 WIB
Jangan Sembarang Beri Nama Anak, Sesuaikan Hari Lahir
Jangan Sembarang Beri Nama Anak, Sesuaikan Hari Lahir


DENPASAR, BALI EXPRESS - Tren pemberian nama seorang anak makin unik, di samping  mengandung makna  beragam. Hal ini dilakukan orang tua, dengan harapan anaknya  mempunyai sifat sesuai makna nama yang disandang. Bagaimana sebaiknya memberikan nama anak ?



Nama adalah identitas sebuah benda, baik benda hidup mulai tumbuhan, hewan hingga manusia, dan benda mati seperti alat elektronik, transportasi, dan lainnya. Dengan memiliki nama, sekaligus membuat benda tersebut,  baik hidup dan mati bisa dibedakan.



Pembantu Rektor 1 IHDN Denpasar, Prof Dr  I Made Surada MA, 53,  mengatakan, dalam Hindu, khusunya di Bali, pemberian nama orang melalui proses yang cukup sakral, karena ada upacaranya. Jadi,
pemberian nama seseorang pada Hindu Bali, tidaklah sembarangan. Nama sebagai identitas yang diberikan pada anak, lewat upacara nyambutin membuat nama tersebut melekat dan bisa mencerminkan sikapnya kelak. “Dahulu orang tua ketika memberi anak sering melihat kondisi saat anak lahir.


Sehingga nama orang tua dahulu umumnya bisa langsung kapan dia lahir. Misalnya ketika lahir ada gempa, maka orang tua memberi nama si anak I Wayan Gejer,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Seiring waktu, lanjutnya, kini berubah, dan mulai pakai nama bulan lahir seperti Febri misalnya, juga menggunakan nama dewa seperti Wisnu.


Menurut Made Surada, penggunaan nama dewa untuk  nama seorang anak harus dipikirkan dengan matang oleh orang tuanya. Orang tua zaman sekarang mulai terbiasa menyiapkan nama ketika anak masih dalam kandungan. Kesempatan itu harus dimanfaatkan orang tua memberi nama yang baik, namun tidak menjadi bebas bagi si anak. “Memakai nama dewa sebagai nama anak tidak masalah. Sah-sah saja, karena orang tua pasti mengharap si anak bisa memiliki sifat dari karakter dewa tersebut,” terangnya.



Made Surada berharap  orang tua juga memikirkan matang-matang tentang penggunaan nama dewa pada anak. Bagi dirinya, seorang menyandang nama dewa adalah hal yang sulit. Hal ini pun dianggap bisa menjadi beban bagi si anak ketika menyandang nama dewa, namun karakter kepribadiannya tidak mencerminkan nama yang  disandang. “Saran saya memang harus dipikirkan secara masak-masak kalau hendak memberi nama dewa,” ujarnya.



Selain mempertimbangkan untuk memilih nama dewa sebagai nama anak, Made Surada juga menjelaskan ketika hendak memilih nama untuk anak dengan melihat hari kelahirannya. Hal ini menurutnya juga penting, karena nama yang dipersiapkan bisa dicocokkan dengan neptu dari hari lahirnya tersebut.



Dicontohkannya, seseorang yang lahir pada hari Senin Kajeng Kliwon Wuku Sinta. Bagaimana hitungan neptunya? "Jumlahkan neptu dari lahirnya itu semua, kemudian dilihat sisanya. Nah, sisanya apakah cocok dengan nama yang disiapkan? Jika cocok bagus, jika tidak lebih baik diganti,” bebernya.



Pemahaman tersebut menjadi penting, lanjutnya, karena kepercayaan di Hindu Bali ada orang yang sakit, karena namanya tidak cocok dengan hari lahirnya. "Ada kasus anak sakit sudah berobat tidak sembuh walau dibawa ke dokter atau pengobatan herbal. Namun setelah diganti nama si anak pun bisa sembuh. Kepercayaan ini memang sering terjadi," ujarnya. Oleh sebab itu, lanjutnya, nama adalah hal yang tidak boleh sembarangan disematkan kepada seorang anak. Sebab, pemberian nama ada upacaranya pas Nyambutin.



Selain itu, sebagai umat Hindu Bali memilih nama untuk anak kemudian mencocokkannya dengan hari kelahirannya, maka risiko mengganti nama akan tidak ada.



Dijelaskannya, ketika anak masih kecil, hanya dengan upacara, maka nama bisa diganti. Namun, ketika sudah punya akta kelahiran, ijazah, dan dokumen negara lainnya, maka mengubah nama akan menjadi hal yang rumit, karena harus mengurus ulang, mengubah sejumlah dokumen penting.  “Saya sarankan memberi nama dicek dulu dengan hari kelahirannya untuk meminimalisasi efek negatif ke si anak misalnya, karena tidak jarang bila tidak cocok namanya, si anak jadi sakit sakiran,” pungkasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#anak #hindu