DENPASAR, BALI EXPRESS - Barong dan Rangda merupakan warisan budaya leluhur yang harus dijaga secara sekala maupun niskala. Lantaran itu pula, aksi konyol untuk lucu lucuan tak pada tempatnya, dinilai sangat tidak pantas.
Rangda merupakan simbol pangiwa (hal yang jahat) dan Barong adalah simbol panengen (hal yang baik). Keduanya merupakan satu kesatuan yang disebut Rwa Bhineda (keseimbangan). Rangda dan Barong yang sudah dipasupati atau diupacarai disebut dengan sakral. Sedangkan yang belum diupacarai disebut dengan profan. Meskipun tidak diupacarai, Rangda maupun Barong kurang tepat jika digunakan permainan, salah satunya digunakan tiktok. Lucu lucuan cari perhatian di media sosial. Hal itu diungkapkan salah satu seniman pagelaran tradisi Calonarang, Dr Komang Indra Wirawan SSn MFil H kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) pekan kemarin. Disampaikannya bahwa Rangda dan Barong simbol Rwa Bhineda, dualitas yang berbeda, namun menjadi satu kesatuan.
“Rangda simbol pangiwa dan Barong sebagai panengen. Namun, kita tidak berbicara benar dan salah, keduanya hal yang berbeda, bisa melengkapi satu kesatuan,” jelasnya.
Pria yang dikenal dengan Doktor Calonarang itu menyampaikan, jika masyarakat di luar Bali melihat Rangda maupun Barong biasannya identik dengan sasuhunan yang ada di pura. Bukan berarti umat Hindu menyembah sesuatu hal yang menyeramkan dan menakutkan. Rangda merupakan simbol dari Durga.
“Simbol dari uma, durga, dan sebagainya, dimana manusia tidak bisa mengendalikan dirinya, emosi, serta lebih dominan yang ada di dalam diri. Makanya, lelingsir kita terdahulu menyampaikan kalau ke pura jangan tidak mengikat rambut. Jangan berbicara yang tidak baik, dan jangan melototin mata (marah) seperti simbol Rangda tersebut. Itu merupakan pesan etika dan moral dalam mencirikan di balik buta kala itu sendiri. Jadi, ke pura juga untuk proses pengendalian diri seseorang,” paparnya.
Ditegaskan Indra Wirawan, Rangda merupakan warisan budaya leluhur yang luhur dalam ajang kontestasi pagelaran tradisi Calonarang. “Jika dipakai tik tok bukanya benar dan salah, namun keliru. Meskipun Rangda profan, sebaiknya kita bisa menempatkan mana yang tepat untuk bermain dan mana yang sakral. Jangan sampai kita melecehkan diri sendiri,” tegasnya.
Disinggung apakah Rangda hanya dilinggihkan di Pura Dalem saja? Indra Wirawan mengatakan belum tentu, karena sasuhunan Rangda dilinggihkan (distanakan) sesuai tujuan dari masyarakat yang mengupacarainya. Jika masyarakat yang berkeinginan kesuburan biasanya dilinggihkan di Pura Puseh maupun Desa. Sedangkan kawisesan akan dilinggihkan di Pura Dalem.
Melihat dari tujuan itu, maka saat pandemik Covid-19 kerap dilaksanakan nedunang atau masolah alit tapakan Rangda dan Barong. Bila bertepatan dengan piodalan, lanjutnya, napak pertiwi juga dilaksanakan dengan masolah alit. Dilaksanakan di jeroan pura dengan sarana banten sesuai dresta masing-masing. Jadi, napak pertiwi tidak harus dengan Calonarang.
“Covid 19 ini merupakan cerminan bagi kita semua. Dengan pengetahuan yang kita miliki saat ini, kemampuan yang ada dan banyak orang berpendidikan, semestinya bisa memperbaiki bumi ini, bukan merusak bumi. Covid 19 atau yang di zaman dahulu disebut Gering Agung memang sudah ada," paparnya.
Gering Agung, lanjutnya, tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. "Dahulu dialihkan melalui pentas seni untuk mengatasi rasa ketakutan masyarakat dan mengobati traumanya,” tandas Indra Wirawan.
Editor : I Putu Suyatra