Untuk menelusuri keberadaan keturunan Tangkas di Banjar Pagan Kelod, Desa Adat Pagan, Denpasar, kita tak bisa lepas dari keberadaan leluhur Tangkas di tanah Jawa. Sejarah Tangkas tidak dapat lepas dari Kerajaan Kediri karena leluhur Tangkas dibesarkan di keraton Kediri.
Pada tahun 1222 tercatat, Raja Kediri yang terakhir bernama Kertajaya (sering disebut dengan nama Dandang Gendis) diserang Ken Arok. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Kediri berhasil dikalahkan.
Tersebutlah dua orang perwira gagah berani yang masih ada hubungan darah dengan Jaya Katowang dan Ciwa Waringin yaitu Jaya Katha dan Jaya Waringin. Ketika pasukan Kediri berhasil dipukul mundur, Jaya Katha melarikan diri beserta dengan istrinya yang hamil tua ke daerah Tumapel. Di Tumapel beliau disambut oleh keluarga Gajah Para (keluarga dari istri) dan keluarga Kebo Ijo. Di tempat itu beliau melahirkan tiga orang putra, seperti disebutkan dalam Babad Arya Kanuruhan sebagai berikut:
” Pira kunang suwenira hanengkana marek pawekang kala, ri wekasan Jaya Katha awangsa jalu tatiga; Jyesta abhiseka Arya Wayahan Dalem Manyeneng. Panghulu apangaran Arya Katanggaran, Pamungsu Arya Nuddhata, tan waneh ibu sira katiga sangkana wangsan sira Jaya Katha.
Arti b e b a s;
Setelah sedemikian lama beliau berada di sana ( Tumapel ) maka akhirnya Jaya Katha, yang kemudian mempunyai 3 orang putra bernama Arya Wayahan Dalem. Yang kedua, Arya Katanggaran, dan ketiga atau yang terkecil bernama Arya Nuddhata. Oleh karena ibu mereka berjumlah 3 (tiga ) orang, demikianlah keturunan Jaya Katta.
Tersebutlah putra beliau yang kedua bernama Arya Katanggaran mengambil istri dari keluarga Kebo Ijo. Dari perkawinan ini lahirlah Kebo Anabrang. Diberi nama Kebo Anabrang karena beliau diutus oleh raja Singosari ke daerah seberang Melayu dalam rangka memupuk persahabatan dengan Kerajaan Melayu dan Sri Wijaya karena kedua negara ini memiliki angkatan laut yang sangat kuat, dan Sri Wijaya adalah negara maritime terkuat saat itu. Dalam rangka persahabatan ini, Kebo Anabrang datang ke Tanah Melayu dengan pasukan bernama Pemalayu (1275 - 1292). (bersambung/man)
Editor : Nyoman Suarna