Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Batu Bolong Tempat Ritual Mapag Angin

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 22 Juni 2020 | 18:57 WIB
Pura Batu Bolong Tempat Ritual Mapag Angin
Pura Batu Bolong Tempat Ritual Mapag Angin

 TABANAN, BALI EXPRESS - Desa Beraban di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, namanya dikenal lantaran keberadaan Pura Dang Kahyangan Tanah Lot. Selain Pura Tanah Lot, di sebelah baratnya juga terdapat Pura Batu Bolong. Pura yang memiliki panorama indah ini, sekaligus menjadi tempat pemujaan Sang Hyang Baruna.


Nama Pura Batu Bolong memang sesuai dengan kondisi pura ini. Yakni berdiri di atas batu tebing yang di bawahnya berlubang sangat besar. Saat Bali Express (Jawa Pos Grup) memasuki areal jeroan (utamaning mandala), terlihat ada tujuh buah palinggih yang berdiri kokoh.


Palinggih utama yaitu Palinggih Sang Hyang Baruna. Kemudian ada Palinggih Saren Kaja Pasimpangan Gunung Agung, Palinggih Sanggar Agung. Ada juga  Palinggih Mekel Pasimpangan Dalem Ped, Palinggih Sanggar Agung, Palinggih Pangayatan Ratu Niang Segara, dan Palinggih Pancer. 


Pemangku Pura Batu Bolong Jro Mangku I Ketut Supama, 51, bersama salah satu pangempon yang juga Ketua Panitia Piodalan Pura I Made Sulindera, menceritakan, asal usul pura ini memang tidak tertulis dalam purana maupun lontar manapun.


Namun, diakui erat kaitannya dengan Pura Tanah Lot yang berada di sebelah timur Pura Batu Bolong. “Sempat dulu mapinunas, katanya disini ada hubungannya dengan Pasek Kayu Selem. Catatan sejarah tidak ditemukan, sudah dicari kemanapun, baik ke dinas purbakala maupun Dinas Kebudayaan di Bali, tapi tetap tidak ditemukan,” ujar Jro Mangku Ketut Supama dibenarkan Made Sulindera. 


Yang jelas, Pura Batu Bolong ini ada satu kesatuan dengan Pura Tanah Lot. Mengingat pujawali di Tanah Lot berbarengan pula dengan pujawali Pura Batu Bolong, yakni setiap Budda Wage/Cemeng Langkir. “Pada saat pamuput karya, tirta tersebut ditunas di Pura Tanah Lot,” ungkap Jro Mangku Ketut Supama. 


Paengempon Pura Batu Bolong dari 50 kepala keluarga, dan tidak semuanya berasal dari banjar yang ada di Desa Beraban. “Pura Batu Bolong ini dahulunya keluarga saya yang mengurus atau pangemponnya. Tapi, ini bukan pura keluarga. Jadi, siapapun boleh tangkil (bersembahyang) kesini dari seluruh lapisan masyarakat,” sambung Sulindera. 


Upacara unik di Pura Batu Bolong ini disebutkan Jro Mangku Ketut Supama, yakni Pakelem Mapag Angin. Upacara ini dilakukan saat Tilem Kaulu atau Kedelapan. Mengingat, pada waktu ini, angin memang sedang kencang-kencangnya. 


Prosesi pakelem ini menggunakan sarana bebek putih jambul, ayam putih, dan pala bungkah pala gantung, yang dilempar atau dilarung dari atas setelah ngantebang di Palinggih Ratu Niang Segara. Tujuan upakara ini untuk menetralisasi alam, terutama angin, supaya tidak lebih kencang. 


Pura Batu Bolong diakui Jro Mangku Ketut Supama, juga sering digunakan untuk tempat malukat. Terutama bagi mereka yang mendapat pawisik (bisikan niskala) supaya malukat di segara (laut) Pura Batu Bolong. 


“Prosesi malukatnya itu dipersiapkan yang bersangkutan. Seperti beberapa waktu lalu ada yang datang malukat, katanya mendapat pawisik harus malukat disini,” sebut Jro Mangku Ketut Supama.


Soal hal mistis, Jro Mangku Ketut Supama mengatakan, setiap piodalan ada saja pangempon yang kalingsenan atau karauhan (trance) dan bertingkah laku seperti ular. Namun, diakui Jro Mangku Ketut Supama, dirinya tidak pernah secara langsung melihat adanya ular duwe yang dimaksud tersebut. 


Namun, dengan status kawasan itu sebagai kawasan suci dan juga daerah tujuan wisata, Sulindera maupun pengelola wisata Tanah Lot tetap mengingatkan wisatawan untuk mematuhi aturan yang berlaku.


Syarat utama ketika hendak memasuki areal pura, yakni tidak boleh dalam cuntaka atau sebelan. Bagi wanita sedang datang bulan juga dilarang  masuk. “Nah bagi masyarakat non Hindu, boleh masuk ke pura, dan wajib mengenakan pakaian adat. Hanya untuk ke areal jeroan (utamaning mandala), tetap tidak diperkenankan. Kecuali tujuannya memang untuk tangkil. Itu harus. Karena ini tempat suci. Dan, juga sudah pasti tidak melakukan perbuatan yang terpuji maupun bicara kotor di pura,” pungkas Sulindera.



 




 


 


Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#pura