Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Sederet Mitos Larangan Duduk di Ambang Pintu

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 16 Juli 2020 | 06:56 WIB
Ini Sederet Mitos Larangan Duduk di Ambang Pintu
Ini Sederet Mitos Larangan Duduk di Ambang Pintu


MANGUPURA, BALI EXPRESS - Meski zman telah modern, namun mitos tentang duduk di ambang pintu atau di depan pintu masih populer hingga saat ini. Kabar ini masih dipercaya, sebab terus berlangsung secara turun-temurun. Anggapan pantang  duduk atau berdiri di ambang pintu, memunculkan beragam argumen yang berhubungan dengan kehidupan. 


Beberapa mitos yang kerap diucapkan masyarakat terkait duduk atau berdiri di ambang pintu, seperti susah mendapatkan jodoh atau rezeki jadi seret. Ada juga yang mengatakan, jika ibu hamil duduk di ambang pintu, maka akan susah saat melahirkan atau proses persalinannya menjadi lebih lama.


Mitos ini tidak saja diyakini umat agama lain, umat Hindu pun meyakininya. Bahkan, para tetua zaman dahulu akan melarang keras jika menemukan seorang wanita duduk di ambang pintu. Mereka beranggapan, apabila duduk di ambang pintu akan mengganggu makhluk halus yang sedang melewati pintu tersebut. Konon mereka dapat jatuh sakit, karena mendapat teguran dari makhluk halus akibat menutupi jalan (kesambet).


Menurut penuturan Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa dari Griya Agung Batur Sari, Banjar Gambang, Mengwi, Kabupaten Badung, selintas tidak ada hubungannya antara duduk atau berdiri di depan pintu dengan jodoh dan rezeki. Kemungkinan anggapan tersebut terlahir dari pengalaman hidup tetua pada zaman dahulu.


“Memang agak aneh, tapi sampai sekarang masih banyak yang percaya. Itu dilakukan orang-orang zaman dahulu untuk mendisiplinkan putra-putri mereka. Cara mendidik anak zaman dahulu dan zaman sekarang kan beda,” ucapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin..


“Karena jelas saja tidak boleh duduk disana (ambang pintu). Itu kan akses keluar masuk. Kalau duduk disana, bagaimana orang mau lewat. Makanya, tetua zaman dahulu menggunakan kalimat tersebut untuk mendisiplinkan anak-anaknya,” sambungnya.


Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa menambahkan, pantangan ini muncul karena pada zaman dahulu ada kebiasaan para wanita yang suka mencari kutu atau melakukan tradisi Nginang dengan cara duduk berjejer di depan pintu. Kebiasaan itu berlangsung turun-temurun, sehingga warga yang merasa terganggu lalu membuat larangan ini.


“Dari beragam mitos itu, ada beberapa penjelasan yang ternyata bisa dinalar. Pertama, seorang gadis dilarang duduk di depan pintu karena akan menghalang-halangi orang yang akan keluar masuk rumah, termasuk tamu yang akan melamar sang gadis. Kedua, berdiri atau duduk di depan pintu adalah perbuatan yang bisa menyulitkan orang lain yang akan masuk dan keluar melalui pintu tersebut,” paparnya.


Bagi ibu hamil, larangan duduk di depan pintu ternyata ada alasannya. “Duduk di depan pintu akan memperbesar potensi ibu hamil untuk terpapar penyakit yang ditularkan melalui udara, atau yang biasa dikenal dengan airborne disease,” sambungnya.


Lantaran ketika pintu terbuka, akan mendukung penyebaran virus airborne disease seperti flu. “Ingat, hamil adalah saat daya tahan ibu sedang berada pada posisi terendahnya. Sehingga membuat ibu akan rentan terinfeksi penyakit termasuk flu,” urainya.  Kemudian  dari sisi kesehatan, lanjutnya, duduk menghalangi pintu juga berpotensi membuat masuk angin.


 

Editor : I Komang Gede Doktrinaya