Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Magoak-goakan, Burung Gagak Menginspirasi Taktik Perang Panji Sakti

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 16 Oktober 2020 | 16:41 WIB
Magoak-goakan, Burung Gagak Menginspirasi Taktik Perang Panji Sakti
Magoak-goakan, Burung Gagak Menginspirasi Taktik Perang Panji Sakti

BULELENG, BALI EXPRESS-Beragam warisan budaya dan tradisi unik masa lampau, hingga kini dipentaskan. Seperti halnya Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, yang punya tradisi unik Magoak-goakan.


Magoak-goakan merupakan permainan asli tradisional dari Bali Utara, yang menjadi representasi dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti, yang dikenal sebagai pahlawan Buleleng, Bali, ketika menaklukkan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur. 


Magoak-goakan ini terinspirasi dari Burung Gagak (Goak) yang sedang mengincar mangsanya. Tradisi ini digelar setiap tahun setelah Hari Raya Nyepi, untuk menghormati jasa Raja Ki Barak Panji Sakti. Pada masa pemerintahannya, Raja Panji Sakti dikenal sebagai seorang raja yang murah hati serta memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Beliaulah pendiri Kerajaan Buleleng.


Munculnya permainan ini berawal dari Raja Panji Sakti melihat Burung Gagak yang melintas di hadapannya. Ia tertarik dengan taktik Goak itu dalam mengincar mangsanya. Maka sang raja pun menemukan ide untuk mengaplikasikan taktik sang Gagak ke dalam sebuah permainan. Sehingga ia menemukan salah satu permainan yang dinamakan Magoak-goakan. 


Ia pun mempraktekkan permainan ini bersama prajuritnya. Sebelum melakukan permainan, sang raja membuat kesepakatan bersama prajuritnya. Jika sang raja memenangkan permainan, maka semua keinginan raja harus dipenuhi prajuritnya. Perjanjian itu pun disetujui oleh prajurit. Dengan kegesitan Raja Panji Sakti, maka raja berhasil memenangkan permainan. 


Karena memenangkan permainan dan sesuai perjanjian, Raja Panji Sakti pun mengajukan permintaan. Saat itu raja meminta agar daerah Blambangan yang merupakan wilayah dibawah naungan Kerajaan Jagaraga bisa dimiliki, dan menjadi bagian dari Kerajaan Buleleng. 


Memenuhi permintaan tersebut, maka terjadilah peperangan memperebutkan wilayah Blambangan. Dan, pada akhirnya Blambangan berhasil ditaklukkan Kerajaan Buleleng.


Tokoh masyarakat Desa Panji, Ketut Marsha Jaya, menjelaskan, dilihat dari asal mulanya, tradisi ini memiliki tujuan memberikan dan membangun semangat kepada pasukannya untuk melawan musuh dari kerajaan mereka yang saat itu bermusuhan dengan Kerajaan Blambangan. 


Untuk menghormati dan mengenang sejarah kepahlawanan dari jasa Ki Barak Panji Sakti, penduduk Desa Panji terus menjaga dan melestarikan permainan ini. “Tradisi ini secara singkatnya merupakan sebuah permainan yang konon dimainkan Ki Barak Panji Sakti dengan pasukannya. Tujuannya memberikan dan membangun semangat kepada pasukannya untuk melawan musuh,” kata Ketut Marsha Jaya, kemarin.


Permainan ini boleh dilakukan oleh semua kalangan, dari anak-anak hingga dewasa. Biasanya warga Panji melakukannya di lapangan yang telah dibasahi dan berlumpur. 


Permainan ini dimainkan oleh dua regu. Satu regu berjumlah maksimal 11 orang. Namun, jika merujuk pada sejarah, lanjutnya,  seharusnya satu regu diisi 40 peserta. Para peserta dari masing-masing regu akan berjejer memanjang ke belakang sambil memegang pinggang peserta di depannya, dan yang terdepan  disebut Goak. 


Ketika permainan berlangsung, yang memimpin regu atau Goak harus mampu menangkap peserta paling akhir (di ujung ekor) dari pihak lawan. Siapa yang mampu menangkap terlebih dulu, akan dinyatakan sebagai pemenang. 


“Seharusnya permainan ini dimainkan dengan jumlah pasukan Goak 40 orang, bila melihat dari sejarah cerita Ki Barak Panji Sakti melakukan permainan ini, yang diistilahkan dengan Soroh Petang Dasa," urainya. 


Akan tetapi, dengan perkembangan zaman sekarang, lanjutnya, permainan ini bisa dikatakan tidak baku. Karena bisa dimainkan dengan jumlah bebas, tidak terpatok harus 40 orang.


Hal yang paling penting sebelum permainan ini dilakukan adalah memohon restu di Pura Pajenengan Panji, yang lokasinya tak jauh dari lapangan. Setelah selesai memohon restu, peserta mengelilingi desa, diiringi Baleganjur menuju tempat tradisi Magoak-goakan. Atraksi ini dilakukan sehari setelah Hari Raya Nyepi tepat pukul 15.00 Wita setiap tahunnya. 


“Tradisi Magoak-goakan bisa dikatakan sakral, bisa juga dikatakan tidak," ujarnya. Tradisi Magoak-goakan dikatakan sakral, apabila dilaksanakan di Pura Pajenengan atau di pura lainnya. Karena ketika melakukan permainan itu, seluruh pemain Magoak-goakan sembahyang matur piuning mohon izin untuk memainkan permainan itu. 


Dikatakan tidak sakral, lanjutnya, apabila permainan dipakai untuk menyambut tamu, pejabat, dan dilaksanakan tidak di pura.


Tradisi Magoak-goakan ini selain untuk menghormati jasa Ki Barak Panji Sakti, juga bertujuan sebagai wujud Purusa Pradana, yang artinya perlawanan laki-laki terhadap perempuan. Seluruh kalangan dapat ikut serta dalam memeriahkan tradisi ini.

Editor : I Komang Gede Doktrinaya