Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Penyembuhan Penyakit Berdasarkan Klasifikasi Lontar Usadha

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 2 Desember 2020 | 17:13 WIB
Penyembuhan Penyakit Berdasarkan Klasifikasi Lontar Usadha
Penyembuhan Penyakit Berdasarkan Klasifikasi Lontar Usadha

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Pengobatan tradisional atau alternatif sangat beragam jenisnya di berbagai belahan dunia, sesuai dengan kebudayaan dan kepercayaan setempat. Dalam kepercayaan Hindu, dikenal dengan ilmu Ayurweda. Sedangkan di Bali mengenal ilmu  Usadha Bali.


Ajaran Hindu Ciwa Siddanta menyatakan, Ida Sang Hyang Widhi atau Batara Siwa yang menciptakan semua yang ada di jagat raya ini, beliau pula yang mengadakan penyakit (gering), wyadhi obat (tamba, ubad), dan pengobat (balian), hidup dan mati juga kehendak beliau. Utpatti (lahir), Sthiti (hidup), Pralina (mati). 


Kata usadha tidaklah asing bagi masyarakat di Bali. Karena kata sering dipergunakan dalam percakapan sehari-hari dalam kaitan dengan mengobati orang sakit. Tetapi batasan usadha di Bali lebih luas. Usadha adalah semua tata cara untuk menyembuhkan penyakit, cara pengobatan, pencegahan, memperkirakan jenis penyakit (diagnosa), perjalanan penyakit dan pemulihannya.


Kalau dilihat secara analogi, hampir sama dengan pengobatan modern. Usadha adalah pengetahuan pengobatan tradisional Bali, sebagai sumber konsep untuk memecahkan masalah di bidang kesehatan. Dengan menguasai konsep usadha tersebut dan memanfaatkannya dalam kerangka konseptual di bidang pencegahan, pengobatan, rehabilitasi serta penelitian berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan. 


Dalam Antropologi pengobatan tradisional pada masyarakat dimasukkan ke dalam Etnomedicine. Yang menarik untuk dibahas adalah pengetahuan seperti apa saja yang ada dalam usadha sebagai salah satu jenis lontar yang berfungsi untuk pengobatan, dan bagaimana pengobatan itu dilakukan seperti yang terungkap dalam naskah Usadha Bali sebagai cara memelihara kesehatan.


Dalam ulasannya, Peneliti Lontar, Sugi Lanus, menyampaikan beberapa jenis klasifikasi lontar usadha. Seperti Usadha Buduh untuk mengobati orang sakit jiwa. Usadha Rare untuk pengobatan terhadap anak-anak. Usadha Kucacar untuk mengobati penyakit cacar. Usadha Tuju untuk penyakit rematik. 


Kemudian Usadha Pamugpugan untuk memusnahkan black magic. Usadha Manak pengobatan untuk pemeliharaan kandungan. Usadha Paneseh yang digunakan untuk orang hamil. Usadha Dalem untuk penyakit dalam. Dan Usadha Ila untuk mengobati penyakit lepra. 


“Dari beberapa jenis usadha tersebut, dalam pengobatannya menggunakan berbagai jenis ramuan rempah,” ungkapnya akhir pekan kemarin.


Dijelaskannya, Usadha Buduh dipakai untuk pengobatan penderita penyakit jiwa. Dalam naskah ini dijelaskan, penyakit jiwa ini bermacam-macam dan cara pengobatannya juga berbeda-beda. 


Dalam Usadha Buduh ada sekitar 11 jenis orang yang berpenyakit jiwa. Penyakit gila yang diderita oleh orang gila yang suka bernyanyi-nyanyi. Penyakit jiwa pada orang yang sering menangis. Obat lainnya adalah obat untuk orang gila yang senang tertawa, orang gila yang senang bermain kotoran, orang gila yang dengan ciri suka tidur dan tidak mau makan, orang gila dengan ciri galak, orang gila dengan ciri perut bengkak.


Obat penyakit gila disebut Bebaian adalah daun pungut yang tumbuhnya mengapit jalan masing-masing tiga helai, daun lada dakep tiga helai, tiga biji merica gundul. Obat ini disemburkan pada yang sakit, setelah itu dipijat. Setelah terlihat penyakitnya, lalu ambil dan tarik dengan cepat. 


Mantranya :  'Ih madra macah, sira anikep larane I yono' dan diberi rajah. Obat orang gila yang suka tidur dan tidak mau makan, yang diberikan adalah tujuh helai daun sirih yang urat daun kiri dan kanan bertemu di tengah-tengah, dirajah seluruhnya, tujuh butir merica, garam, diminumkan. Ampasnya dipakai untuk menyemburi seluruh tubuhnya. 


Obat orang gila dengan ciri suka meratap dan menangis tidak karuan, diberikan kelapa mulung, kemiri jetung (biji buahnya satu), kemiri biasa satu biji, bawang, mungsi, ketumbar diteteskan di hidung, di mata dan di telinga. Ampasnya dipakai untuk membedaki seluruh tubuh.


Kemudian yang kedua adalah Usadha Kacacar. Usadha ini digunakan untuk mengobati cacar. Dalam dunia kesehatan, sakit cacar disebut penyakit Varisela yang berasal dari bahasa latin. Penyakit ini menular dan banyak menyerang anak-anak dibawah usia 10 tahun. 


Pengobatan penyakit cacar ini agak rumit karena disertai dengan upacara pengobatan, dan dalam pengobatan itu harus digunakan kepeng. Pada naskah ini dinyatakan : “Ini kurban orang sakit kacacar, bila penyakitnya dikira akan menjumpai kematian, upakaranya satu buah tumpeng brumbun, dialasi dengan daun andong merang, dialasi dengan sengkwi yang berekor, diisi seekor daging ayam brumbun, dibelah dari punggungnya, isi jeroannya masih utuh, hanya dibelah dalam keadaan masih mentah, disertai ketupat sidapurna, diisi telur bekasem satu butir, " terang Sugi Lanus. 


Perlengkapan tersebut, lanjutnya, dilengkapi 11 buah kwangen, yang tiga buah diisi uang jepun masing-masing satu kepeng. Yang delapan buah lagi diisi uang kepeng yang biasa, serta canang gantal, canang rokok, serta canang lengawangi buratwangi, panyeneng, tulung, ras dan satu buah daksina dengan perlengkapan secukupnya. "Kurban tersebut diisi uang kepeng sebanyak 175 kepeng. Ketupatnya diisi uang 225 kepeng,” papar Sugi Lanus.


Yang ketiga adalah  Usadha Tuju. Obat tuju adanya dalam perut. Jika mempunyai penyakit ini, obatnya jeruk dua butir, muncuk uyah-uyah hitam tiga muncuk, kapur bubuk sedikit. Kemudian dimasak, lalu dipergunakan mengobati yang sakit disertai dengan perapalan mantra yang bunyinya antara lain, "Om tuju klinglang anta, duk sateka sabrang malayu mwah po kitaa ring bali, amatenin tuju teluh trajanan".


Selanjutnya yang keempat adalah Usadha Paneseh, yang merupakan pengobatan dan pemeliharaan untuk ibu-ibu hamil. Jika plasenta tidak keluar dapat diobati dengan air tawar yang masih baru, lalu air itu ditempatkan pada tempurung hitam lalu dirajah sangga, dan minum airnya. Mantranya adalah "Ong luwu tumbuh di duhur batu, teka kapo blabare uli gunung, teka anud". 


Untuk mengeluarkan plasenta dapat juga diobati dengan daun kamurugan dan arak, lalu diminum. Penyakit itu bisa diobati dengan jahe tujuh iris, uang aring lalu keduanya dilumatkan di depan pintu. Kemudian obat itu diminum.


Yang kelima adalah Usadha Dalem, yang digunakan untuk penyakit dalam. Penyakit ini sangat banyak jenisnya, sehingga berakibat juga pada macam-macam pengobatan. Dalam Usada Dalem diantaranya diuraikan berbagai obat yang berkaitan dengan tubuh manusia bagian dalam, seperti penyakit terkena racun, sakit perut, obat anyang-anyangan, perut bengkak, tanda orang meninggal, dan obat yang berkaitan dengan kesehatan alat reproduksi wanita dan pria. 


Misalnya obat perut bengkak dan batuk-batuk keluar nanah, diobati dengan kunyit warangan, kulit pohon pule, kayu batu maswi, tumukus, tiga ketumbar, minyak kelapa lalu diminum. Daun kemiri muda, cendana, pohon kembang sepatu, maswi, kemiri lalu disemburkan.


Kemudian yang keenam ada Usadha Ila yang digunakan untuk penyembuhan penyakit lepra. Jenis penyakit ini ditandai dengan warnanya. Jika warnanya putih disebut Ila Lungsir, bila berwarna merah disebut Ila Brahma. Bila putih berbintik-bintik disebut Ila Kangka, dan bila berwarna merah dan tebal dinamai Ila Dedek, dan bila merah melingkar dengan pinggir putih disebut Ila Kakarangan. 


Jika lepra itu warnanya merah bertumpuk-tumpuk disebut Ila Buta. Bila terkena Ila Lungsir, maka obatnya kulit kayu pangi, kulit kayu bila, dan sinrong wayah. Lalu kulit kayu tersebut dilumatkan sampai lembut dan ditambah dengan air cuka tahunan. Kemudian obat-obat itu diramu menjadi bedak.


Bila penyakit Ila Lungsir dengan gejala melingkar tebal warna putih, obatnya adalah jahe pahit, isin orong, bunga cengkeh, cabai jawa, terasi warangan, belerang merah, dan belerang kuning, lalu ditumbuk dan dicampur dengan air jeruk limau. Obat itu dipakai untuk mengolesi pada bagian tubuh yang sakit.


Selanjutnya yang ketujuh ada Usadha Keling. Dalam lontar Bali ini menguraikan bermacam-macam nama penyakit, penyebab dan pengobatannya secara tradisional dengan menggunakan sarana khusus yang bersifat tradisional lengkap dengan mantra-mantranya. Antara lain disebutkan nama-nama penyakit, seperti tiwang bumi (bengkak dalam perut), tiwang jawat (gatal pada badan), tiwang susu (berdenyut-denyut pada tubuh), tiwang nuju angin (berkunang-kunang pada mata). 


Pengobatannya antara lain, panuwed, tutuh hidung, loloh, rerajahan, pemancut guna bebai lan pemedi, pematuh alas angker, serta mengalahkan setra aeng angker. Diakhiri dengan ajaran Sanghyang Sarwa Griguh sehubungan dengan pengobatan secara tradisional dengan segala tata cara dan sarana yang ada di dalamnya.


Yang terakhir (kedelapan) ada Usadha Netra. Membahas berbagai penyakit yang dapat terjadi pada manusia dan pengobatannya. Pengobatan Usadha Netra didasarkan atas pengalaman, sabda atau wahyu dengan memanfaatkan tanaman, mantra serta rajahan atau lukisan untuk mengobati penyakit. 


Ditinjau dari namanya, Usadha Netra merupakan ilmu pengobatan untuk penyakit mata. Namun, pada kenyataannya, dalam Usadha Netra tidak hanya penyakit mata yang dicantumkan, melainkan terdapat pengobatan pada penyakit perut, penyakit kepala, penyakit dengan gejala panas/dingin, penyakit menggigil, penyakit dalam dengan gejala letih, penyakit luka, gatal-gatal dan koreng, penyakit pada bayi, bahkan untuk pengobatan untuk gigitan binatang berbisa. 

Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#klasifikasi