Tradisi Alilitan Karya, Ritual Pemuliaan Air di Tamblingan

I Komang Gede Doktrinaya • Dipublikasikan Minggu, 25 April 2021 | 16:15 WIB
Tradisi Alilitan Karya, Ritual Pemuliaan Air di Tamblingan
Tradisi Alilitan Karya, Ritual Pemuliaan Air di Tamblingan

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Masyarakat Catur Desa Adat Dalem Tamblingan memiliki kearifan lokal dalam menjaga sumber air di kawasan Danau Tamblingan, Kecamatan Banjar, Buleleng. Sebagai hulunya Bali yang kawasannya disucikan, krama Catur Desa rutin menggelar Alilitan Karya setiap dua tahun sekali, sebagai bentuk pemuliaan air.


Ketua Tim Sembilan Catur Desa Adat Tamblingan, Jro Putu Ardana, 59, kepada Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan, Catur Desa Adat yang terdiri dari Desa Gobleg, Munduk, Gesing, dan Umejero, memang diikat oleh unsur air yang ada di Danau Tamblingan sebagai pemersatu. 


Berdasarkan catatan sejarah, pemerintahan Catur Desa dipusatkan di Gobleg. Pemimpinnya adalah Pangrajeg Adat Dalem Tamblingan dan sifatnya turun-temurun. 


Eksistensi masyarakat adat Dalem Tamblingan sudah tercatat pada tahun 900-1100 Masehi. Tepatnya pada Prasasasti Suradipa, Udayana dan Ugrasena. Tahunnya sekitar 900 masehi.


Tetapi dari situs yang ada, eksistensi Catur Desa malah jauh lebih tua dari angka tahun yang disebutkan. 


Dalam prasasti juga disebutkan, jika dahulu masyarakat bermukim di sekitar Danau Tamblingan dan alas (hutan) Merta Jati. Kemudian sekitar abad ke 13, masyarakat memutuskan untuk pindah dan menyebar ke bawah yang kini disebut Catur Desa. 


“Alasan pindahnya sederhana. Yaitu untuk mensucikan Danau Tamblingan. Hutannya disebut Merta Jati atau sumber hidup sesungguhnya. Jadi untuk hidup, desa adat tidak mau mengutak-atik sumber mata airnya, melainkan hanya cukup memanfaatkan rembesannya saja,” jelasnya.


Keimanan masyarakat Catur Desa Adat Tamblingan, sebut Jro Ardana, adalah Piagem Game Tirta atau memuliakan air. Pertimbangannya, karena masyarakat hidup dari sektor agraris dan memanfaatkan rembesan air danau.


Sebagai bentuk syukur atas keberlimpahan air, krama Catur Desa menggelar ritual Alilitan Karya. Ritual ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Hanya saja, prosesinya sangat panjang. Sebab dilaksanakan berdasarkan perhitungan sasih dari Tilem Kasa sampai Purnama Kalima. Ritual inipun telah dilakukan secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam.


Jro Ardana menceritakan, Alilitan Karya dimulai pada Tilem Sasih Kasa yang diawali dengan Karya Dalu bermakna sebagai pembersihan. Dimana, yang dibersihkan adalah pertiwi. Ritual ini dipusatkan di sebuah sumber mata air, di kawasan Cangkub, tepatnya di perbatasan antara Desa Gesing dan Munduk.


“Pada saat Tilem Kasa, diumpamakan masyarakat ada dalam kegelapan. Yang dimaksud kegelapan artinya kemiskinan, kebodohan. Selanjutnya kami harus melakukan sesuatu. Sepakatlah melakukan sesuatu untuk menuju kesejahteraan,” bebernya.


Lima belas hari kemudian, tepatnya pada Purnama Sasih Karo, krama melaksanakan Bongkol Karya atau membersihkan dasar bumi atau Sapta Patala, sekaligus mulang dasar kamertaan. Ritual ini dilaksanakan di sebuah mata air di perbatasan Desa Munduk dan Gobleg. 


Setelah pertiwi dan dasar bumi dibersihkan, barulah masing-masing krama harus membersihkan diri di pura dadianya masing-masing. Yaitu bertepatan di Purnama Ketiga. 


Selanjutnya, Purnama Sasih Kapat melaksanakan Karya Pangrakih di daerah hulu. Tepatnya di Danau Tamblingan dan Alas Merta Jati. “Karena sumber merta kami disana. Sambil membersihkan hulu, sambil nunas merta di Luhuring Capah,” imbuhnya.


Ritual terus berlanjut. Seusai nunas merta, maka tepat Tilem Sasih Kapat, kemudian dibagikan kepada masyarakat di luar Catur Desa. Ritual ini diawali dengan mensucikan pratima Ida Bhatara Penghulu ke segara dengan berjalan kaki dari Gobleg ke Pura Labuhan Aji, Desa Temukus, Kecamatan Banjar sejauh 21 kilometer.


Menariknya, krama yang mengusung pratima Ida Bhatara Penghulu yang disebut Truna Tekor ini seolah tak kenal lelah. Mereka kerap berlari saat mendapat kesempatan untuk mengusung pratima ini. Seolah ada kekuatan niskala yang mendorongnya.


Mantan Kelian Adat Munduk ini mengungkapkan, ribuan krama tumpah ruah ngiringang Ida Bhatara Penghulu masucian dengan berjalan kaki. 


Sepanjang perjalanan dari Gobleg ke Pura Labuhan Aji, masyarakat yang wilayahnya dilalui kerap menghaturkan makanan dan minuman untuk warga Catur Desa yang ngiringang. 


“Sehingga kami tidak mungkin kelaparan dan kehausan selama perjalanan. Bahkan, ada keyakinan, jika makanan dan minuman yang dihaturkan krama di pinggir jalan itu habis, itu artinya sangat diberkahi, begitu juga sebaliknya,” bebernya.


Di Pura Labuhan Aji, Ida Bhatara masucian hingga tiga hari lamanya. Selama itu pula, segala bentuk kebutuhan makan dan minum krama yang ngiringang telah disediakan oleh krama subak yang selama ini memanfaatkan sumber air dari Mendaum untuk mengairi sawahnya.


Seusai masucian, selanjutnya Ida Bhatara Penghulu kembali balik ke Gobleg saat tengah malam. Namun kali ini rute yang ditempuh berbeda dengan saat menuju Pura Labuhan Aji. Pertimbangannya agar sebaran merta semakin diperlebar, sehingga seluruh tanaman masyarakat tumbuh subur.


Puncaknya adalah upacara Pangayu-ayu pada Purnama Sasih Kalima. Ritual ini bermakna ngenteg linggih jagad dan ngenteg linggih kemertaan. “Kesejahteraan yang kami ini dapatkan harus dikukuhkan, lewat upacara ngayu-ayu,” katanya.


Segala bentuk ritual yang dilakukan selama Alilitan Karya, sebut Jro Ardana, memiliki makna filosofis sebagai pemuliaan air. Bahkan, menurutunya jika krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan sudah melakukan konservasi air dan sumber daya alam baik secara skala dan niskala.


“Leluhur kami sudah sejak dahulu melakukannya. Memuliakan air secara skala dan niskala. Apalagi sumber hidup kita kan dari air. Dan, masyarakat luar Catur Desa juga mengakui spiritualitasnya,” pungkasnya.


Saat ini, jumlah warga yang tercatat sebagai anggota krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan mencapai 6 ribu KK (kepala keluarga). Dimana, luas lahan kawasan ini mencapai 7 ribu hektare. Dari jumlah tersebut, luas lahan untuk hutan tercatat 1.300 hektare. 




Editor : I Komang Gede Doktrinaya
bali upacara hindu tradisi buleleng