Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Simbol Kebebasan Wanita, Dilestarikan Lewat Awig-Awig

Nyoman Suarna • Jumat, 30 Juli 2021 | 14:36 WIB
Simbol Kebebasan Wanita, Dilestarikan Lewat Awig-Awig
Simbol Kebebasan Wanita, Dilestarikan Lewat Awig-Awig

Desa Pedawa, Kecamatan Banjar seolah tidak ada habisnya dikupas. Wajar saja, sebagai Desa Bali Aga, Pedawa menyimpan kekayaan budaya yang tak dimiliki wilayah lain. Salah satunya adalah sistem perkawinan Melaib Ngemaling atau yang lebih dikenal dengan Kawin Lari.



 



Tokoh masyarakat Pedawa, Wayan Sukrata mengatakan, perkawinan sistem Ngemaling saat ini masih eksis di Pedawa. Bahkan, pihaknya bersama prajuru adat sudah tertuang dalam awig-awig Desa Pedawa.



 



Ia menyebut, di Pedawa memang mengenal banyak sistem perkawinan. Selain Melaib Ngemaling, di Pedawa juga mengenal istilah Melaib Mepekirang, Melaib Metegteg, Melaib Ngangken, Melaib Ngerorod hingga Melaib Mebasa Tegeh.



 



Namun, sampai saat ini, tradisi perkawinan Melaib Ngemaling rupanya masih menjadi pilihan utama bagi masyarakat di Pedawa. Tradisi Melaib Ngemaling ini sudah dijalankan secara turun temurun oleh masyarakat Pedawa  dari masa ke masa. Bahkan kian dilestarikan meskipun di Bali saat ini mengenal sistem perkawinan seperti meminang.



 



“Melaib ngemaling dasarnya adalah suka sama suka. Sama sama saling mencintai. Namun di luar sepengetahuan pihak keluarga si Perempuan. Namun di Pedawa punya keyakinan, dulu kalau sampai diketahui oleh pihak keluarga perempuan, maka dianggap meremehkan pihak keluarga perempuan. Sehingga solusinya adalah kawin lari,” jelasnya kepada Bali Express.



 



Tradisi Melaib Ngemaling sebut Sukrata juga diyakini merujuk pada epos Mahabarata. Yakni dimana Dewi Rukmini kawin lari bersama Sri Kresna. Selain itu, adik Kresna yang bernama Diah Subadra juga kawin lari bersama Arjuna, lantaran suka sama suka dan tidak mendapat restu dari Kakak Subadra, Balarama.



 



Melaib Ngemaling tak melulu karea faktor hubungan yang tak direstui. Saat ini, meskipun kedua belah pihak baik keluarga perempuan dan pria sudah sama-sama merestui saat pasangan masih menjalin hubungan pacaran, namun tradisi Melaib Ngemaling masih tetap dilaksanakan.



 



“Sekarang mungkin pertimbangannya karena pria dan wanita sudah sama-sama dewasa. Pasangan ini juga didasari ata suka-sama suka, sehingga rela meninggalkan keluarga untuk membina rumah tangga,” imbuhnya.



 



Sukrata meyakini, tradisi ini adalah bentuk kebebasan dan kemerdekaan.bagi pihak perempuan. Pensiunan Guru Agama ini berasumsi pihak wanita sudah memiliki keberanian untuk menentukan hidupnya sendiri bersama calon suaminya.



 



Saat memutuskan kawin lari, si Perempuan sejatinya sudah berjanji untuk bertemu di sebuah tempat yang disepakati pada sore hari. Setelah bertemu dan dijemput, maka giliran utusan dari pihak laki-laki yang datang ke rumah perempuan untuk mengabarkan kepada keluarga perempuan jika yang bersangkutan kawin lari dan siap menjalani masa grahasta.



 



“Biasanya pihak laki-laki utusannya pasti membawa obor lengkap dengan banten pejati saat malam hari. Mereka menyampaikan jika si perempuan kawin lari. Jadi tidak usah lagi dicari,” ungkapnya. (bersambung)

Editor : Nyoman Suarna
#desa pedawa #balinese #buleleng