Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tempat Nunas Tamba, Pura Taman Ganter Punya Banyak Pemaksan

I Putu Suyatra • Minggu, 26 Desember 2021 | 17:08 WIB
NGAYAH: Parekan dan pemaksan dengan atribut baju poleng di Pura Taman Ganter, Selasa (21/12).
NGAYAH: Parekan dan pemaksan dengan atribut baju poleng di Pura Taman Ganter, Selasa (21/12).
MANGUPURA, BALI EXPRESS - Selain merupakan Pura yang belum pernah dipugar, Pura Taman Ganter yang berada di Banjar Adat Ganter, Desa Adat Mengwi, juga memiliki keunikan tersendiri.  Bahkan ada parekan dan pemaksan yang saat piodalan datang menggunakan baju poleng (loreng hitam dan putih).

Bendesa Adat Mengwi Anak Agung Gelgel mengatakan, di Pura Taman Ganter terdapat pelinggih yang merupakan stana dari Ida Betara Bayu. Kemudian karena sumber dari kekuatan dilambangkan dengan warna poleng.

“Sehingga dengan adanya hal tersebut para pengabih harus berpakaian poleng,” ujar Gelgel.

Menurutnya, dengan adanya pelinggih Ida Betara Bayu, banyak masyarakat yang memohon kesehatan. Hal itu dilakukan karena pada zaman dahulu belum dikenal adanya dokter.

“Setelah memperoleh tamba (obat) dan akhirnya sembuh, mereka berjanji akan menjadi parekan dan pemaksan. Dan itulah yang menjadikan mereka berpakaian poleng,” ungkapnya.

Hal senada juga disebutkan oleh Jero Mangku Pura Taman Ganter I Made Mandia. Ia menerangkan, jumlah parekan dan pemaksan sekitar ratusan orang. “Dulunya mereka ini adalah yang memohon tamba, saat memohon mereka berjanji jika berhasil sembuh akan menjadi pemaksan atau akan menjadi pengayah di Pura. Jumlah pemaksan ini sekitar 400 orang kemudian untuk parekan sejumlah 80 orang,” terang Jero Mangku Mandia di dampingi oleh Jero Mangku I Ketut Sandia.

Menurutnya, para parekan dan pemaksan ini akan ikut ngayah saat piodalan di Pura Taman Ganter. Selain itu para pengempon Pura Yang berjumlah 150 KK juga akan ikut ngayah.

“Memang kalau parekan setiap ada kegiatan di Pura akan ngayah, sementara untuk pemaksan mereka dapat ngayah saat kapan pun saat mereka bisa,” jelasnya.

Lebih lanjut Jero Mangku Mandia menambahkan, para parekan dan pemangsan ini kebanyakan berasal dari luar Banjar Ganter. Bahkan berasal dari beberapa wilayah, seperti Desa Adat Mengwi, Gulingan, Banjar Sayan, Kelaci, Suralaga, dan lain sebagainya.

“Biasanya mereka yang sebagai parekan dan pemaksan juga akan mengiring pelawatan ke Pura Taman Ganter, sekaligus akan napak pertiwi. Tapi kalau penyungsungnya berhalangan maka pelawatan atau sesuhunan mereka tidak diiring ke Pura,” imbuh Jero Mangku Sandia. Editor : I Putu Suyatra
#balinese #adat #pura #tradisi