DALAM Usada Bali, cara menanggulangi jenis ini tertuang dalam Lontar Usada Pemunah Cetik. Dalam lontar itu dibeber tentang bahan pembuat cetik, gejala atau tanda-tanda terkena cetik serta penawarnya.
Biasanya cetik dibuat oleh orang yang memiliki ilmu hitam, dibuat untuk mencelakai korbannya. Cetik menjadi senjata ampuh untuk membunuh manusia yang bahkan tidak dapat diidentifikasi penyakitnya dalam dunia medis. Tidak jarang, ilmu untuk menyakiti orang ini menjadi sarana untuk menjalankan egonya atau hanya sekedar untuk meningkatkan ilmu kediatmikannya si praktisi.
BACA JUGA: Sereh dan Air Kelapa Efektif sebagai Obat Cetik Gangsa
Bahan mentah cetik bisa tumbuh-tumbuhan, hewan, atau unsur-unsur kimia yang terdapat di alam. Salah satu jenis cetik yang mengandung unsur kimia adalah cetik kerikan gangsa, yang dibuat dari kerikan gangsa, dicampur dengan medang tiing gading dan medang tiing buluh. Bahan gangsa adalah perunggu yang merupakan campuran tembaga dan timah. Kedua logam tersebut memiliki toksisitas tinggi, sedangkan merang bambu bersifat iritatif.
“Tembaga dan timah tergolong dalam logam yang merupakan bahan berbahaya dan beracun. Keracunan tembaga dan timah dapat menyebabkan terjadinya gangguan neurologi, gangguan fungsi ginjal dan hati, bahkan kematian,” ujarnya praktisi usada Bali Gede Sutana.
Dalam Lontar Usada Pemunah Cetik, disebutkan bahwa penawar cetik kerikan gangsa tersebut menggunakan berbagai jenis tanaman. Jenis tanaman yang digunakan antara lain sereh, dan buah kelapa. Biasanya, pemberian cetik kerikan gangsa dapat dicampur dengan waluh kuning (labu kuning) untuk meningkatkan efek toksik. Labu kuning merupakan salah satu makanan yang memiliki kandungan tembaga yang sangat tinggi.
Selain mempergunakan sarana berupa labu yang diolah menjadi jajanan atau makanan juga terdapat cara lain yang dipergunakan untuk mentransformasi kerikan gangsa kepada orang atau calon yang disakiti. Pemindahan ini mempergunakan ilmu kediatmikan untuk mengubah benda padat menjadi gas, udara kemudian dipindahkan kedalam tubuh sasaran.
“Jadi ketika sampai kepada korban, benda tersebut diubah kembali menjadi benda padat yakni kerikan gangsa,” paparnya.
Lanjut Sutana, tanda-tanda terkena cetik kerikan gangsa dibedakan menjadi akut dan kronis. Gejala dan tanda akut dapat diamati dan dirasakan dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan, sedangkan gejala dan tanda kronis terjadi dalam kurun waktu lebih dari 6 bulan.
Gejala akut yang diderita pasien yaitu napas penderita berbau seperti bawang putih, batuk, sesak napas, kejang hingga koma. Ciri lainnya, sakit perut, mual, muntah, bahkan hingga muntah darah. Hal ini bisa diamati dari hasil pemeriksaan sel darah merah, pemeriksaan saluran pencernaan, pemeriksaan fungsi hati, tekanan darah turun.
Gejala kronis yang sangat spesifik apabila penderita terkena cetik kerikan gangsa biasanya terdapat garis-garis horizontal bersusun pada kuku.
“Gejala kronis lainnya yaitu tubuh penderita semakin kurus, kulit penderita berwarna kuning, tenaga penderita sangat lemah, dan batuk darah terus menerus. Tanda kronis dapat diamati dari hasil pemeriksaan fungsi hati, ginjal, jantung, paru-paru, dan sistem saraf,” imbuhnya. Editor : I Putu Suyatra