Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Mengumpulkan Solas Warna Air di Pedawa Sebagai Sarana Upakara

I Dewa Gede Rastana • Kamis, 3 Februari 2022 | 13:58 WIB
Areal Pura Telaga Waja di Desa Pedawa yang didalamnya terdapat Pura Tibu Derama (ISTIMEWA)
Areal Pura Telaga Waja di Desa Pedawa yang didalamnya terdapat Pura Tibu Derama (ISTIMEWA)
Desa Pedawa, Kecamatan Banjar memiliki tradisi yang berkaitan dalam menjaga kelestarian air melalui upacara. Seperti tradisi mengumpulkan sebelas warna mata air dan Tradisi Sabha Nyenukin. Keduanya sama-sama bertujuan untuk menjadikan air sebagai sarana ritual yang disakralkan.

Tokoh Adat Desa Pedawa, Wayan Sukrata, 68 mengatakan, tradisi mengumpulkan 11 warna air itu berasal dari 11 sumber berbeda. Tradisi ini tak hanya bermaksud menjadikan air sebagai sarana ritual semata. Tetapi juga sebagai sarana pelestarian air dan lingkungan.

Prosesi mempersembahkan 11 sumber air menjadi syarat sebelum dimulainya upacara atau ritual besar seperti pernikahan, kematian, dan upacara agama lainnya. Uniknya, sumber-sumber air ini berasal dari berbagai lokasi di areal Desa Pedawa.

“Untuk mengumpulkannya memang bukan hal yangmudah. Warga harus mempelajari ekosistem lingkungan sekitarnya seperti sungai, kebun, tebing, dan tanamannya,” ungkap Sukrata kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Dikatakan Sukrata, sebelas sumber air ini didapatkan dari, pertama, rongga atau empul buluh bambu terutama jenis lokal. Kedua, yeh paung batu atau air dari lubang batu, bisa batu apa saja asalkan ada genangan air di dalamnya.

Sumber yang ketiga, yakni dari paung bun atau lubang akar tanaman. Keempat, cacapan sember atau rembesan tepian sumur. Kelima, air belahan tukad atau ujung pertemuan dua sungai. Keenam, apit munduk atau cekungan di antara dua tanah tinggi. Ketujuh, yeh anyar atau air bersih dari pancuran.

Selanjutnya sumber kedelapan, yeh mare tumbuh atau air bersih yang baru keluar dari pangkal pancuran. Kesembilan, yeh lembuah atau air dari nasi yang didinginkan. Sepuluh, tunggal ampel atau air di bekas potongan bambu.

Sebelas, yeh ampel atau air di sisa potongan bambu. Jika upacara sudah dibuka dengan 11 warna air ini artinya menghormati pertiwi. Upacara ini dilakukan di rumah-rumah penduduk Desa Pedawa

Misal sebelum nikah, lima hari sebelumnya dilakukan ritual meneduhkan karang, untuk mengaktifkan energi. Ada juga tradisi mecaru, tapi ini setelah upacara ditujukan bagi energi bhuta kala untuk menyeimbangkan. Nah, air dari sebelas tempat inilah yang digunakan.

Sukrata menambahkan, untuk mendapatkan air dalam batang bambu, harus paham memiliki pengetahuan tentang pohon bambu. “Batang mana yang berisi kubangan air, apa ciri-cirinya, dan bagaimana cara mendapatkan airnya. Dengan demikian, maka secara tidak langsung seseorang harus mempelajari bagian pohon bambu,” ungkapnya. (bersambung) Editor : I Dewa Gede Rastana
#sarana upakara #desa pedawa #tradisi mengumpulkan tirta #tirta solas warna